Letnan Jenderal Fachrul Razi : "Bawa Peluru Tajam, Itu Kesalahan Besar" |
DI TENGAH citranya yang memburuk, ABRI kembali dihadapkan pada kasus Semanggi. Berbeda dengan kasus Trisakti, kali ini ABRI tampaknya bertekad untuk menguraikan kasus tersebut. Paling tidak, ini yang dikatakan Kepala Staf Umum ABRI Letnan Jenderal Fachrul Razi kepada Andari Karina Anom dari TEMPO. Berkemeja kotak-kotak hijau, Fachrul menjawab pertanyaan dengan santai di ruang kerjanya. Berikut petikannya:
Sudah sejauh mana penyidikan ABRI terhadap kasus Semanggi?
Proyektil yang diambil dari tubuh korban sudah diberikan oleh pihak rumah sakit. Seluruhnya ada empat paket, yang tiga tak bisa diidentifikasi karena hanya berupa serpihan logam yang mungkin berasal dari inti baja yang berada di dalam proyektil. Jadi, tidak ada mantelnya. Yang satu paket, biarpun bentuknya sudah tidak keruan, masih bisa diidentifikasi karena masih ada mantelnya. Mudah-mudahan dari sini bisa dilacak dari senjata mana peluru itu keluar. Ini tidak gampang. Tapi kita mencoba dengan menggelar satuan di lapangan untuk menemukan jam berapa korban jatuh, sehingga dapat diketahui kemungkinan SSK mana yang melakukannya. Baru kemudian senjatanya. Kita juga mengumpulkan foto-foto dan rekaman film sehingga bisa menindak anggota yang melakukan pelanggaran HAM. Di rekaman, terlihat ada anggota yang memukul mahasiswa. Padahal, tak ada aturan untuk memukul. Rekaman film itu sangat membantu. Para komandan peleton berkumpul untuk melihat rekaman itu sehingga mereka mengenali anggota yang menembak itu. Ada target waktu?
Tidak ada. Kita melakukan secepat mungkin sesuai dengan prosedur. Apakah prosedur yang dilakukan di lapangan sesuai dengan protap militer atau ada penyimpangan?
Pada dasarnya, peluru hampa bisa saja ditembakkan dengan tujuan membuat massa mundur. Peluru hampa sama sekali tak ada proyektilnya. Karetnya pun tidak ada. Yang ada hanya bunyinya. Penggunaan peluru karet ini ada tiga syarat. Saat jiwa prajurit atau orang lain terancam, penggunaan dilakukan atas perintah komandan di lapangan, dan peluru diarahkan ke bagian tubuh yang tidak mematikan, misalnya kaki. Peluru karet boleh ditembakkan dalam jarak 35 - 50 meter. Saya kira, mereka sudah dilatih berulang-ulang soal itu. Jadi, mestinya tidak boleh ada penyimpangan. Sampai batas apa dikatakan situasi mendesak?
Itu dipertimbangkan komandan di lapangan. Soal peluru tajam, jangankan menembak, membawa pun sudah merupakan suatu kesalahan. Itu tanggung jawab komandan di lapangan. Yang jelas, tidak pernah anggota diberi amunisi peluru tajam. Kalau ada yang membawa, mungkin sisa-sisa latihan. Itu juga suatu kesalahan besar. Biasanya, itu selalu dicek oleh pimpinannya. Tapi, situasi membuat aparat di lapangan menjadi emosional.?
Memang, ada pihak-pihak yang melihat petugas kami dilempari batu dan bom molotov oleh pengunjuk rasa. Namun itu bukan alasan untuk menjadi emosional. Seemosional apa pun, mereka tidak boleh mengeluarkan peluru tajam. Paling besar dilakukan dengan memukul, walaupun itu saja merupakan kesalahan besar. Sejauh ini, sudah bisa dideteksi kesatuan mana yang melakukan penembakan?
Kami masih mengumpulkan data dan bukti. Sesudah itu, baru kami akan mengumumkan. Dibandingkan dengan kasus Trisakti?
Kalau di Trisakti, meskipun semua yang kita temukan adalah proyektil yang masih ada mantelnya, tapi pengusutannya sendiri agak terlambat. Langkah menginventarisasi senjata menjadi sulit karena bisa saja yang bersangkutan mengganti senjatanya. Selain itu, saat itu pasukan sangat semrawut sehingga sukar dideteksi organisasi-organisasinya. Masyarakat menginginkan kasus ini cepat diungkap?.
Semua orang, termasuk ABRI. Kalau ada pihak-pihak yang meminta Pangab Wiranto mundur, itu jauh sekali. Bila ada anggota yang membawa dan menembakkan peluru tajam, urutan kesalahan ada pada anggota itu, komandan regu, komandan peleton, dan yang paling tinggi, komandan kompi. Kalau semua kesalahan anggota ditimpakan ke Pangab, mungkin tiap minggu bisa ganti-ganti Pangab. Lantas, bagaimana bentuk pertanggungjawaban ABRI?
Yang jelas, anggota itu dihukum berat. Lalu komandan regu, komandan peleton, dan komandan kompi. Aturan ini sangat kenyal. Tergantung situasi dan permasalahan per kasus. Jadi, tidak bisa kita menggeneralisasi berapa tingkat ke atas yang harus bertanggung jawab.
|