Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXIIIIIII/24 - 30 November 1998
   
Nasional

Api Bermula dari Ketapang

Gerombolan preman bentrok dengan warga Ketapang. Tapi mengapa massa lalu membakar sekolah dan gereja?

Ketenangan dan keamanan masih jauh dari Jakarta. Belum lagi api peristiwa Semanggi yang melalap belasan jiwa pada 13 November silam padam, kerusuhan berkobar lagi Minggu kemarin di kawasan Kampung Ketapang, Jakarta Barat. Ini suatu kampung padat di belakang pusat pertokoan Plaza Gajah Mada, dekat sentrabisnis kawasan Kota.

Kerusuhan bermula dari hal sepele. Dengarlah kisah Muchtar Wiganda, Ketua RW 01 Kelurahan Petojo Utara. Sabtu lalu, sekitar pukul 21.30, Ivan, salah seorang warganya, terlibat cekcok soal jatah parkir dengan penjaga keamanan tempat hiburan bola tangkas Mickey Mouse Enko di Jalan K.H. Zainul Arifin 11, Jakarta. Buntutnya perkelahian. Ivan pulang dengan tubuh babak-belur. Maklum, penjaga tempat hiburan yang umumnya berasal dari Ambon itu rata-rata bertubuh kekar.

Rupanya ayah Ivan, Zaenudin, tak terima. Begitu tahu anaknya dipukuli, ia lantas menyatroni para centeng itu. Tapi Zaenudin malah digebuki. Untung, Muchtar datang melerai perkelahian tak imbang itu. Pengelola Enko bahkan mengajak damai keluarga Zaenudin dan bersedia menanggung biaya pengobatan keduanya di Rumah Sakit Husada. Sampai di sini, persoalan selesai.

Siapa sangka esok harinya, sekitar pukul 05.30, lebih dari 100 orang yang kebanyakan warga keturunan Ambon tiba-tiba mendatangi Kampung Ketapang. Mereka berteriak-teriak sambil mengayun-ayunkan senjata tajam, menantang warga yang masih terlelap. Tak ada yang menggubris. Mereka lantas membabi buta menyerang siapa pun yang terlihat di sekitar Jalan Pembangunan I. Ronny Kurniawan, misalnya, dibabat selagi enak-enak tidur di sebuah warung. Muhamad Urfan, yang asyik lari pagi, tak luput jadi sasaran. Aksi brutal ini jelas salah sasaran. Soalnya, warga Pembangunan I sebenarnya tidak terlibat perkelahian. Ivan sendiri tinggal di Jalan Pembangunan III, sekitar 150 meter dari jalan itu.

Serangan fajar lalu merangsek jauh ke gang-gang permukiman. Paling tidak ada empat warga setempat jadi korban. Satu Honda Civic dan Daihatsu Zebra dirusak dan dibakar. Sepeda motor yang sedang parkir di depan Masjid Khairul Biqa pun ikut terlalap api. Masjid itu sendiri utuh, hanya beberapa kaca jendelanya pecah.

Warga yang mendengar ribut-ribut kontan bangun. Begitu sadar, emosi mereka pun meluap. Mereka ganti menyerang. Salah seorang dapat ditangkap tapi diselamatkan Habib Riziq Shihab, tokoh ulama setempat dan Ketua Front Pembela Islam. Teman-temannya mundur dan berkumpul di Enko.

Saat ditemui TEMPO Minggu sore kemarin, preman yang tertangkap itu mengaku bernama Tahan Manahan Simatupang dan sudah lama tinggal di Jakarta. Wajah dan matanya memancar dingin, mulutnya mengalirkan darah. Sesuai dengan kartu tanda penduduknya, pemuda berusia 22 tahun ini tercatat sebagai warga Jalan Cempakawarna, Cempakaputih, Jakarta Pusat. Tahan bercerita bahwa ia dan kawan-kawannya dibayar Rp 40 ribu per hari plus makan tiga kali untuk meneror umat Islam. Tentu saja, kisahnya sulit dikonfirmasi kebenarannya. Yang jelas, malam harinya Tahan tewas dalam kondisi mengerikan. Sebelah kupingnya terpotong dan--maaf--kemaluannya hilang. Kemungkinan ia memang dihajar massa lagi.

Bentrokan antara kaum pendatang dan warga Ketapang memanas sejak pukul 07.00 pagi. Ratusan orang mengepung Enko. Mendekati pukul 09.00 jumlah masa sudah melebihi seribu orang. Massa ternyata bukan cuma warga setempat, tapi juga dari kawasan Telukgong, Tanjungpriok, Tanahabang, Tambora, dan Tangerang, yang jauh dari asal peristiwa. Mereka berbekal senjata tajam semacam golok, parang, samurai, celurit, dan bambu runcing. Massa berkumpul di sana karena mendengar berita ada masjid dibakar.

Aparat keamanan segera bertindak. Pasukan dari PHH Kodam Jaya dan Yon 202 Jayakarta berdatangan dan memblokir "medan laga" di sekitar Jalan K.H. Zainul Arifin. Namun emosi massa telanjur mendidih. Mereka menjebol barikade dan menyerbu tempat hiburan itu. Orang-orang yang bersembunyi di dalam kontan lintang-pukang menyelamatkan diri. Sebagian berhasil melompat ke Gereja Kristus Ketapang yang terletak di sebelahnya. Sisanya lolos masuk ke Plaza Gajah Mada. Yang tertangkap dibantai massa. Hakim, tokoh pemuda setempat, mencatat paling tidak ada lima orang yang tertangkap masa dan tewas mengenaskan.

Menurut data dari kamar mayat RSCM, sampai Minggu malam ada 6 korban jatuh. Jumlah korban kemudian bertambah: Senin pagi ditemukan 7 orang hangus terbakar di gedung Enko. Celaka juga menimpa Dandim 0501 Jakarta Pusat Letkol Inf. Susiswo Widodo dan ajudannya, Kopral Marlan. Susiswo terpaksa diangkut ke rumah sakit dan mendapat 13 jahitan di kepalanya.

Situasi menjadi semakin brutal dan tak terkendali ketika massa kemudian merusak dan membakar Enko dan C&C, yang terletak di dekatnya. Gereja Kristus Tuhan Ketapang, yang berada tepat di antara kedua tempat hiburan itu, entah sengaja atau tidak, jadi sasaran perusakan dan pembakaran. Anehnya, para petugas tampak ragu-ragu mencegah pembakaran itu. Tentu saja warga seperti mendapat angin. Massa yang sudah anarkis melanjutkan aksi pembakaran ke Gereja Kristen Pantekosta tak jauh dari situ. Untung, sejumlah pemuda gereja berhasil memadamkan api.

Tapi amarah massa belum padam. Sebagian tetap mengepung Plaza Gajah Mada yang diduga menjadi persembunyian para preman, dan melemparkan batu sambil berteriak-teriak marah. Untunglah, sekitar pukul 11.00, satu satuan setingkat kompi Marinir turun ke lapangan. Kedatangan mereka berhasil mencegah gerakan massa yang hendak menyerbu dan mengobrak-abrik Plaza Gajah Mada.

Sebagian massa lainnya membelokkan aksi ke Gereja Katolik Bunda Hati Kudus, yang berada di dalam kompleks SMU Tarsisius I, di Jalan Hasyim Ashari. Lagi-lagi upaya mereka gagal karena dihalau petugas. Massa hanya sempat merusak dan membakar kendaraan yang berada di halaman gereja. Adapun sebagian massa yang semula berkerumun di depan Plaza Gajah Mada beralih ke Jalan Hayam Wuruk, di seberangnya. Dari sana, mereka bergerak membumihanguskan Gereja Kristen Santapan Rohani di Jalan Raya Tamansari 79. Dua mobil Kijang di pelatarannya bernasib sama. Kebakaran di lokasi ini gagal dicegah karena massa menghadang mobil pemadam kebakaran.

Sekitar pukul 13.30, api kerusuhan mulai mendidihkan kawasan Jakarta Pusat lainnya. Hotel Permata di Jalan Sukarjo Wiryopranoto dan tiga buah gereja lain di Jalan K.H. Samanhudi giliran diamuk dan dibakar. Anehnya, kompleks sekolah Santa Ursula di Jalan Pos, yang jaraknya hampir dua kilometer dari awal lokasi kerusuhan, juga dijadikan sasaran amuk. Massa merusak dan membakar bagian depan sekolah. Aksi ngawur ini hampir berlanjut ke Gereja Katedral. Untung, satu Pasukan Khas TNI Angkatan Udara menahan laju mereka. Gereja itu pun terhindar dari aksi perusakan.

Sampai Senin pagi, suasana di kawasan Ketapang dan Gajah Mada masih terasa mencekam. Hampir semua warga setempat bersiap-siap di depan gang sembari menggenggam senjata tajam. Mereka mencurigai setiap orang yang lewat. Tapi Pangdam Jaya Mayjen Djaja Soeparman menegaskan situasi sudah dapat diatasi dan tidak ada penjarahan.

Kenapa perkelahian seperti ini akhirnya merembet ke masalah SARA? Mungkinkan ada yang merekayasa? Tentu ini tugas aparat keamanan untuk mengungkapnya. Yang jelas, banyak pihak menyesalkan kerusuhan ini. Ketua Umum PBNU Abdurrahman Wahid dan Ketua Umum DPP PDI Megawati Soekarnoputri bahkan membuat pernyataan bersama yang isinya menyerukan agar seluruh komponen bangsa jangan mudah terpancing oleh isu apa pun yang bersifat SARA. Sementara itu, Forum Masyarakat Katolik Indonesia Keuskupan Agung Jakarta, dalam pernyataan yang ditandatangani oleh ketua umumnya, A.B. Susanto, mengharapkan agar masyarakat Katolik tetap tenang.

Tampaknya, belakangan ini ketenangan seperti enggan mampir di ibu kota ini.

Wicaksono, Arif A. Kuswardono, Iwan Setiawan, dan Wenseslaus Manggut


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
29/XXXVII/08 - 14 September 2008

 

Berita lainnya

Telkom Kalimantan Targetkan Sejuta Pelanggan - 08 Sep 2008 | 10:11 WIB
Formalin dan Rhodamin Ditemukan di Balikpapan - 08 Sep 2008 | 10:09 WIB
Oprah Winfrey Tolak Wawancara Palin - 08 Sep 2008 | 09:57 WIB
Motor Tabrak Mobil, Satu Cedera - 08 Sep 2008 | 09:57 WIB
Komisi Pemilihan Palembang Pleno - 08 Sep 2008 | 09:48 WIB
Motivasi Inggris Melawan Kroasia Bukan Balas Dendam - 08 Sep 2008 | 09:45 WIB
Eva Mendes Ogah Jadi Ibu - 08 Sep 2008 | 09:44 WIB
Indeks Asia Naik Setelah Pengambilalihan Freddie dan Fannie - 08 Sep 2008 | 09:44 WIB
Seribu Lebih Calon Jemaah Haji Datangi Istana - 08 Sep 2008 | 09:39 WIB
Lawan Georgia, Italia tanpa Gattuso - 08 Sep 2008 | 09:27 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data