Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXIIIIIII/24 - 30 November 1998
   
Nasional

Yang Gugur di Altar Sidang Istimewa

Sidang Istimewa MPR 1998 bisa juga disebut Sidang Haus Darah. Sidang ini sangat istimewa karena demi 700 wakil rakyat, 19 orang tewas. Bila data korban dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum itu sahih--Pangab Jenderal Wiranto mengklaim hanya lima orang yang meninggal--inilah sidang MPR yang menuntut "tumbal" paling banyak sepanjang sejarah Republik. Bendera setengah tiang dikibarkan di banyak rumah dan kantor. Spanduk dukacita dipasang di kampus-kampus. Radio-radio tiap sebentar mengumandangkan lagu Gugur Bunga yang menyayat kalbu. Luka hati yang dalam ini--seperti ditulis TEMPO edisi 10-16 November yang terbit sebelum MPR bersidang--bukan hanya sulit disembuhkan, tapi agaknya akan menimbulkan luka-luka baru. Dan tampaknya elite yang berkuasa tidak peka menghadapi kemungkinan yang tragis ini.

Di antara korban tewas, ada seorang anggota ABRI yang terjatuh dari mobil karena kecelakaan. Empat anggota Pengamanan Swakarsa menemukan ajalnya karena dikeroyok massa. Mereka, Budi Mara Sabesi, 23 tahun, Sulhan Lestahulu, 24 tahun (keduanya pengangguran) Iwan Nurlete, 35 tahun, dan Mansyur Ulu, 32 tahun (keduanya bekerja sebagai satpam). Para perantau dari Maluku itu tinggal di daerah Durensawit, Jakarta Timur, dan sehari-hari adalah "anak asuh" Ongen Sangaji, Ketua Umum Ikatan Silaturahmi Maluku Jabotabek.

Berikut profil dua dari enam mahasiswa yang gugur dalam tragedi Semanggi.

Bernadus Relianto Norman Irnawan

Wawan--begitu panggilan akrabnya--adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta. Pemuda kelahiran Jakarta 20 tahun lalu ini adalah anak pertama dari dua bersaudara keluarga Arif Priyadi, staf lembaga penelitian Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Wawan dikenal sebagai pemuda periang, supel, jujur, dan suka menolong teman. Ia juga aktif di kampus sebagai ketua Penelitian dan Pengembangan Badan Perwakilan Mahasiswa Atma Jaya periode 1997-1998.

Mahasiswa yang doyan membaca ini sedang berada di halaman kampus Atma Jaya ketika insiden Semanggi terjadi. Melihat seorang pengunjuk rasa terluka akibat peluru karet dan tergebuk pentungan aparat keamanan, Wawan, yang menjadi relawan dari pos komando kesehatan Atma Jaya, menolongnya. Tiba-tiba sebuah peluru menerjang bagian kiri dadanya. Dia tewas seketika di tempat kejadian sekitar pukul 16.00. Menurut Dr. Budi Sampurna dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dokter yang mengotopsi jenazah almarhum, ada sisa-sisa logam dalam tubuh Wawan.

Tedy Mardani

Tedy adalah satu-satunya anak tentara dari sejumlah korban yang tewas pada insiden Semanggi. Dia adalah mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Indonesia, Jakarta, dan bungsu dari empat bersaudara kelurga Kapten (Inf.) Eddy Syamsudin, anggota Kodam Jaya. Mahasiswa teknik ini dikenal pendiam tapi solider terhadap sesama teman, luwes bergaul dan aktivis kampus. Selain menjadi wakil ketua Himpunan Mahasiswa Mesin di fakultasnya, bujangan berusia 21 tahun ini juga berstatus sebagai anggota Presidum Senat Mahasiswa di kampusnya.

Tedy terdidik demokratis. Ayahnya, yang menganggap anak adalah kawan, sering berdiskusi dengannya secara terbuka. Kepekaan Tedy terhadap masalah politik terasah lewat diskusi dan aksi-aksi demonstrasi di kampus. Tumbuh sebagai anak yang kritis dan berkemauan keras, Tedy tak bisa dihalangi oleh ayahnya untuk ikut unjuk rasa mahasiswa saat Sidang Istimewa MPR berlangsung. Ketika terjadi insiden Semanggi, Tedy berada di sekitar kampus Atma Jaya. Dia tertembak sekitar pukul 15.00. Menurut salah seorang familinya, sebutir peluru keras mengenai bagian kanan punggung yang menembus leher dan rahang atas Tedy. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit Jakarta di kawasan Bendunganhilir, tapi Tedy tewas di tengah jalan. Jenazahnya dikuburkan di pemakaman umum Karet, Jakarta, dalam sebuah upacara yang dihadiri 5.000 pelayat.

KMN dan Iwan Setiawan


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data