Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXIIIIIII/24 - 30 November 1998
   
Lingkungan

Agar Tak Cuma Jadi Maskot

Populasi kera bekantan di Pulau Kaget tinggal 50 ekor. Matinya pohon rambai, makanan bekantan, diduga menjadi penyebabnya.

Di Jakarta, kera bekantan punya posisi penting: dijadikan maskot Dunia Fantasi. Di taman hiburan yang terletak di Jakarta Utara itu, bekantan--dalam wujud badut raksasa--bisa bergembira bersama anak-anak kecil. Tapi nasib bekantan di habitat aslinya, Pulau Kaget, Provinsi Kalimantan Selatan, tak seriang nasib "saudaranya" di Dunia Fantasi itu.

Di Pulau Kaget, yang terletak di tengah muara Sungai Barito, populasi kera berhidung panjang yang langka dan dilindungi ini kini diduga tinggal sekitar 50 ekor saja--kemerosotan yang tajam dibandingkan dengan jumlahnya yang masih ribuan pada beberapa tahun silam. "Paling tidak, setiap hari ada tiga sampai lima bekantan yang mati," kata Armani, salah seorang petani di Pulau Kaget.

Kisah sedih merosotnya populasi bekantan ini berkaitan erat dengan matinya pohon rambai, yang merupakan makanan khas bekantan, yang tumbuh di pulau itu. Saat ini pohon rambai yang tersisa tinggal beberapa puluh pokok saja, yang tampak berderet di ujung timur dan utara pulau. Selebihnya, di pulau seluas 267 hektare itu kini tampak sawah, pohon kelapa, dan semak belukar.

Menurut data di Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Kalimantan Selatan, pada Desember 1996 setidaknya 26,4 persen pohon rambai di Pulau Kaget mati. Sisanya, meski masih hidup, dalam keadaan merana, meranggas kekeringan.

Ada beberapa sebab yang melatarbelakangi hancurnya pohon rambai ini. Menurut Asep Akbar dan Herman Daryono dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kanwil Dephut Kalimantan Selatan, sudah lama akar pohon rambai "dijarah" penduduk setempat untuk dijual ke pabrik shuttlecock dan untuk pembuatan tutup botol atau dijadikan bahan bakar.

Tapi penyebab utama kerusakan rambai adalah akibat erosi di pulau itu karena gerusan Sungai Barito, yang kian hari kian deras. Pembabatan hutan besar-besaran di hulu sungai mengakibatkan arus air ke muara menjadi tinggi. Selain itu, menurut Asyikin Noor dari Wahana Lingkungan Hidup setempat, padatnya lalu lintas kapal pengangkut kayu dan bahan tambang di sungai itu memperparah erosi.

Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan sendiri bukan tidak bereaksi terhadap merosotnya populasi pohon rambai dan bekantan. Pada Januari 1997, Gubernur Hasan Aman membentuk Tim Koordinasi Penanggulangan dan Penyelamatan Cagar Alam Pulau Kaget, yang pada Februari 1997 menanam 1.100 pohon rambai. Namun, hanya dalam beberapa bulan, rambai muda segera mati karena pucuk daunnya yang baru tumbuh langsung menjadi santapan bekantan yang memang telah lama lapar.

Lalu, pemerintah juga mencoba mengevakuasi bekantan. Tapi upaya ini pun tidak banyak membawa manfaat. Sampai Agustus 1997, hanya 40 bekantan yang bisa dipindahkan. Sepuluh ekor dibawa ke kebun binatang Surabaya dan sisanya disebar ke beberapa pulau di sekitar Pulau Kaget, seperti Pulau Bakut, Burung, Muaraanjir, Tempurung, dan Muarapunduk.

Namun, pemindahan bekantan ternyata bukan solusi yang tepat untuk primata ini. Soalnya, binatang dengan nama latin Nasalis narvatus ini termasuk binatang yang liar dan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Hidung bengkoknya yang memanjang ke bawah sangat peka terhadap sentuhan manusia. "Dalam banyak kasus migrasi, bekantan jarang berkembang biak, bahkan berakhir dengan kematian," ujar Armain Djanit, Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Lingkungan Kalimantan Selatan.

Karena itulah, untuk menyelamatkan kera yang berat dewasanya 22,5 kilogram ini, beberapa kalangan menilai kebijakan yang perlu diambil adalah mengubah seluruh kawasan Pulau Kaget menjadi suaka margasatwa. Memang hanya 85 hektare--di bagian selatan pulau--yang dijadikan daerah cagar alam. Sisanya menjadi lahan pertanian penduduk yang juga memanfaatkan hutan rambai sebagai mata pencaharian.

Upaya membebaskan lahan Pulau Kaget bukan tidak pernah dilakukan. Menurut Gubernur Armain Djanit, pemerintahnya pernah meminta bantuan ke Departemen Kehutanan untuk melaksanakan pembebasan tersebut. Tapi sampai saat ini belum ada jawaban dari Jakarta.

Jika rencana itu akan dijalankan, dana yang dibutuhkan untuk pembebasan tanah setidaknya Rp 400 juta. Itu pun jika ke-300 petani yang menggarap lahan pertanian di Pulau Kaget itu--sejak zaman Jepang--bersedia pindah. Dan tampaknya itu sulit. "Janganlah kami dikorbankan demi bekantan. Kami hidup dari makan nasi, bukan makan bekantan," ujar Mesasi Saleh, salah seorang petani.

Persoalan memang kemudian menjadi rumit. Petani tak ingin kehilangan mata pencahariannya, sementara kera langka itu harus dijaga agar tak punah.

Yang jelas, keputusan harus segera dibuat. Jika tidak, hewan ini mungkin cuma tinggal jadi-jadiannya di Dunia Fantasi, dalam bentuk boneka atau topeng yang dimainkan manusia.

Arif Zulkifli, Almin Hatta (Banjarmasin), I G.G. Maha Adi (Jakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data