Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXIIIIIII/24 - 30 November 1998
   
Kesehatan

Pijat Lebih Murah

Menurut beberapa peneliti, pijat membuat sistem kekebalan tubuh meningkat. Tapi bagaimana mekanismenya belum diketahui. Atau karena efek psikologis saja?

BARANGKALI Diah bisa digolongkan seorang "maniak" pijat. Dalam beberapa tahun terakhir ini manajer di sebuah perusahaan barang kebutuhan sehari-hari itu rutin melakukan pijat. Sedikitnya dua minggu sekali. Ia yakin, kebugaran tubuhnya bukan hanya karena ia rajin berolah kebugaran atau menyantap makanan sehat dan bergizi, tapi juga karena kebiasaan pijatnya itu. Soalnya, sebelum rajin pijat ia tak pernah merasakan kebugaran seperti yang kini ia rasakan.

Agaknya Diah tak berlebihan. Ternyata, pijat memang bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Seperti dilaporkan ABC News, dalam pertemuan tahunan asosiasi terapi pijat Amerika, AMTA, akhir Oktober lalu di Washington D.C., diperlihatkan studi para peneliti yang membuktikan adanya peningkatan kandungan darah putih--komponen untuk melawan penyakit--orang-orang yang dipijat. Begitu pula aktivitas sel-sel pembunuh alamiah yang juga meningkat.

Studi terbesar tentang efek pijat terhadap peningkatan kekebalan tubuh dilakukan tahun 1996 oleh para dokter di Touch Research Institute di University of Miami, Amerika Serikat. Mereka menguji 29 pria yang positif mengidap virus penyebab AIDS, HIV. Selama satu bulan pria-pria itu dipijat tiap hari. Hasilnya, jumlah sel pembunuh alamiah dan aktivitas dalam sel mereka meningkat tajam.

Efek serupa juga terlihat pada sebuah studi yang dilakukan Diane Zeitlin, peneliti di Kessler Medical Rehabilitation and Education Corporation di West Orange, New Jersey, Amerika. Kali ini subyeknya adalah sembilan mahasiswa kedokteran yang tengah stres. Sampel darah mereka diambil sebelum dan sesudah pemijatan. Ternyata, sel darah putih dan sel pembunuh alamiah dalam lima sampel meningkat.

Penelitian yang lebih serius dilakukan terhadap 20 pasien kanker oleh Touch Research Institute. Penderita kanker itu dibagi ke dalam dua kelompok. Kepada sepuluh orang di grup pertama diberikan terapi pijat: tiga kali seminggu selama lima pekan. Sepuluh sisanya hanya disuruh menonton video relaksasi. Hasilnya, sistem kekebalan 80 persen anggota kelompok pertama membaik. Sedangkan di kelompok kedua, hanya 30 persen yang sistem kekebalannya membaik.

Lalu bagaimana mekanismenya sehingga pijat bisa meningkatkan kekebalan tubuh? Ini yang masih belum jelas. "Memang ada pertanyaan apakah hasil itu dikarenakan orang yang dipijat memang berharap sembuh atau sekadar efek psikologis," kata Presiden Yayasan AMTA, Janet Kahn. Menurut Michael Ruff, pakar sistem kekebalan tubuh dan guru besar di Georgetown University Medical School, studi tentang pijat memang belum ada yang dapat menunjukkan secara jelas bagaimana pijat dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Selama ini juga belum ada satu pun studi yang menyatakan bahwa pijat mempercepat proses penyembuhan orang sakit.

Menurut Soetrisno, pengajar teori dan praktek pijat dari Fakultas Pendidikan Olahraga Kesehatan IKIP Jakarta, pijat memang dapat berfungsi untuk pengobatan. Berdasar pengalamannya memijat sejak 1961, pijat bisa menyembuhkan bagian tubuh yang bengkak, tangan yang tak bisa diangkat, tubuh yang sakit bila berjongkok, dan sebagainya. Tapi, untuk penyakit berat, ia memang belum pernah mendengar itu bisa disembuhkan dengan pijat sistem Swedia, yang ia tekuni dan dipakai dunia internasional.

Klaim pijat sebagai pengobatan penyakit yang tergolong berat biasanya disuarakan para pemijat refleksi--teknik memijat titik-titik saraf pada kaki atau tangan. Ies Aryadi, tukang pijat refleksi sejak 1983, mengatakan bahwa pijat refleksi bisa menyembuhkan 136 jenis penyakit. Tentu saja semua ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah.

Lain lagi sikap Hariono, pemilik griya pijat terkenal di Jakarta, Bersih-Sehat, yang bahkan sama sekali tidak mau mempromosikan bahwa pemijatan bisa menyembuhkan penyakit tertentu. "Kalau ada karyawan saya yang mempromosikan itu, bisa kena sanksi keras," kata pemilik tiga griya pijat yang memang diarahkan untuk pemijatan penghilang rasa lelah itu.

Toh ia menyimpulkan, pemijatan bisa dijadikan alternatif medis. Ini jika dibandingkan dengan obat-obatan, pijat lebih murah, bebas bahan kimia, dan memberi rasa nikmat. Flu, misalnya, bisa dilawan dengan pijat dan istirahat seperlunya. Kenapa juga harus minum obat?

Wicaksono dan Dwi Wijana


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data