Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXIIIIIII/24 - 30 November 1998
   
Kritik

Tentang Annisa 34

Di surat pembaca TEMPO 3-9 November 1998, Saudara Rustiyeni Patmisari, S. Sos. menyatakan keraguannya akan keabsahan kepemimpinan Megawati Soekarnoputri ditinjau dari sudut Islam, khususnya mengacu kepada Quran surat Annisa ayat 34. Dalam Quran surat Annisa ayat 34 dinyatakan: "Kaum laki-laki itu adalah qawwamun (pemimpin) bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian lain, dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka...."

Yang menarik adalah argumen para mufasir (penafsir Quran) sehubungan dengan superioritas laki-laki atau suami. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa ada dua alasan laki-laki (suami) qawwamun atas perempuan. Pertama ialah "karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian lain". Kedua ialah "karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari sebagian hartanya".

Alasan pertama adalah ungkapan umum karena Quran tidak menyebutkan rincian kelebihan laki-laki atas perempuan. Yang dinyatakan Quran juga bukan semua laki-laki memiliki kelebihan atas semua perempuan, melainkan sebagian saja (ba'dhahum ala ba'dl). Alasan kedua dinyatakan lebih jelas, yakni superioritas laki-laki atas perempuan karena pihak pertama memberikan nafkah pada pihak kedua. Dengan kata lain, keunggulan suami terjadi karena yang bersangkutan memiliki aset kekayaan yang mampu menghidupi istri. Para mufasir menjelaskan bahwa memberikan nafkah yang dimaksud adalah pemberian mahar (emas kawin) dan belanja kebutuhan istri dan keluarga.

Perlu kita perhatikan bahwa Annisa ayat 34 hanya menegaskan kelebihan sebagian laki-laki atas sebagian lain. Quran sama sekali tidak menyatakan bahwa semua laki-laki otomatis memiliki kelebihan atas semua perempuan. Karena itu, menurut Quran, kelebihan atau keunggulan tersebut tidaklah bersifat absolut melainkan bersifat relatif. Dengan ungkapan Quran: "Allah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian (lain)" secara implisit menyatakan bahwa sebagian perempuan pun sangat mungkin memiliki kelebihan atas sebagian laki-laki.

Penegasan Quran bahwa laki-laki adalah qawwamun atas perempuan, karena pihak pertama memberikan nafkah kepada pihak kedua (hima anfaqu min amwalihim) menunjukkan superioritas itu tidaklah bersifat bawaan sejak lahir, melainkan faktor kemampuan ekonomi. Karena dasar superioritas itu adalah kemampuan ekonomi, kelebihan laki-laki atas perempuan bersifat kasbi (bukan bawaan). Karena bersifat kasbi, perempuan memperoleh peluang yang sama dengan laki-laki dalam memperoleh superioritas dalam keluarga maupun masyarakat.

Pemikir muslim kontemporer, Fazlur Rahman, menyatakan bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan dalam Annisa ayat 34 bukanlah perbedaan hakiki melainkan fungsional. Artinya, jika seorang istri dapat berdiri sendiri di bidang ekonomi--karena warisan atau usahanya--dan memberikan sumbangan bagi kepentingan rumah tangga, keunggulan suaminya akan berkurang karena sebagai manusia ia tidak memiliki keunggulan dibandingkan dengan istrinya.

Sementara itu, menurut Asghar Ali Engineer, pernyataan Quran bahwa "laki-laki adalah qawwamun atas perempuan" sesungguhnya merupakan pengakuan bahwa dalam realitas sejarah, kaum perempuan pada masa itu sangat rendah, dan pekerjaan domestik dianggap kewajiban perempuan. Sementara laki-laki menganggap dirinya sendiri lebih unggul karena kekuasaan dan kemampuan mereka mencari nafkah untuk perempuan. Quran menggambarkan situasi sosial itu. Menurut Ali, yang perlu diperhatikan bahwa Quran hanya mengatakan "Laki-laki adalah qawwam (pemberi nafkah atau pengatur urusan keluarga) dan tidak mengatakan laki-laki harus menjadi qawwam. Menurut Asghar Ali, laki-laki adalah qawwam merupakan pernyataan kontekstual, bukan normatif.

Karena itu, Annisa ayat 34 tidak bisa dijadikan dasar untuk menekankan superioritas laki-laki atas kaum perempuan. Penafsiran Quran harus dibebaskan dari prasangka gender. Pemahaman Quran harus memberikan pencerahan harapan di masa kini dan masa depan, bukannya digunakan sebagai alat religius untuk menghalangi pengharapan kaum perempuan. Bukankah zaman Rasullulah adalah zaman kesederajatan? Bukankah di antara mereka terdapat Siti Khadijah, Siti Aisyah, dan Siti Fatimah model ideal kaum muslimat pada zaman awal Islam?

RAFINA M. HARAHAP
Jalan Bugenvil Blok Z VlI7
Taman Cimanggu,
Bogor 16710


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data