|
Menonton televisi (swasta) Indonesia saat ini rasanya semakin membosankan. Kalau "nonton" berita, paling isinya polemik, orangnya itu-itu juga. Maunya menyajikan berita secepat-cepatnya, sehingga di layar televisi kita bolak-balik melihat narasumber (yang itu-itu lagi) diburu, dirubung para wartawan, dan sebagainya. Agenda pemberitaan hari ini bisa jadi berbeda dengan yang kemarin. Hal ini seiring dengan timbul-tenggelamnya pemberitaan kasus-kasus tersebut. Anehnya, penyelesaian kasus-kasus itu pun menjadi tak jelas. Dengan demikian, para reporter berebutan merubung narasumber lagi, untuk kasus yang lain lagi. "Satu masalah belum selesai, timbul kasus lain lagi", demikian ujar ibu saya. Memang, selama ini mereka ikut arus saja, apa yang terjadi, itulah bahan beritanya. Mereka belum pernah melakukan investigasi, sebagaimana diungkapkan oleh Atmakusumah Astraatmadja, seorang tokoh pers kita.
Di luar siaran berita, yang menonjol adalah sinetron lokal yang tema ceritanya juga menjemukan. Paling percintaan, pertengkaran, dan balas dendam. Daripada menonton peran konyol bintang-bintang sinetron yang "kemayu dan gemagus" itu, saya mungkin lebih senang sakit gigi saja. Kayak lagunya Meggy Z. itu. Layar kaca kita sudah menjadi ajang pamer wajah-wajah manis, busana mahal, serta rumah dan mobil mewah.
Dengan segala hormat, apakah mereka, stasiun televisi swasta itu, tak punya materi tayang lain lagi? Dengan berbagai keprihatinan saat ini, mengapa Departemen Penerangan meloloskan tayangan semacam itu? Dalam kondisi krisis begini, televisi menjadi satu-satunya alternatif hiburan. Jika "media hiburan" itu pun ternyata melulu memperlihatkan gaya hidup "orang-orang besar" kita yang glamor, selfish, dan bermewahan itu, ke mana lagi kita menghibur diri?
Bila gambaran kehidupan Indonesia dari hari ke hari dapat diwakili dari tayangan di kotak ajaib itu, alangkah sedihnya Ibu Pertiwi. Bahwa bangsa ini sedang dilanda krisis, itu jelas fakta yang menyedihkan. Namun, jika kenyataan itu diperparah dengan sulitnya mendapatkan media penghibur yang benar-benar menghibur, tentu ironis sekali. "Indonesia sudah hilang", kata bapak saya. Ya, kita sulit mendapati wajah Indonesia di televisi kita.
SURANTO ADI WIRAWAN Alamat lengkap pada Redaksi
|