Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXIIIIIII/24 - 30 November 1998
   
Kritik

Indonesiaku Sudah Hilang

Menonton televisi (swasta) Indonesia saat ini rasanya semakin membosankan. Kalau "nonton" berita, paling isinya polemik, orangnya itu-itu juga. Maunya menyajikan berita secepat-cepatnya, sehingga di layar televisi kita bolak-balik melihat narasumber (yang itu-itu lagi) diburu, dirubung para wartawan, dan sebagainya. Agenda pemberitaan hari ini bisa jadi berbeda dengan yang kemarin. Hal ini seiring dengan timbul-tenggelamnya pemberitaan kasus-kasus tersebut. Anehnya, penyelesaian kasus-kasus itu pun menjadi tak jelas. Dengan demikian, para reporter berebutan merubung narasumber lagi, untuk kasus yang lain lagi. "Satu masalah belum selesai, timbul kasus lain lagi", demikian ujar ibu saya. Memang, selama ini mereka ikut arus saja, apa yang terjadi, itulah bahan beritanya. Mereka belum pernah melakukan investigasi, sebagaimana diungkapkan oleh Atmakusumah Astraatmadja, seorang tokoh pers kita.

Di luar siaran berita, yang menonjol adalah sinetron lokal yang tema ceritanya juga menjemukan. Paling percintaan, pertengkaran, dan balas dendam. Daripada menonton peran konyol bintang-bintang sinetron yang "kemayu dan gemagus" itu, saya mungkin lebih senang sakit gigi saja. Kayak lagunya Meggy Z. itu. Layar kaca kita sudah menjadi ajang pamer wajah-wajah manis, busana mahal, serta rumah dan mobil mewah.

Dengan segala hormat, apakah mereka, stasiun televisi swasta itu, tak punya materi tayang lain lagi? Dengan berbagai keprihatinan saat ini, mengapa Departemen Penerangan meloloskan tayangan semacam itu? Dalam kondisi krisis begini, televisi menjadi satu-satunya alternatif hiburan. Jika "media hiburan" itu pun ternyata melulu memperlihatkan gaya hidup "orang-orang besar" kita yang glamor, selfish, dan bermewahan itu, ke mana lagi kita menghibur diri?

Bila gambaran kehidupan Indonesia dari hari ke hari dapat diwakili dari tayangan di kotak ajaib itu, alangkah sedihnya Ibu Pertiwi. Bahwa bangsa ini sedang dilanda krisis, itu jelas fakta yang menyedihkan. Namun, jika kenyataan itu diperparah dengan sulitnya mendapatkan media penghibur yang benar-benar menghibur, tentu ironis sekali. "Indonesia sudah hilang", kata bapak saya. Ya, kita sulit mendapati wajah Indonesia di televisi kita.

SURANTO ADI WIRAWAN
Alamat lengkap pada Redaksi


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Hillary Clinton Tolak Pencalonan McCain dan Palin - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Introspeksi Gaya PSP - 05 Sep 2008 | 11:12 WIB
Sejumlah Calon Legislator Dicalonkan Dua Partai - 05 Sep 2008 | 11:11 WIB
Kecelakaan Beruntun di Tol Cibitung, Satu Polisi Luka Parah - 05 Sep 2008 | 11:01 WIB
Badan Kehormatan DPR Tak Sempat Periksa Agus Condro - 05 Sep 2008 | 10:58 WIB
Spanyol Pakai Pengalaman Indah Euro 2008 - 05 Sep 2008 | 10:52 WIB
Ucapan Selamat Untuk Pasangan Alex dan Eddy - 05 Sep 2008 | 10:49 WIB
Djokovic Musnahkan Impian Roddick - 05 Sep 2008 | 10:48 WIB
Gaya Ramah Lingkungan   - 05 Sep 2008 | 10:38 WIB
Penjualan Kendaraan di Inggris Turun - 05 Sep 2008 | 10:29 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data