Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXIIIIIII/24 - 30 November 1998
   
Kritik

Partai Islam: Bersatulah di PPP

Seiring dengan maraknya pendirian partai baru, tak kurang dari 15 partai yang berlabel Islam telah berdiri. Di satu sisi, ada kemajuan umat untuk berpolitik, tapi di sisi lain ada gambaran perpecahan di antara tokoh Islam yang tembus ke lapisan paling bawah. Semua itu akibat ego para deklarator partai itu sendiri, karena merasa pintar dan mempunyai masa lalu, mendirikan partai tak memikirkan ekses pada umat yang ada di bawah. Ini kenyataan yang saya hadapi. Kalau dulu menjelang kampanye PPP mereka begitu kompak. Kini saat diajak dialog soal partai Islam, semua bingung bahkan terkadang apriori. Dan kini dalam satu majelis taklim mereka sudah mulai saling menyindir. Begitulah kondisi masyarakat awam. Itu riil. Buat mereka, berbeda partai sudah berbeda sikap. Saya khawatir saat kampanye nanti mereka bentrok.

Orde reformasi sebetulnya peluang terbaik buat kita. Insya Allah, pemilu lebih jujur dan adil serta luber (langsung, umum, bebas, dan rahasia). Alangkah baiknya bila kita semua mendukung PPP, yang selama lebih kurang 25 tahun menjadi milik umat Islam, dan sampai kini konsisten memperjuangkan aspirasi umat. Di samping itu ada beberapa keuntungan. Pertama, bisa menghemat biaya karena sudah mempunyai sekretariat dewan pimpinan wilayah, dewan pimpinan cabang, serta komisaris kecamatan di seluruh Indonesia. Biaya deklarasi partai baru yang mencapai ratusan juta sebaiknya dibelikan sembako buat saudara kita. Kedua, sudah mempunyai salam khas partai, yakni angka satu. Ketiga, sudah mempunyai basis massa yang militan hampir di seluruh kota. Apalagi bila hasil muktamar nanti gambar bintang diganti dengan Ka'bah sebagai simbol persatuan umat. Sungguh tak terbayang dahsyatnya. Sayang, bila semua itu menjadi berantakan karena kegenitan Bapak yang di atas.

Untuk Bapak Deliar Noer, Amien Rais, Yusril, Syukron, Yusuf Hasyim, dan yang lain, tolong pikirkan kondisi umat yang di bawah. Alangkah manisnya bila Bapak bersatu, dalam arti satu bendera. Kalau bersatu, rasanya sulit dikalahkan.

SUHANDI
Jalan Alexindo 15, Pondokungu
Bekasi Barat 17132


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data