Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXIIIIIII/24 - 30 November 1998
   
Investigasi

Mereka yang Menentang Sidang Sandiwara

Mereka menolak MPR, menolak Habibie, dan mengusulkan Komite Rakyat.

Forum Kota atau Forkot tiba-tiba menjadi buah bibir. Bahkan ketika perhelatan Sidang Istimewa MPR yang berdarah-darah itu usai. Letnan Jenderal (Purn.) Achmad Tirtosudiro, Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), menuduh kelompok itu merupakan salah satu elemen yang merencanakan makar terhadap B.J. Habibie.

Sejarahnya, Forkot dibentuk setelah para mahasiswa yang sudah biasa berdemonstrasi bertemu di Kampus Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), Jagakarsa, Jakarta Selatan, 11 Maret 1998. Kala itu, memang unjuk rasa menentang Soeharto masih dianggap "barang mewah", hanya sekelompok kecil yang berani melakukannya. "Rombongan kami datang ke kampus-kampus yang tidak berani melakukan demo untuk mem-back-up dan memberi kekuatan moral pada sekelompok kecil pendemo di kampus itu, semacam arisan demolah,?? kata seorang anggota Forkot.

Sejak "arisan" itulah, muncul nama-nama kampus yang sebelumnya tak pernah dikenal sebagai "sarang" demonstran. Kampus Universitas Sahid, Borobudur, Kertanegara, Akademi Bahasa Asing (ABA-ABI) akhirnya juga bersuara menentang pemerintahan Soeharto. Bahkan di kampus Universitas Sahid, Jakarta, Forkot memiliki ruangan sendiri, lengkap dengan telepon dan faksimile. Agenda utama Forkot waktu itu, turunkan harga dan reformasi total. Pada 2 Mei 1998, mereka sudah berani unjuk rasa untuk menurunkan Soeharto dari kursi presiden.

Turunnya Soeharto bukan berarti demonstrasi usai. "Karena turunnya Soeharto bukan berarti masalah sudah selesai. Soeharto hanyalah salah satu poin dari reformasi total,?? kata Eli Salomo, mahasiswa Teknik Elektro ISTN. Reformasi yang diinginkan Forkot adalah mengembalikan kedaulatan kepada rakyat. Forkot menganggap Habibie masih bagian dari era Soeharto, yang juga tak mampu menyelesaikan krisis ekonomi dan politik di negeri ini.

Untuk menentang Habibie itulah Forkot meluncurkan program Komite Rakyat Indonesia (KRI). Selama komite itu belum terbentuk, segala kegiatan politik yang dilakukan pemerintahan Habibie dianggap tidak sah. Karena itulah mereka menentang dilaksanakan SI MPR lalu. "Kalau kami mengikuti agenda pemerintahan Habibie, berarti kami mengakuinya, padahal Habibie tidak mendapatkan legitimasi dari rakyat. Lihat saja, SI MPR hanyalah pentas drama. Buktinya, dwifungsi ABRI tidak bisa dicabut, dan Soeharto juga tidak bisa diadili,??ujar Eli.

Jaringan Forkot pernah mencapai 53 kampus dan satu kelompok pelajar. Dalam perjalanannya, Forkot banyak dimanfaatkan orang, namanya "dijual" untuk mendapatkan dana dari tokoh-tokoh pengusaha prodemokrasi. Misalnya, dana yang diakui Arifin Panigoro untuk menyumbang Forkot ternyata tak pernah sampai ke tangan para mahasiswa. "Forkot adalah organ gerakan yang tetap bersih, kami memperoleh dana dari sumbangan mahasiswa di kampus-kampus," kata Abdullah, bekas aktivis Forkot yang sejak Oktober lalu membentuk kelompok baru, Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred).

Famred, menurut Abdullah, berbasis di 17 kampus, dengan massa 10 ribu orang, merupakan bentuk lunak dari Forkot. Tapi agenda Famred sama dengan induknya. "Ide perjuangan kami sama, hanya cara yang membedakan kami,?? kata Abdullah, mahasiswa IKIP Jakarta. Karena pecah kongsi, Forkot kini hanya punya jaringan di 25 kampus. Tetapi pada saat SI MPR berlangsung, 50 bus yang ditumpangi massa Forkot tampak berkeliling Kota Jakarta. Sampai akhirnya tumplek di dekat Gedung Manggala Wana Bhakti, beberapa ratus meter dari gedung tempat para "wakil rakyat" bersidang.

Selain Forkot dan Famred, kelompok yang cukup besar menentang SI MPR adalah Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta (FKSMJ) dan Koalisi Nasional yang dipimpin Ratna Sarumpaet. FKSMJ adalah kelompok lama yang sempat terkubur dan baru bangkit setelah "dirangsang" dengan kehadiran Forkot. Kelompok lain yang lebih kecil tetapi ikut menyesaki jalan-jalan kota Jakarta untuk menggoyang Habibie dan mengkeroyok SI MPR, ada Front Nasional, Forum bersama (Forbes), Parlemen Mahasiswa Indonesia (Parmi), Komite Mahasiswa dan Rakyat untuk Demokrasi (Komrad), dan lain-lainnya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Kapolda Jawa Barat Copot Dua Kapolsek - 05 Sep 2008 | 21:29 WIB
Bupati Aceh Besar Mengundurkan Diri - 05 Sep 2008 | 21:19 WIB
Guru Tolak Aturan Pendanaan Pendidikan - 05 Sep 2008 | 21:16 WIB
Fernando Alonso Kuasai Free Practice 2 - 05 Sep 2008 | 21:07 WIB
Al Amin Mengaku Tak Berpengaruh di Komisi Kehutanan DPR - 05 Sep 2008 | 21:02 WIB
Kapolda Jawa Barat Mengaku Ditawari Suap Rp 10 Miliar - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Hughes Bersumpah Jadikan City Raksasa Eropa - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Bupati Aceh Besar Mundur, Surat ke Menteri Ditulis Tangan - 05 Sep 2008 | 20:44 WIB
Simulasi Pemilihan 2009 Dinilai Tak Efektif - 05 Sep 2008 | 20:40 WIB
Bapepam Akan Gugat Eurocapital - 05 Sep 2008 | 20:32 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data