Komedi Shakespeare tanpa Puisi Teater Watermill dari Inggris menampilkan komedi Shakespeare tentang kebingungan identitas dua pasang saudara kembar. Puisi Shakespeare hilang, yang tampil adalah guyon. |
Comedy of Errors Karya William Shakespeare Dipentaskan : Teater Watermill, Inggris Sutradara : Edward Hall Tempat : Graha Bhakti Budaya, TIM Waktu : 21-22 November 1998
Shakespeare adalah puisi. Sebanyak 17 drama komedi, 10 drama tragedi, 10 drama sejarah, dan ratusan puisi soneta karya Shakespeare dengan sendirinya adalah serangkaian puisi dunia yang telah diterjemahkan dan diinterpretasikan dalam ratusan bahasa di atas ribuan panggung. Karena itu, ketika Shakespeare tampil "tanpa" atau "absen" dari kekuatan puitik, seperti yang terjadi pada Comedy of Errors yang dipentaskan Teater Watermill, Inggris, di Taman Ismail Marzuki akhir pekan lalu, yang kemudian terjadi seolah-olah adalah sebuah "pengkhianatan".
Comedy of Errors adalah naskah drama komedi Shakespeare yang dipublikasi dan dipentaskan tahun 1592, setahun setelah Shakespeare menampilkan Henry VI sebagai drama sejarahnya pertama kali ke publik. Drama ini berkisah tentang Egeon, saudagar Syracuse, yang berputra kembar dan masing-masing diberi nama Antipholus. Egeon memberikan pelayan kembar yang masing-masing juga bernama Dromio. Sebuah perjalanan pesiar yang diakhiri kecelakaan menyebabkan keluarga itu terpisah. Egeon berhasil menyelamatkan Anthipholus dan Dromio bungsu, sedangkan istri Egeon, Anthipholus, dan Dromio Sulung menghilang.
Di antara proses pencarian saudara kembar dan pasangan suami-istri itu selama bertahun-tahun, terjadi kesalahpahaman identitas. Seyogianya, komedi itu muncul saat penduduk menyangka sang abang adalah sang adik dan sebaliknya, sehingga terjadi kebingungan identitas.
Tentu saja, berbeda dengan drama tragedi Shakespeare terkemuka seperti Hamlet, Macbeth, King Lear, dan Othello, drama komedi Shakespeare memang cenderung lebih ringan, sederhana, melibatkan tokoh yang tidak terlalu banyak dan ragam, dan yang penting memiliki akhir yang menyenangkan. Tapi itu tidak berarti kemudian sebuah adaptasi atau saduran harus jatuh menjadi karya yang cair.
Teater Watermill, seperti juga yang pernah dilakukan N. Riantiarno dengan Teater Koma tahun 1984 dalam Opera Salah Kaprah, menggunakan musik, prop panggung dengan warna meriah dan guyon-guyon kontemporer dalam adaptasi komedi ini. Riantiarno pernah menulis, "Shakespeare tidak harus selalu dengan puisi". Memang naskah Shakespeare sangat lentur dan universal sehingga penulis naskah drama mana pun selalu merasa berhak memindahkan seting, lokasi, ataupun bahasa Shakespeare ke dalam sebuah "dunia lokal" agar bisa kontekstual dengan penontonnya. Akira Kurosawa melakukannya dengan baik melalui Throne of Blood, yang merupakan adaptasi Macbeth, dan Ran, yang merupakan adaptasi King Lear. Tapi menghilangkan atau melenyapkan nilai puitik Shakespeare--bahkan dalam bahasa lokal--hampir sama dengan mengkhianati karya Shakespeare, karena pada dasarnya karya Shakespeare adalah sebuah puisi.
Itulah yang menjadi problem utama pementasan teater Watermill di bawah arahan Edward Hall. Shakespeare, bahkan dalam komedi semacam Comedy of Errors dan The Merchant of Venice, seharusnya tetap menampilkan keagungan puisi-puisinya, dan itu berarti sang sutradara harus melalui sebuah pergulatan adaptasi yang tidak mudah. Metamorfosis bahasa Shakespeare ke atas panggung, yang kemudian diterjemahkan ke dalam "bahasa baru" yang mungkin berbau lokal atau ke sebuah interpretasi baru, meski boleh dilakukan dengan bebas, menurut saya harus tetap menjadikan puisi sebagai kekuatan utama dalam bahasa komunikasi di atas panggung. Tentu saja aktor-aktor teater Watermill telah berhasil menghadirkan suasana dan entakan-entakan yang menjanjikan kemungkinan humor pada akhir adegan. Tentu saja persyaratan dasar dalam sebuah komedi panggung--sarat dengan suasana gembira dan tawa, lalu-lalangnya kejadian dengan begitu cepat--dipenuhi, dan bahkan ditambah dengan beberapa adegan slapst
ick yang kemudian membuat pertunjukan ini semakin jauh dari citrarasa Shakespeare.
Namun, jika tujuan sutradara hanya ingin "meminjam" plot atau ide cerita, ia telah salah memilih naskah. Sebab, memilih Shakespeare adalah memilih memasuki sebuah puisi, dan bukan sekadar bercerita dengan guyon-guyon banal yang kemudian melenyapkan sebuah karya menjadi dagelan.
Leila S. Chudori
|