Tiga Cendana Mengeruk BUMN |
Siti Hardiyanti Rukmana
Tutut, 49 tahun, menggenggam saham BCA pada usia yang ke-21. Dari sini, usahanya mekar ke mana-mana. CMNP adalah "permata" Tutut. Melalui perusahaan ini dia berkembang menjadi ratu jalan tol. CMNP agresif menjual obligasi, di dalam dan luar negeri. Bagi pelaku pasar modal, obligasi CMNP sangat memikat karena dividen dijanjikan meningkat tiap ada kenaikan pendapatan jalan tol. Nah, para investor mafhum. "Tutut sanggup mengendalikan tarif jalan tol," kata Shalahuddin Haikal, Kepala Riset Interpacific Securities.
Bambang Trihatmodjo
Kerajaan bisnis Bambang berawal dari bisnis makelar minyak, yakni melalui PT Samudra Petroleum. Bimantara, berdiri pada 1985, kini berkembang dengan 100 anak perusahaan. Banyak analis menilai, Bambang kreatif menggaet proyek. Contohnya: saat Bambang mengambil alih PT Intirub, BUMN penghasil ban, pada 1990. Intirub menerbitkan 1.000 lembar saham dengan nilai Rp 7 juta per lembar. Bambang tertarik membeli, tapi ia hanya membayar satu juta rupiah per lembar. "Akibatnya, pemerintah rugi Rp 6 juta tiap lembar," kata Suharsono Hadikusumo, mantan staf ahli bidang pajak Depkeu, kepada Sidney Morning Herald. Bambang kemudian menjual saham Intirub kepada Grup Salim dengan harga di atas Rp 7 juta per lembar.
Hutomo Mandala Putra
Putra bungsu Soeharto ini sering dianggap jimat keberuntungan keluarga. Tapi, bersamaan dengan krisis ekonomi, bisnis Tommy terpangkas. Sempati Air bangkrut. Saham Tommy di perusahaan mobil mewah Lamborghini juga dilepas. Kesepakatan dengan IMF juga melarang diteruskannya monopoli tata niaga cengkeh. Bencana paling buruk adalah macetnya proyek prestisius mobil nasional Timor. Melalui Timor, Tommy mengeruk kredit Rp 3,3 triliun dari BBD dan BDN. Sayang, belum sempat proyek berhasil, beking politik Tommy runtuh. Kredit pun macet, dan Tommy terancam penalti pajak senilai US$ 1,3 miliar.
|