Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXIIIIIII/24 - 30 November 1998
   
Ekonomi dan Bisnis

Hubert Neiss : "Rupiah Bisa Jatuh Lagi"

Krisis Asia sudah berlalu. Begitulah keyakinan sebagian ekonom dunia. Kebangkitan nilai tukar mata uang negara-negara penderita krisis dan mengalirnya dana investasi ke bursa-bursa saham di Asia menjadi sinyal bahwa perekonomian "para naga" yang kolaps itu sedang berada dalam proses pemulihan. Korea Selatan, Thailand, bahkan juga Jepang tengah menggeliat menyongsong cahaya di ujung terowongan yang gelap.

Bagaimana Indonesia? Terus terang, banyak yang masih ragu. Tapi beberapa indikator makro perekonomian menunjukkan gelagat yang menyegarkan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar terus menguat dan terkesan stabil pada kurs Rp 7.000 - Rp 8.000 per dolar. Pasar modal juga mulai hidup. Harga saham-saham terus merambat naik. Untuk pertama kalinya sejak tiga bulan terakhir, indeks harga saham gabungan--indikator yang menunjukkan pergerakan harga saham di bursa Jakarta-- menembus melewati level 400, Jumat pekan lalu.

Dan yang lebih menggembirakan: laju harga barang-barang mulai bisa direm. Untuk pertama kalinya sejak dilanda krisis ekonomi Agustus tahun lalu, inflasi bulanan tercatat negatif. Artinya, harga barang bukannya naik, tapi justru menurun. Yang tak kurang penting: suku bunga semakin lama semakin bisa ditekan, tanpa harus menggangu nilai tukar rupiah. Tingkat suku bunga lelang Sertifikat Bank Indonesia (SBI), telah turun dari 71 persen Agustus lalu, menjadi 49 persen pekan ini.

Pelbagai indikator itu jelas melegakan. Sulit disanggah, perekonomian Indonesia setidaknya tengah berbenah. Tapi apakah itu menunjukkan the wrost is over? Badai sudah berlalu? Untuk mencari jawabnya, TEMPO menemui Hubert Neiss, Direktur Dana Moneter Internasional (IMF) untuk Asia Pasifik. Sudah sejak setahun terakhir IMF ditunjuk untuk membantu mengobati perekonomian Indonesia. Dengan dukungan dana dari negara-negara industri, dokter spesialis krisis ekonomi itu telah menyiapkan tonikum sebesar US$ 43 miliar lebih.

Berikut petikan wawancara dengan pria dengan rambut gaya "Bart Simpson" itu, di Hotel Grand Hyatt, Senin pekan lalu.




Apa benar kondisi perekonomian Indonesia membaik?

Grafik perekonomian Indonesia masih terus menurun. Tapi lajunya mulai melambat. Saya harap tahun depan perlahan-lahan perekonomian Indonesia mulai bangkit. Indonesia mempunyai potensi besar dalam menggenjot ekspor dan menggairahkan investasi. Sejumlah perusahaan juga kembali berjalan.

Mengapa Anda yakin perekonomian Indonesia bisa pulih?

Pertama, nilai tukar makin stabil. Kedua, inflasi sudah menurun. Ketiga, bantuan luar negeri dalam bentuk dana tunai makin meningkat. Keempat--barangkali ini yang terpenting--semua kebijakan yang berhubungan dengan program pemulihan ekonomi ditangani dengan baik oleh pemerintah. Sejauh ini, berdasarkan review bulanan, terlihat bahwa pemerintah Indonesia serius dengan program yang dijalankan.

Mengapa nilai tukar rupiah stabil, bukankah situasi politik Indonesia sedang tak ramah--apakah ini berkat intervensi?

Karena inflasi cenderung turun dan bantuan dana luar negeri juga makin banyak masuk, Bank Indonesia punya kesempatan untuk menjual dolar. Dana hasil pinjaman luar negeri itu dilempar ke pasar untuk membeli rupiah. Itu fokusnya. Jadi bukan intervensi. Pemerintah memang sedang memerlukan rupiah untuk mendanai anggaran belanja. Hal itu berlangsung beberapa hari pada bulan ini.

Bukankah itu artinya Bank Indonesia (BI) memakai dana IMF untuk campur tangan di pasar uang ?

Pemerintah memang bisa menggunakan dana IMF untuk menambah suplai dolar ke pasar dan membeli rupiah. Dana pinjaman dari IMF itu bisa juga dipakai untuk meningkatkan dana cadangan BI. Sekarang, menurut catatan saya, jumlah cadangan devisa Indonesia sudah mencapai US$ 21 miliar. Jika cadangan BI sudah cukup tinggi mereka bisa menjual uang itu ke pasar uang. Saya kira, dolar ini diperlukan oleh mereka yang harus membayar impor, utang, dan lain-lain.

Apakah Anda tak mengkhawatirkan situasi politik yang cenderung keruh?

Kalau dalam beberapa hari mendatang cenderung tenang, saya pikir pengaruhnya tak akan banyak. Tapi, jika situasi ini berlangsung terus, cukup lama, tentu bakal menjadi masalah. Nilai tukar rupiah bisa jatuh lagi.

Jadi, Anda yakin situasi politik akan membaik?

Saya tidak tahu. Yang ingin saya katakan, pemulihan ekonomi mestinya berlangsung dalam situasi politik yang stabil. Jika tidak, pemulihan akan berjalan amat berat.

Indonesia perlu dana segera untuk menyehatkan perekonomian. Tapi mengapa Anda meminta pengunduran pelunasan bantuan likuiditas BI (BLBI) dari satu tahun menjadi empat tahun?

Memang betul. Utang itu harus dibayar secepatnya jika memungkinkan, karena pemerintah membutuhkan dana tersebut. Tapi pemerintah juga harus memperoleh pembayaran maksimum yang bisa didapat. Padahal, Anda tahu, BLBI tak dibayar tunai, melainkan dengan aset. Untuk menguangkannya, aset itu harus dijual.
Nah, jika Anda cepat-cepat menjual semua asetnya sekarang, Anda tak akan mendapat nilai tinggi karena pasar akan kelengar akibat penjualan obral yang tergesa-gesa itu. Untuk hasil maksimal, semua aset harus dijual dalam beberapa periode. Empat tahun merupakan tempo yang tepat menurut masukan para ahli, agar semua aset dijual dengan harga tinggi. Jadi, ada kompromi antara panjang waktu pengembalian dengan total hasil tunai yang akan dikumpulkan. Semakin pendek jangka waktu pengembalian, semakin sedikit BLBI yang bisa dikembalikan.

Bukankah pembayaran tunai sekarang lebih baik ketimbang pembayaran dengan aset?

Tapi mereka tak bisa membayar semuanya dengan tunai sekarang karena tak punya cukup uang untuk itu. Jadi mereka harus membayar dengan melakukan penjualan aset, itu satu-satunya cara agar mereka bisa membayar utang.

Bagaimana kalau hasil penjualan asetnya tak mencukupi?

Aset-aset itu sudah dinilai ahli-ahli luar negeri yang independen dan terpilih. Sebagian besar aset dinilai dalam diskon, katakanlah 20 persen. Jadi, setidaknya semua aset itu nilainya mendekati jumlah utang--walaupun tidak 100 persen.

Bagaimana kalau bankir penunggak BLBI itu sudah keburu menerbangkan hartanya ke luar negeri?

Tapi siapa yang tahu? Yang jelas sekarang mereka nggak bisa membayar utang karena duitnya tak ada di tangan mereka. Saya melihat pengusaha Indonesia ingin usahanya tetap berjalan. Jadi mereka akan memenuhi kewajibannya. Kalau tidak, bagaimana bank-bank bisa beroperasi?

Kapan Indonesia bisa keluar dari krisis?

Wah, ini sulit. Itu sangat bergantung pada seberapa jauh pemerintah bisa menjaga kestabilan politik ekonomi dalam negeri dan situasi internasional. Tapi, jika semuanya berjalan lancar mungkin tiga tahun lagi Indonesia akan kembali normal.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
26/XXXVII/18 - 24 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Zuma untuk Gwen Stefani - 22 Ags 2008 | 10:55 WIB
Sepatu Kasual nan Gaya - 22 Ags 2008 | 10:55 WIB
Presiden : Banyak Unjuk Rasa di Daerah Salah Alamat - 22 Ags 2008 | 10:53 WIB
Pemerintah Dinilai Gagal Mengerem Pemekaran Daerah - 22 Ags 2008 | 10:44 WIB
Batal Tes DNA di Indonesia, WNI Korban Spanair ke Spanyol - 22 Ags 2008 | 10:43 WIB
DPD: Masyarakat Jenuh dengan Pilkada - 22 Ags 2008 | 10:37 WIB
Koalisi Akan Bahas Krisis Pakistan - 22 Ags 2008 | 10:29 WIB
Pagi Ini, Rusia Angkat Kaki dari Georgia - 22 Ags 2008 | 10:09 WIB
Saham di Bursaa Jepang Sesi Pagi Turun 0,67 Persen - 22 Ags 2008 | 10:04 WIB
Bush Tuntut Rusia Segera Keluar dari Georgia - 22 Ags 2008 | 10:03 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data