RENAISANS ASIA Jikapun ada, Renaisans Asia harus menempuh jalan panjang dan berliku, seperti jalan karir politik Anwar Ibrahim sendiri |
Pengarang: Anwar Ibrahim Penerbit: Times Books International, Singapura
ASIA tengah bangkit, kata Anwar Ibrahim. Kebangkitan ekonomi Asia "hanyalah satu dimensi dari kebangkitan kembali benua itu secara lebih mendalam, lebih mendasar, dan berdampak jauh--sebuah Renaisans Asia."
Dia terbukti terlalu optimistis. Ketika buku ini terbit pertama dalam edisi aslinya (The Asian Renaissance, 1996), indikator ekonomi Asia memang masih bertabur angka mencorong. Namun, itu semua terbukti keropos. Krisis memagut tiba-tiba. Dan di Malaysia, badai itu mengambil korban yang tak lain Anwar sendiri. Tak hanya dicopot dari kursi wakil perdana menteri dan menteri keuangan, dia menjadi paria yang terkerangkeng.
Waktulah yang akan menentukan apakah tuduhan yang diarahkan kepadanya sahih atau sekadar "konspirasi politik" untuk menyingkirkannya. Dan buku ini akan menjadi salah satu pleidoinya yang terbaik. Bukan pula sebuah analisis atau nubuat. Buku ini lebih merupakan undangan untuk membangun kembali peradaban Asia, yang jauh melampaui wilayah ekonomi dan politik praktis.
Sejak awal, Anwar memang mengajak pembacanya agar tidak terbutakan oleh pertumbuhan ekonomi Asia yang semarak dan lupa pada merajalelanya kebusukan suap, nepotisme, dan penyalahgunaan kekuasaan. Anwar juga khawatir terhadap "praktek agama yang tanpa dimensi moral dan etika", sehingga tidak memiliki cukup daya untuk mencegah "dekadensi dan erosi moral melalui perilaku serba boleh serta korupsi".
Pada saat yang sama, Anwar sebenarnya sangat optimistis bahwa agamalah--dalam keragamannya di Asia--yang akan menjadi unsur penting jika bangsa-bangsa Asia ingin "menemukan kembali jiwanya serta merekonstruksi peradabannya".
Meski ranum dengan energi intelektual dan budaya, menurut Anwar, Renaisans Eropa kehilangan jiwa karena mempromosikan "humanisme sekular yang tercerabut dari akar agama Judeo-Kristiani". Renaisans Asia, sebaliknya, "memiliki fondasi yang kuat pada agama dan tradisi". Dan sementara Renaisans Eropa bersifat monolit, Kebangkitan Asia lebih kukuh karena dibangun di atas tradisi yang beragam, "sebuah konsorsium budaya"--Islam, Konghucu, Buddha, Hindu, dan Kristen.
Dengan pikiran besar seperti itu, Anwar masuk ke tema-tema yang lebih spesifik: simbiosis antara Barat dan Timur, demokrasi dan masyarakat madani (civil society), keadilan dan hukum, etika dan ekonomi, ekonomi yang manusiawi, keutamaan budaya, Islam di Asia Tenggara, dan masa depan Asia.
Dia juga mencoba menjawab sejumlah pertanyaan: Mungkinkah membangun sebuah peradaban dari beragam budaya? Bagaimana membangun peradaban baru Asia? Adakah "nilai-nilai Asia" sebenarnya? Adakah sumbangan Asia terhadap gagasan-gagasan universal?
Penuh dengan renungan dan pencarian, Anwar menyelam ke dalam relung kesadaran serta khazanah klasik Asia, lalu menyembul dengan sebuah kepercayaan diri untuk siap berdialog--bukannya berkonfrontasi--dengan Barat.
Anwar tak terlalu meyakinkan ketika berusaha merekonstruksi apa sebenarnya "Asia" itu--sebuah konsep yang memang agak kabur bahkan untuk orang Asia sendiri. Namun, dialah salah satu dari sedikit intelektual kontemporer Asia--kecuali mungkin Sudjatmoko--yang memilih jalan sulit ketimbang sekadar mencampakkan segala hal dari Barat atau yang, karena kelewat terkesima pada Barat, cenderung menafikan miliknya sendiri.
Anwar memberi penghormatan khusus kepada "para pelopor Renaisans Asia" yang "mampu mentransendensikan kekhasan budaya untuk mencapai dataran universal": Muhammad Iqbal (penyair muslim dari Pakistan), Rabindranath Tagore (sastrawan Hindu dari India), Jose Rizal (novelis Kristen dari Filipina), dan Sun Yat-sen (pahlawan nasionalis Cina yang Konghucu).
Namun, dia menolak apa yang disebutnya sebagai cultural jingoism. Perselisihannya dengan Mahathir Mohamad belakangan ini bisa ditelusur dari penolakan Anwar terhadap "keunikan nilai-nilai Asia" yang dipakai sebagai dalih untuk kelangsungan semangat otoritarian, seperti pemberangusan pers dan pemandulan demokrasi.
Dan pemikiran seperti itulah yang tampaknya akan menyelamatkannya. Lebih dari sekadar di Malaysia, Anwar memperoleh simpati luas, termasuk di Barat, dalam perseteruannya dengan mantan mentornya sendiri.
Farid Gaban
|