|
Saya kecewa dengan Opini dan tulisan Nasional TEMPO edisi 2 November 1998. Pembaca sengaja digiring ke satu opini bahwa pernyataan Menteri A.M. Saefuddin, yang melecehkan agama Hindu, hanya upaya menjegal Megawati dalam kancah politik. Aksi demo masyarakat Bali dikatakan kurang benar karena merupakan ancaman dalam keleluasaan berpendapat.
TEMPO jelas hanya melihat dari satu sisi. Yang luput dari liputan tersebut adalah bagian terpenting yang memicu kemarahan massa, yakni agama yang bagi orang Bali akan dibela dengan semangat puputan. Lebih-lebih A.M. Saefuddin dengan arogannya mengatakan tidak perlu minta maaf dengan dalih yang semakin membuat antipati massa.
Kalau kemudian TEMPO mengartikan bahwa melayani tekanan massa, membuat pemerintah kurang berwibawa, untuk kasus lain mungkin bisa diterima. Namun, dalam kasus ini, apakah mengabulkan permintaan massa bisa mengurangi kredibilitas pemerintah? Justru sebaliknya. Mengabaikan tuntutan berarti mengingkari Pancasila di atas negara kesatuan ini.
Putu Adnya Semapta
Banjar Jangkahan, Desa Batuaji
Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Bali
|