Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXIIIIIII/17 - 23 November 1998
   
Monitor

Kalau Rakyat yang Bersidang

ABRI sebaiknya tidak duduk di DPR. Majelis harus menugasi Habibie untuk menyelidiki harta kekayaan Soeharto dan kroninya.

KALAU saja pemerintah mau berendah hati, mestinya Sidang Istimewa (SI) MPR pekan lalu tidak perlu berlangsung tegang. Kuncinya, dengarlah suara rakyat si pemberi mandat. Penjagaan SI cukup seperlunya dan tak ada urusan dengan pengamanan swakarsa itu.

Sebagian besar masyarakat toh setuju dengan beberapa agenda yang diangkat dalam SI. Paling tidak, responden jajak pendapat TEMPO yang dilangsungkan dua pekan lalu, misalnya, sepakat soal pembatasan masa jabatan presiden dan jadwal pemilu yang dipercepat.

Memang tak semua agenda SI disetujui responden. Menurut mereka, jatah kursi gratis untuk ABRI di DPR tak perlu dipertahankan lagi. Separuh responden menginginkan militer keluar dari Senayan.

Soal pemilu, mayoritas responden menginginkan agar panitia penyelenggara pemilu tidak bertanggung jawab kepada presiden, seperti termuat dalam salah satu rancangan ketetapan yang diagendakan. Kebijakan itu membuat pemilu dalam kendali kekuasaan. Mestinya, panitia bertanggung jawab kepada MPR atau paling tidak Mahkamah Agung.

Tapi justru terhadap dua soal itulah faksi pemerintah, terutama Fraksi Karya Pembangunan di MPR, bersikeras. Ada kesan mereka ingin mempertahakan status quo. Kursi militer di DPR bisa dijadikan "bandul pemberat" bagi status quo.

Di luar persoalan di atas, responden setidaknya melihat ada dua agenda lain yang perlu dibicarakan dalam SI ini. Presiden (Habibie) perlu diberi mandat untuk memeriksa kekayaan Soeharto serta mantan pejabat (dan yang masih menjabat), dan SI perlu membahas pertanggungjawaban Soeharto sejak ia disumpah 11 Maret sampai ia lengser 21 Mei lalu.

Persoalannya, tidakkah SI akan terhuyung-huyung keberatan beban jika semua agenda yang dituntut dipenuhi? Responden jajak pendapat tampaknya tidak peduli. Menurut mereka, sidang istimewa adalah momen paling tepat untuk memantapkan landasan reformasi.

Peristiwa nasional ini harus jadi ajang yang bermutu, bukan sekadar ajang ketok palu. Responden ingin SI menjadi jembatan yang kuat bagi terbentuknya pemerintahan yang bersih pasca-Habibie dan melahirkan UU politik yang bermutu pula.

Meskipun harapan begitu besar digantungkan pada SI, responden memprihatinkan komposisi anggota majelis. Responden tampaknya sepakat bahwa anggota majelis kali ini--meminjam istilah Amien Rais—adalah "MPR jadi-jadian". Karena itu sulit diharapkan mereka menghasilkan produk hukum tata negara yang demokratis.

Kalau mendengarkan suara "pemberi mandat", menurut responden, SI mestinya dilaksanakan dengan mengajak tokoh masyarakat seperti Gus Dur, Megawati, atau Amien Rais untuk urun rembuk. Sehingga "cacat" MPR dapat sedikit diperbaiki.

Arif Zulkifli



INFO GRAFIS


Apa pendapat Anda tentang beberapa agenda Sidang Istimewa berikut?

 SetujuTidak setujuRagu-ragu

Masa jabatan presiden sebaiknya dibatasi
95%0%5%

Pemerintah harus tepat waktu dalam menyelenggarakan pemilu
94%0%6%

ABRI sebaiknya tidak duduk di DPR dan hanya di MPR
50%22%28%

Penyelenggara pemilu 1999 tidak bertanggung jawab kepada presiden
46%32%22%

UU Subversif sebaiknya dihapus
40%32%29%

P4 saat ini tidak dibutuhkan lagi
19%53%28%


Apakah hal berikut harus dibicarakan dalam SI MPR?

 YaTidakRagu-ragu

Memberi mandat kepada Presiden untuk mengusut harta Soeharto, keluarga, dan pejabat
74%6%19%

Meminta pertanggungjawaban Soeharto terhadap kepemimpinannya setelah Sidang Umum 1997 sampai mundur pada Mei 1997
87%3%10%


Siapakah yang seharusnya ikut dalam SI?


Anggota MPR ditambah tokoh-tokoh masyarakat
: 87%

Hanya anggota MPR hasil pemilu 1997
: 7%

Ragu-ragu
: 6%


Apa yang terjadi dalam SI MPR?


Penyiapan landasan reformasi
: 58%

Kelompok pro-Orde Baru berusaha memper tahankan status quo
: 36%

Ragu-ragu
: 6%


SI dapat diandalkan sebagai jembatan terciptanya pemerintahan yang bersih pasca-Habibie?


Ya
: 36%

Tidak
: 24%

Ragu-ragu
: 39%


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data