Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXIIIIIII/17 - 23 November 1998
   
Kesehatan

Orang Gila Wajib Dilindungi

Karena isu ninja, keselamatan penderita gangguan jiwa terancam. Kalau semua penderita harus masuk rumah sakit, tak semuanya bisa tertampung.

DESA Karangmangu, Rembang, 27 Oktober 1998, sekitar pukul 05.30. Seorang wanita terlihat mondar-mandir. Sekelompok warga menyapanya. Wanita itu tak menghiraukannya. Kebungkamannya membuat kesal warga. Wanita itu ditangkap, diinterogasi, dan dipukuli. Eh, wanita itu malah tertawa.

Penduduk setempat mengira wanita itu punya ilmu kebal. Wanita itu pun dihajar beramai-ramai, diseret dan kemudian digantung terbalik di sebuah pohon waru di depan kantor polisi sektor Sarang. Tubuh yang sudah tak berdaya itu kemudian disiram bensin dan..., wushh.... Tubuh wanita itu hangus dilalap api.

Ketika polisi datang dan kemudian menganalisis keadaan wanita yang telah tewas itu, kesimpulannya adalah dia orang gila. Tanda-tanda fisiknya memang memberi ciri dia tidak waras: rambut gimbal dan tubuh yang begitu kotor. Begitulah kesimpulan Kepala Polisi Wilayah Pati, Jawa Tengah, Kolonel Djumain.

Di Semarang, sehari sebelumnya, pria yang tak diketahui identitasnya juga tewas secara mengenaskan dihajar massa. Pria itu disangka ninja. Kepala korban remuk, tangan dan kaki kanannya putus ditebas senjata tajam. Sebelumnya korban terlihat mondar-mandir di sekitar musala. Ketika ditegur, tak ada jawaban keluar dari mulutnya. "Ia tampak seperti orang gila,?? ujar Supriadi, seorang warga. Walau sudah dicurigai gila, toh dibunuh juga.

Jauh sebelum merembet ke Jawa Tengah, di beberapa kota di Jawa Timur telah banyak pula orang yang tidak waras tewas diamuk massa. Di Kota Madya Malang, misalnya, hingga akhir bulan lalu sedikitnya 10 orang gila terbunuh oleh massa. Di Situbondo 4 orang gila juga ditangkap karena dikira ninja, adapun di Banyuwangi ada 14 orang gila diringkus dan dihajar habis-habisan.

Orang gila yang dapat diselamatkan dari amuk masa di Jawa Timur berjumlah 96 orang. Dari mana penderita kelainan jiwa itu berasal?

Menurut Badan Kesehatan Dunia, WHO, setiap 1.000 orang terdapat 1-3 penderita psikosis. Jadi, kalau di Jakarta terdapat 10 juta penduduk, jumlah penderita gangguan jiwanya mencapai 10-30 ribu orang. "Tapi yang dirawat di rumah sakit hanya 10 persen dari 1-3 per mil itu,?? kata Kepala Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan, Achmad Hardiman. Yang tidak dirawat di rumah sakit jiwa biasanya dirawat keluarganya. Nah, celakanya, jika keluarganya itu tak mampu merawatnya, penderita psikosis itu pun berkeliaran di jalan-jalan.

Kini, setelah isu ninja merebak, penderita psikosis itu mulai lagi dibawa keluarganya ke rumah sakit jiwa. Di Rumah Sakit Jiwa Pusat (RSJP) Lawang, Jawa Timur, misalnya, jumlah pasien meningkat tajam. Biasanya RSJP Lawang hanya merawat 200 orang, tapi sejak 28 Oktober lalu tercatat 520 pasien menginap di rumah sakit yang hanya memiliki 7 psikiater, 14 dokter umum, dan 300 perawat ini.

Pasien itu bukan hanya datang dari para orangtua yang takut anaknya menjadi korban paranoia massa, tapi juga dari polisi. RSJP Lawang telah menerima 36 orang yang dikira ninja dari Polres Malang. Pekan ini RSJP Lawang juga akan mendapat tambahan kiriman lagi sekitar 50 orang dari beberapa polres di Jawa Timur, antara lain dari Blitar dan Nganjuk. Sebelumnya rumah sakit jiwa ini sempat menolak 12 orang kiriman Polresta Malang karena tempat perawatan di RSJP belum siap. Saat itu tim psikiater dan psikolog RSJP Lawang sedang memeriksa 26 penderita gangguan jiwa kiriman dari polisi Kepanjen.

Agaknya, pasien gangguan jiwa yang berdatangan dalam waktu bersamaan cukup merepotkan tenaga paramedis di RSJP Lawang. Menurut Pandu, pimpinan rumah sakit itu, meski RSJP Lawang memiliki 1.055 tempat tidur, setiap satu psikiater harus menangani 100 pasien. Karena itu ia merasa kewalahan dengan pasien yang terus bertambah.

Keterbatasan bukan hanya dialami RSJP Lawang tapi juga RSJ Menur, Surabaya. "Jangankan untuk Jawa Timur, untuk menampung yang ada di Surabaya saja kurang,?? kata Yusmansyah Idris, Direktur RSJ Menur, kepada Munib Rofiqi dari TEMPO. Memang, jika sekitar 3.500 penderita jiwa di Jawa Timur harus dirawat, mereka tak bisa tertampung dua RSJ pemerintah yang terdapat di Jawa Timur itu.

Keadaan serupa juga terjadi di provinsi lainnya. Di seluruh Indonesia hanya ada 31 RSJ, baik yang dimiliki Depkes maupun pemerintah daerah tingkat satu. Dan ini tentu tak bisa menampung semua penderita penyakit jiwa.

Namun, karena kasus "ninja" masih belum sirna, bagaimanapun mereka yang menggelandang di jalan harus segera ditampung dan diselamatkan dari bahaya. Di beberapa tempat seperti Bogor dan kota-kota di Jawa Tengah, pekan lalu mulai dilakukan operasi kemanusiaan untuk mengumpulkan penderita gangguan jiwa yang berkeliaran di jalan. Mereka kemudian dibawa ke RSJ terdekat untuk dirawat. "Saya akan melindungi orang gila. Kasihan mereka dikejar terus. Mereka punya hak hidup. Kita harus mengamankan mereka,?? kata Kapolda Jawa Tengah, Mayjen Nurfaizi. Bahkan, kepolisian Jawa Tengah memberikan bonus kepada siapa saja yang menyerahkan orang gila.

Ada bonus atau tidak sebenarnya para penderita gangguan jiwa wajib dilindungi. Ikatan Dokter Indonesia dalam pernyataannya mengingatkan bahwa hak dan harkat penderita gangguan jiwa dijamin oleh Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia (PBB, 1948) dan resolusi PBB pada sidang pleno tahun 1991 serta deklarasi hari kesehatan jiwa 1993.

Gabriel Sugrahetty, Dwi Wiyana (Jakarta), Jalil Hakim (Surabaya), Bandelan Amarudin (Semarang)

Prevalensi gangguan kesehatan jiwa menurut lokasi

LokasiPrevalensi (%)
1. Bangli10,7
2. Banjarmasin15,0
3. Palembang17,1
4. Semarang17,3
5. Solo19,1
6. Manado19,1
7. Padang19,7
8. Jakarta20,0
9. Bogor20,6
10. Jambi23,2
11. Bandaaceh24,1

Sumber: Survei Kesehatan Mental Rumah Tangga oleh Jaringan Epidemiologik Psikiatri Indonesia, Bahar dkk., 1995


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data