|
Saat membuka kongres bahasa baru-baru ini, dalam pidatonya, Presiden Habibie mengatakan (memberi perintah?) kepada para pejabat birokrasi pemerintahan agar menggunakan bahasa yang lugas, yang tidak dibungkus dengan istilah-istilah yang kabur untuk memanipulasi kenyataan.
Menurut Presiden, penggunaan bahasa yang mengaburkan kenyataan tidak mencerdaskan kehidupan berbangsa. Akibat lainnya, bangsa kehilangan keberanian untuk mengakui kenyataan pahit.
Selanjutnya, Presiden Habibie dengan jelas mengatakan bahwa penggunaan bahasa semacam itu menandakan tidak adanya transparansi di kalangan pejabat dalam menjalankan roda pemerintahan. Dengan kata-kata yang jelas pula, Presiden mengatakan bahwa perilaku pejabat tersebut perlu direformasi.
Semua yang dikatakan tersebut nyata dan jelas dengan menggunakan bahasa (tutur kata) yang tidak kabur dan tidak manipulatif. Yang menjadi masalah, sekarang ini bahasa semacam itu (bukan tutur kata) telah lama dipraktekkan dalam keseharian oleh para pejabat. Karena itu, sangat sulit untuk menerapkan semua yang dikatakan oleh Presiden Habibie tadi, kecuali kalau ada ketulusan di hati, bukan di mata atau di mulut saja.
MURLONO
Margahayu Raya Blok P-14, RT 01/RW 17
Margacinta, Bandung
|