Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 06/XXIIIIIII/10 - 16 November 1998
   
Ilmu dan Teknologi

Hermada, Tidak Sengaja

Rumput hermada, yang tumbuh di lahan kering, ternyata memiliki bulir-bulir yang kalau ditanak menghasilkan sesuatu yang mirip dengan nasi. Rasanya enak, harganya terjangkau.

Dengan hermada, ketergantungan Indonesia pada beras kelak bisa dikurangi. Tapi, apakah hermada itu sejenis padi? Ya dan tidak. Soalnya, hermada tidak setingkat dengan padi--kualitas dan rasanya memang tidak sama--tapi sebagai tumbuh-tumbuhan, keduanya termasuk dalam keluarga yang sama.

Tersebut kisah, Hennie Siswati, Direktur PT Kharisma Promosindo--perusahaan ekspor-impor--yang memperkenalkan biji rumput hermada sebagai salah satu alternatif pengganti beras padi. Semula, Hennie hanya mengimpor batang tanaman hermada dari Jepang dan Amerika. Batang rumput itu diolah menjadi sapu kemudian diekspor ke Malaysia. Belakangan, lewat serangkaian penelitian, ternyata bukan hanya batang hermada yang bernilai ekonomi. Bijinya pun, bila ditanak, bisa menjadi nasi dan aneka penganan yang terbuat dari tepung beras.

Tampaknya, hermada, yang tadinya diimpor untuk dijadikan sapu itu, secara tak sengaja malah bisa menjadi pengganti beras. Tanpa menunggu lama, awal Oktober silam Hennie memamerkan makanan versi baru itu pada acara Demo Budidaya dan Olah Pascapanen Rumput Hermada di Sanggar Kegiatan Belajar di Cilandak, Jakarta. Salah seorang pengunjung acara itu, Barbara Scholz, turut mencicipi nasi dari biji hermada. "Rasanya cukup enak," ucap Scholz.

Nasi ala Hennie kemudian juga disajikan pada pameran pangan sedunia di Departemen Pertanian, Jakarta, pertengahan Oktober lalu. Selain disajikan sebagai nasi, hasil olahan biji hermada juga dikemas menjadi peyek dan kue donat. Penganan itu lalu dibagi-bagikan kepada 100 responden. "Mereka bilang, rasanya seperti panganan dari tepung terigu," tutur Hennie.

Tentu saja penemuan nasi hermada itu membawa hikmah tersendiri, terutama ketika bangsa Indonesia masih meringkuk di bawah tekanan krisis ekonomi seperti sekarang ini. Bagi bidang pertanian, penemuan hermada menjadi sangat berarti karena tak disengaja ada alternatif pengganti nasi, di samping jagung, singkong, dan sagu.

Menurut Dr. Fransisca Zakaria dari Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor, hermada tergolong keluarga tanaman biji-bijian. Karena serumpun dengan padi, jagung, jewawut, bulgur, sorgum, miley, ataupun havermouth, gizi yang dikandung biji hermada tak berbeda jauh dengan beras padi.

Pendapat senada juga terungkap dari penelitian Laboratorium Biokimia Nutrisi Universitas Gadjah Mada (UGM). Pada laporan hasil penelitian ini, hermada disebutkan mengandung karbohidrat 72 sampai 75 persen, setara dengan padi, yang berkadar hidrat arang 70 dan 80 persen. Bahkan kandungan protein dan lemak hermada lima persen lebih besar daripada padi.

Hanya, menurut penilaian Balai Laboratorium Kesehatan Departemen Kesehatan, kandungan air biji hermada lebih tinggi ketimbang padi. Itu sebabnya, "Nasi hermada tak seliat nasi," kata Dr. Untung Nuriman, Kepala Balai Laboratorium Kesehatan. Maksudnya mungkin tidak sekenyal, sepulen, atau selemak rasa nasi.

Kendati rasa dan harumnya tidak bisa menandingi nasi, bentuk hermada memang mirip padi. Cuma ukurannya separuh biji padi. Biji hermada Jepang berwarna hitam, dengan tinggi tanaman 1,5 meter. Sedangkan hermada Amerika berwarna putih kusam, dengan tinggi tanaman sekitar 3 meter. Kedua jenis hermada itu bisa tumbuh di daerah kering. Tanaman ini bisa dipanen setelah masa tanam 50 hari atau setahunnya bisa tiga kali penanaman.

Untuk pengembangan usaha tani, hermada bisa menghasilkan untung lumayan, dengan investasi tidak besar. Satu hektare lahan, misalnya, hanya butuh dana Rp 255 ribu untuk 20 kilogram benih hermada seharga Rp 12.750 per kilogram. Lantas biaya pupuk dan tenaga kerja Rp 2 juta. Total biaya menjadi Rp 2.255.000.

Saat panen, bisa diperoleh 3.400 kilogram tangkai biji seharga Rp 2.000 per kilogram. Selanjutnya, 4.000 kilogram biji seharga Rp 500 per kilogram plus daun untuk pakan ternak Rp 1,8 juta. Total penghasilan menjadi Rp 10.600.000. Dengan ongkos Rp 2. 255.000, berarti diperoleh pendapatan Rp 8. 345.000. Tentu saja dalam jumlah itu belum termasuk biaya tanah dan pengolahan biji.

Belum bisa dipastikan, apakah hermada akan menarik minat kosumen atau tidak. Sekalipun demikian, setidaknya hermada punya prospek, sesuatu yang mendorong Hennie untuk segera menggalang kerja sama dengan para petani di daerah Sleman, Yogyakarta. Dari lahan percobaan seluas 30 hektare, bisa dipanen 100 ton tangkai hermada untuk dijadikan sapu, dan 120 ton biji hermada.

Hennie bahkan menjajaki kemungkinan menanam hermada di sejumlah lahan tidur di Jakarta dan sekitarnya. Bukan tidak mungkin, panen hermada juga dibeli oleh PT Indofood Sukses Makmur, produsen mi instan yang padat modal itu.

Ma?ruf Samudra dan Dewi Rina Cahyani


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data