Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 06/XXIIIIIII/10 - 16 November 1998
   
Film

Ketika Hidup Kita Diintip Pemirsa TV

Truman Show adalah sebuah acara opera sabun dokumenter yang disiarkan langsung selama 24 jam nonstop. Etiskah kita mengintip kehidupan pribadi melalui 5.000 buah kamera?

TRUMAN SHOW
Sutradara : Peter Weir
Skenario : Andrew Niccol
Pemain: Jim Carrey, Ed Harris, Laura Linney
Produksi : Paramount Pictures

Bagi Truman Burbanks, panggung drama adalah seluruh dunia. Setiap pagi, di kampung Seahaven yang kecil, damai, dan tenteram, Truman menghadapi sebuah kerutinan hidup yang mencurigakan. Ia memiliki Meryl, istri yang cantik dan "terlalu sempurna", ibu yang sangat mencintainya, dan Marlon (Noah Emmerich), sahabatnya yang setia. Truman, seorang agen iklan yang ramah, mengisi paginya dengan bertemu dengan tetangga yang sama, mengucapkan salam pagi yang sama, dan terlibat dalam peristiwa yang hampir selalu sama. Di sela-sela kegiatan rutinnya itu, entah bagaimana, orang-orang di sekelilingnya akan sibuk memamerkan produk-produk terbaru--yang secara ajaib muncul dari kantong belanjaan mereka--dan tiba-tiba tersenyum dengan gigi berkilat, seolah mereka tengah berdiri di depan sebuah kamera.

Dan, ternyata, itulah horor yang tengah terjadi.

Hidup Truman, sepanjang hidupnya, dikelilingi 5.000 buah kamera yang mengintainya. Sebagai bayi yatim, Truman lahir dari rahim Hollywood, diadopsi oleh sebuah perusahaan jaringan televisi OmniCam Corporation, dan dibesarkan oleh sebuah kehidupan dramatis. Di bawah pimpinan sutradara Christof (Ed Harris), seorang sutradara opera sabun ternama, hidup Truman (diperankan dengan cemerlang oleh Jim Carrey) menjadi tontonan jutaan pasang mata dunia. Christof menciptakan sebuah kehidupan bagi Truman, sebuah kampung buatan bernama Seahaven dengan warga yang semuanya adalah aktor figuran, dan "keluarga" buatan (ibu, istri, teman-teman) untuk Truman. Seahaven ternyata hanyalah sebuah studio alam buatan berukuran raksasa. Dengan 5.000 kamera yang diletakkan di setiap pojok hidupnya, di dalam mobil, di kantornya, di kamarnya, penonton menyaksikan "Truman Show", sebuah opera sabun dokumenter eksklusif yang berlangsung secara sukses selama 30 tahun. Kesuksesan itu terutama disebabkan karena Truman adalah satu-satunya non-aktor yang tidak mengetahui bahwa hidupnya diintip oleh jutaan pemirsa secara langsung di televisi. Dan, ini adalah sebuah acara drama 24 jam nonstop yang disiarkan secara langsung ke seluruh dunia! Tentu saja, karena membutuhkan biaya yang gigantis, di antara acara itu akan ada iklan-iklan terselubung.

Ah, drama televisi, apa yang membedakannya dengan drama hidup? Apa yang menyebabkan opera sabun disukai berjuta pemirsa dunia yang menginginkan hidup di alam mimpi?

Hidup telah begitu gundah. Maka, apa salahnya melihat dan menyibak-nyibak kehidupan pribadi orang lain? Maka, industri pun tumbuh menjadi raksasa berkat eksploitasi kerakusan penonton yang ingin melahap gosip dan kehidupan pribadi orang lain. Kisah peperangan dan perceraian tiba-tiba menjadi hiburan yang dinikmati di ruang keluarga.

Truman Show menyajikan kisah sebuah selera rendah yang dimiliki setiap manusia. Hanya karena nurani dan insting, Truman mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang mencurigakan dalam kesempurnaan hidupnya. Ia memberontak. Ia ingin keluar dari panggung sandiwara ciptaan Christof. Berhasilkah ia?

Sutradara Peter Weir, seorang sutradara Australia yang menggetarkan penonton dunia atas filmnya Dead Poets Society, membuka mata kita tentang keinginan untuk mencari diri. Hidup memang sebuah panggung. Hidup--yang menurut kepercayaan religi telah menuruti skenario sang Pencipta--dalam film ini menjadi sebuah hidup yang lebih kelabu dan tidak alamiah karena di-"tulis ulang" oleh penulis skenario murahan bernama Christof. Dan, akhirnya, toh Truman mencari sebuah skenario asli, yang alamiah, sebuah dunia tanpa 5.000 kamera yang menatapnya. Sebuah dunia yang tercipta agar ia bisa tenggelam menjadi diri sendiri. Pada akhirnya, Penulis Skenario dan penulis skenario memang tetap berbeda.

Weir menampilkan kepedihan itu dengan sebuah parodi yang ekstrim. Jim Carrey, untuk pertama kali, tampil sebagai sosok yang tragis, dan kalaupun ia menyajikan humor, humor itu berwarna hitam. Laura Linney, yang berperan sebagai "istri" Truman --di atas panggung--juga memenuhi sebuah stereotip yang diinginkan "the American dream", cantik, blonda, dan menghamba kepada industri. Tingkahnya, yang selalu menyempatkan diri untuk mengiklankan berbagai produk di antara dialognya dengan Truman, menunjukkan bagaimana televisi telah menjajah masyarakat.

Lalu ada "sahabat", lalu ada "teman-teman", lalu ada "bos kantor" yang semuanya hanya aktor-aktor belaka. Dan Truman mengucapkan selamat tinggal kepada mereka yang hanya hidup dengan berpura-pura.

Leila S. Chudori


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data