Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXIIIIIII/03 - 9 November 1998
   
Lingkungan

Ancaman Limbah di Saguling

Pencemaran di Waduk Saguling meningkat pada masa krisis moneter ini. Pembuangan limbah sembarangan merusak kualitas air waduk.

Krisis moneter, bukan penyebabnya saja yang multidimensi. Akibatnya pun bisa ke mana-mana, termasuk meningkatkan limbah pencemar dari pabrik. Kenyataan itulah yang didapat Lembaga Ekologi Universitas Padjadjaran, Bandung, yang meneliti kualitas air di Waduk Saguling, Jawa Barat.

Secara teratur per triwulan tim peneliti mengambil sampel air di sembilan titik yang dianggap rawan pencemaran di waduk tempat pertemuan Sungai Cisangkuy, Cikapundung, dan Citarum itu. Air diambil dari kedalaman 0,2 meter, 0,5 meter, dan dasar sungai. Sampai awal triwulan terakhir 1998 ini, tim menemukan kenaikan unsur nitrogen, ortofosfat (PO4), dan biochemical oxygen demand (BOD) dibandingkan dengan tahun lalu. Ketiga bahan itu berasal dari limbah rumah tangga dan industri.

Untuk unsur nitrogen, misalnya, pada tahun lalu jumlahnya masih 1,6 miligram per liter. Lalu melonjak menjadi 2,1. Senyawa PO4 dari 0,4 miligram per liter menjadi 0,6. Dan yang paling parah, BOD melaju dari 12,7 miligram per liter tahun lalu menjadi 23,6 saat ini.

Bukan itu saja, menurut anggota tim peneliti Universitas Padjadjaran, Dr. Hilmi Salim, pencemaran telah menyebabkan kandungan oksigen air sungai susut. Indikasinya, timbul bermacam plankton, eceng gondok, dan ikan sapu-sapu. Eceng gondok, misalnya, telah tumbuh sepanjang kurang lebih 10 kilometer dari titik pertemuan ketiga sungai sampai ke Majalaya di arah timur.

Tumbuhnya eceng gondok yang menutupi permukaan sungai menambah buruk keadaan. Daun eceng yang lebar bisa menguapkan air sungai. Bila sungai surut, pembangkit listrik PLN, yang sangat tergantung pada volume waduk Saguling, pun terancam. Selain itu plankton dan ikan sapu-sapu dapat mempercepat proses korosi peralatan pembangkit listrik milik PLN itu.

Adapun sumber polusi diduga berasal dari 400-an industri yang berjajar di sepanjang pinggiran Sungai Cisangkuy, Cikapundung, dan Citarum--sebagian kolaps--yang membuang limbah tanpa melalui proses pengolahan. "Karena krisis, pabrik yang tadinya melakukan pengolahan limbah kini tak lagi mengolah limbahnya,?? ujar Hilmi Salim.

Kenyataan itu diperkuat oleh keluhan beberapa penduduk yang berdiam di daerah industri tekstil Dayeuh Kolot, yang dilalui Sungai Citarum. Menurut Wawan, yang rumahnya diapit dua pabrik besar, setiap hari pabrik-pabrik itu membuang limbah ke sungai. "Warnanya pekat, bau, dan seperti air mendidih," ujar Wawan.

TEMPO, yang mengunjungi kawasan industri itu, memang mendapati parit-parit di sepanjang Jalan Mochamad Toha sampai Dayeuh Kolot dialiri oleh cairan berwarna biru pekat dengan bau menyengat.

Namun ada yang menolak tuduhan itu. Dahlan dari perusahaan tekstil PT Sugar mengaku, meski perusahaannya menurunkan 75 persen kapasitas produksinya, tak berarti mereka lantas membuang limbah sembarangan, baik sebelum maupun sesudah krisis.

Tapi Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jawa Barat, lewat Ade Sudradjat--ketua asosiasi--mengakui bahwa pabrik tekstil yang terdapat di daerahnya banyak yang membuang limbah ke sungai. Bukan karena krisis, tapi instalasi pengolahan air limbah yang disediakan pemerintah daerah tidak cukup untuk menampung produksi limbah mereka.

Selain itu, masalah klasik tetap muncul; instalasi pengolahan limbah adalah investasi yang mahal. Menurut Ir. Prasetyo Sunaryo dari Bagian Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, biaya pengolahan menghabiskan 20 persen dari total biaya produksi.

Tapi fakta itu bukanlah dalih untuk membenarkan pembuangan limbah sembarangan. Sebab, pilihannya sederhana, mengurangi keuntungan materi atau kehilangan kelestarian alam.

Arif Zulkifli, Rinny Srihartini (Bandung)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data