Enam Tahun Bersama Jantung Orang Lain |
USIANYA sudah kepala enam, tapi jantungnya baru kepala tiga. Kok bisa? Tak persis begitu, tapi selama enam tahun ini, Haditono, 66 tahun, hidup dengan jantung orang lain yang ketika dicangkokkan ke tubuhnya berusia 27 tahun. Enam tahun lalu Haditono menjalani operasi cangkok jantung di Amerika Serikat.
Apakah organ orang lain membuatnya penyakitan? Nyatanya sampai sekarang ia baik-baik saja. Daya ingat bapak empat anak itu juga masih tajam ketika mengisahkan kembali proses cangkok jantung yang dialaminya.
Semuanya diawali ketika dokter memberitahukan bahwa katup aorta jantungnya bocor. Haditono yang punya latar belakang sebagai dokter pendamping atlet nasional ini menuturkan, penyebab kebocoran itu adalah kuman yang berasal dari gigi berlubang yang tak ditambal. Kuman ini berkembang biak dan menyebar lewat sirkulasi darah, lantas hinggap di katup-katup jantung dan merusaknya.
Otot jantung kirinya membesar lantaran darah bersih yang sudah dipompa dari bilik kiri jantung ke aorta membalik lagi ke jantung. Akibatnya otot jantung kirinya harus bekerja keras dan menjadi besar. Katup itu kemudian diganti melalui operasi pada 25 Maret 1980, di Corfton Clinic, London. Tapi ternyata kebocoran jantungnya membesar lagi. Akhirnya tim dokter memutuskan satu-satunya jalan untuk sembuh adalah dengan cangkok jantung.
Operasi cangkok pun dilaksanakan di Stanford University Hospital, San Francisco. Dalam waktu operasi 4 jam 30 menit, Haditono mendapat jantung baru. Entah ada entah tidak ada hubungannya dengan jantung donor yang masih muda itu, yang jelas setelah dipasangi jantung baru, Haditono juga merasa lebih fit. Tentu saja setelah pencangkokan itu ia harus menjaga kesehatan tubuhnya dengan obat dan makanan sehat tak berlemak.
Sampai enam tahun kemudian boleh dibilang tidak ada keluhan serius. Cuma, pada tahun pertama sehabis operasi, tiga bulan sekali ia harus ke Amerika untuk diperiksa. "Sekarang cukup setahun sekali," kata Haditono.
Wicaksono dan Dwi Wiyana
|