Setelah Lengan, Wajah Diganti Teknik transplantasi yang canggih membuat lengan orang yang diamputasi bisa disambung lengan orang lain. |
CLINT Hallam asal Selandia Baru sebetulnya warga biasa-biasa saja. Memang pria berusia 48 tahun ini cuma punya lengan kiri, setelah lengannya yang lain diamputasi akibat kecelakaan sembilan tahun silam. Tapi Hallam menjadi luar biasa dan membuat sejarah karena ia orang pertama yang mendapat cangkok lengan dari seorang donor hidup. Pencangkokan atau transplantasi sebelum ini biasanya dengan organ palsu. Bagi dunia kedokteran, keberhasilan itu tampaknya akan menjadi awal "keajaiban" berikutnya. ??Jika lengan sudah bisa ditransplantasikan, hal sama bisa dilakukan pada wajah,?? ujar seorang profesor dan ahli bedah plastik dari Universitas Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. Adalah satu tim dokter berasal dari pelbagai bangsa yang awal Oktober berhasil melakukan transplantasi lengan itu di sebuah rumah sakit di Lyon, Prancis. Tim ini dipimpin Jean-Michel Dubernard, kepala bedah transplantasi rumah sakit di Lyon, dan Earl Owen, direktur Pusat Bedah Mikro di Sydney, Australia, yang membawahkan tiga dokter dari Italia, Australia, dan Inggris. Mereka adalah ahli tulang, bedah mikro, dan transplantasi. Tak disebut siapa nama donor lengan tersebut. Yang jelas, lengan tersebut berasal dari seorang pasien yang mengalami kematian otak (brain-dead). Melalui operasi selama 13 jam 30 menit, lengan Hallam yang putus karena kecelakaan ketika memotong kayu itu akhirnya bisa tersambung dengan mulus. Mula-mula tulang donor disambungkan ke lengan Hallam. Setelah itu adalah proses menyambung semua arteri, urat, saraf, tendon, otot, dan jaringan kulit. Keberhasilan ini boleh dikatakan merupakan kemajuan di bidang bedah mikro dan teknik transplantasi. Selama ini penyambungan tangan baru dapat dilakukan pada jaringan kulit dan tulang rawan. Karena itu, Hallam sempat dikhawatirkan akan menolak lengan barunya. Untuk mencegahnya, seperti yang dilakukan pada setiap operasi pencangkokan, Hallam juga mendapatkan injeksi immunorepressive guna mencegah reaksi penolakan tubuh terhadap organ asing. Dan seusai operasi, Hallam tampaknya sehat-sehat saja. Jika kondisi Hallam tetap oke dengan organ barunya, prestasi tim internasional itu akan segera dibuntuti para koleganya dari Louisville, Kentucky. Mereka merencanakan segera melakukan transplantasi wajah untuk menolong orang yang wajahnya rusak. Selama ini, meski sudah dioperasi plastik, rekonstruksi wajah tidak selalu memuaskan. Dengan transplantasi organ orang lain, misalnya hidung atau bibir, hasilnya mungkin akan lebih mulus. Hanya, tentu wajah pasien menjadi lebih mirip wajah orang yang mendonorkan hidung atau bibirnya. Masalahnya, teknik transplantasi semacam ini tetap saja membuat penerima organ harus mendapatkan obat immunorepressive sepanjang hidupnya. Pemakaian obat untuk menekan sistem kekebalan tubuh dalam jangka panjang ini berarti juga membuat penerima organ rentan terhadap infeksi dan penyakit. Ini bisa dicegah bila teknologi kloning yang kini sedang dikembangkan para ilmuwan bisa diterapkan. Dengan cara ini, orang bisa mengganti bagian tubuhnya yang perlu diganti dengan organ yang dikembangbiakkan dari sel tubuhnya sendiri. Jadi, kalau hidungnya yang rusak, tinggal ambil salah satu sel atau jaringan, kemudian dikembangkan di luar tubuh. Setelah jadi, tinggal ditempelkan ke wajah. Beres. Perkembangan ilmu yang luar biasa ini, entah, apakah harus disyukuri atau ditakuti. Sebab, kalau dipakai untuk hal-hal yang tidak benar, alangkah mengerikannya. Wicaksono
|