Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXIIIIIII/03 - 9 November 1998
   
Kritik

Arogansi Golkar

Golkar tampaknya masih betah dengan sikap arogan dan overconfidence yang selama ini telah mereka tunjukkan sepanjang Orde Baru. Golkar merasa tidak perlu meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia atas segala krisis yang menimpa dan bencana yang menerpa kehidupan kita.

Golkar berpendirian bahwa itu semua merupakan kesalahan pengurus masa lalu yang tidak selayaknya dipikul oleh kepengurusan Akbar Tandjung. Permintaan maaf akan memberikan peluang kepada kepentingan tertentu untuk "menembaki" Golkar.

Padahal kita semua tahu, Golkarlah biang kerok dari multikrisis dan berbagai bencana yang menimpa kita saat ini. Karena itu sesungguhnya Golkar tidak hanya wajib meminta maaf kepada rakyat, tapi lebih jauh lagi Golkar sudah selayaknya membubarkan diri, tidak perlu mengubah diri menjadi partai politik, mengikuti pemilu, dan sebagainya.

Lebih parah lagi, Golkar justru menempatkan tokoh-tokoh bermasalah sebagai pinisepuh Partai Golkar, seperti Try Sutrisno, yang selama ini terlibat berbagai tragedi berdarah seperti Tanjungpriok (1984), Aceh, dan Timtim. Bahkan, Golkar juga menempatkan J.B. Sumarlin sebagai penasihat, padahal ia merupakan salah satu tokoh kunci kasus megakorupsi Eddy Tanzil, yang hingga kini raib tanpa bekas bagai ditelan bumi.

Ditempatkannya tokoh-tokoh bermasalah seperti itu menunjukkan bahwa Golkar tidak sepantasnya cuci tangan atas segala perbuatan kotor pengurus Golkar sebelumnya. Karena itu, Golkar memang sudah seharusnya meminta maaf, menunjukkan penyesalannya kepada seluruh rakyat, dan sekaligus membubarkan diri.

Juga terkesan, Golkar selama ini cuma menjalankan reformasi "volley ball" melalui mekanisme tukar posisi dalam menempatkan tokoh-tokoh tertentu yang sangat bernuansa KKN, baik di dalam kabinet maupun kepengurusan Golkar. Bila Golkar memang serius dengan reformasi, tentunya tokoh-tokoh yang melakukan KKN sepanjang Orde Baru lalu dan cenderung amoral tidak lagi ditempatkan dalam jajaran Kabinet Reformasi dan kepengurusan Golkar.

Kenyataan-kenyataan itu menunjukkan bahwa Golkar sedang menggembosi dirinya sendiri sekaligus "memberi peluang" kepada partai lain untuk merebut posisinya.

MOH. ABDUL KARIM
Menteng Wadas RT 008/01
Pasar Manggis, Jakarta 12970


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data