Yang Cocok, Varietas WL 2265 Penelitian Handoko menunjukkan bahwa gandum bisa tumbuh di Indonesia asalkan ditanam di dataran tinggi, kelembapan lumayan, dan curah hujan cukup. |
Impor gandum, yang selama ini kegiatan operasionalnya melekat pada PT Bogasari, mudah-mudahanan akan berkurang. Berita ini tentu menggembirakan karena Indonesia membeli gandum--biasanya dari Amerika Serikat dan Australia--sampai empat juta ton setahun. Ketergantungan impor gandum agaknya kelak tidak lagi jadi masalah karena tanaman yang biasa hidup di negeri empat musim itu ternyata juga bisa tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia.
Kabar bagus itu tersiar tatkala Dr. Ir. Handoko keluar sebagai pemenang ke-2 lomba penulisan ilmiah yang diselenggarakan oleh PT Bogasari, awal Oktober lalu. Karya ilmiah yang disusun oleh Deputy Director South East Asian Ministers of Education Organization pada Biotropical Bogor itu berjudul Penyusunan Model Simulasi Tanam Gandum: Shierary Wheat.
Pada tulisan ilmiah yang membuka jalan bagi Handoko untuk memenangkan hadiah senilai Rp 30 juta itu, diuraikan penelitian tentang tanaman gandum yang dapat ditanam di Indonesia. Risetnya sudah dilakukan sejak 1988, saat Handoko menyusun tesis untuk meraih gelar doktor di School of Agriculture and Forestry, The University of Melbourne, Australia.
Penelitian Handoko dilakukan dengan cara membuat simulasi proses penanaman gandum untuk daerah tropis seperti Indonesia melalui program komputer. Berbagai data yang berkaitan dengan variabel proses pertumbuhan gandum dimasukkan ke dalam program Visual Basic. Variabel tersebut antara lain cuaca, curah hujan, suhu udara, radiasi matahari, faktor tanah, dan varietas tanaman gandum.
Dari beberapa simulasi, ternyata hasil komputer menunjukkan bahwa gandum bisa ditanam di daerah tropis. Persyaratan untuk itu, gandum harus ditanam pada suhu 22 sampai 23 derajat Celsius, curah hujan 300 milimeter per tiga bulan, dan radiasi matahari 15 megajuoule per meter persegi sehari. Kelembapan yang dibutuhkan sekitar 70 persen. Varietas yang cocok adalah WL 2265. Selain itu, gandum harus ditanam di atas lahan dengan ketinggian minimal 500 meter di atas permukaan laut.
Pada penelitian itu, lokasi ideal bagi ladang gandum di Indonesia juga ditemukan, yakni di Kuningan, sebagian wilayah Nusa Tenggara Barat dan Timor. Ketiga daerah ini memiliki karakteristik pola hujan dan kondisi tanah yang optimal bagi pertumbuhan tanaman gandum. "Tak tertutup kemungkinan, daerah lain di luar tiga daerah itu juga bisa ditanami gandum," tutur Handoko.
Dari situlah kemudian dikembangkan penelitian lapangan. Bersama dengan mahasiswa program magister bimbingannya di Institut Pertanian Bogor (IPB), Johannes E.X. Roggi, Handoko sejak empat tahun silam melakukan proyek penelitian penanaman gandum di Kuningan, Jawa Barat. Hasilnya, sekali panen bisa diperoleh dua sampai tiga ton gandum per hektare.
Menurut Handoko, sebenarnya kondisi tanah dan cuaca di Indonesia lebih baik ketimbang daratan Australia atau Amerika--daerah produsen gandum dunia. Di kedua benua itu, karena terbentur musim dingin, gandum cuma bisa dipanen sekali setahun. Sedangkan di Indonesia, menurut Handoko, masa panen bisa sampai tiga kali. Tapi, agar produksi gandum bisa optimal, curah hujannya harus cukup.
Tak kurang dari Prof.Dr. F.G. Winarno, guru besar ilmu pangan IPB, menyambut gembira hasil penelitian Handoko. Menurut Winarno, penelitian itu bisa membuka peluang baru bagi petani. Apalagi, menanam gandum lebih sederhana ketimbang padi. "Karena penanamannya di dataran tinggi, tak perlu irigasi. Cukup memanfaatkan curah hujan," katanya.
Hal senada juga diutarakan oleh Franciscus Welirang, Direktur PT Indofood Sukses Makmur. Namun Welirang berpendapat, penelitian gandum di Kuningan yang menelan biaya sekitar Rp 1,5 miliar itu masih perlu diperluas skalanya, sebelum gandum bisa benar-benar ditanam di sini. Demikian jua penelitian tentang varietas benih gandum yang cocok. Setelah itu, tentu perlu studi konkret tentang teknologi pascapanen, sehingga produksi tepung terigu dapat terwujud seperti yang direncanakan. Jadi, masih banyak tantangan yang harus dijawab sebelum kita betul-betul bisa menghasilkan gandum dari ladang sendiri.
Ma?ruf Samudra dan Ahmad Fuadi
|