Mata Rantai yang Hilang Gereja Orthodox Syria memperkuat tesis: Yahudi, Kristen, dan Islam berasal dari rumpun agama monoteistik Ibrahim. |
Dari rahim yang sama lahir anak-anak yang memiliki wajah dan karakter beragam. Namun, karena gennya sama, kemiripan satu dengan yang lain tak terelakkan. Logika tadi cocok untuk menggambarkan perbedaan dan persamaan yang terdapat dalam agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Ketiganya tumbuh dari "rahim" yang satu: agama monoteistik Ibrahim.
Salah satu indikasi yang memperkuat tesis itu adalah adanya Kristen Orthodox Syria, agama yang diyakini para pemeluknya paling dekat dengan ajaran murni Yesus. Syria--sebut saja begitu--memiliki prinsip tauhid (monoteistik) dan ritus mirip Islam. Sebuah diskusi bertema "Tauhid dalam Perspektif Islam dan Kristen Orthodox Syria" diselenggarakan Yayasan Paramadina Jakarta dan Yayasan Kanisah Orthodox di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, 22 Oktober lalu.
Sejarah kelahiran Syria berkaitan erat dengan masa paling awal Kristen. Santo Peter mendirikan Syria pada tahun 40. Karena itu ia diangkat sebagai paus pertama Antiokhia, gereja kedua dan tertua dalam sejarah Kristen setelah Yerusalem. Menurut kios internet The Syrian Orthodox Church, Syria adalah ajaran Kristen yang bentuknya sangat semitik dengan tradisi seperti yang dilakukan oleh Yesus sendiri. Liturginya, selain berbahasa Arami--bahasa yang dipergunakan Yesus--juga merupakan bentuk liturgi paling kuno yang dijaga turun-temurun. Ritus lain yang mirip, tapi tak sepenuhnya sama dengan syariat Islam, antara lain berhaji ke Palestina, zakat, dan puasa.
Namun yang lebih penting diungkap adalah prinsip akidahnya. Menurut Efraim Bar Nabba B. Noorsena, Ketua Yayasan Kanisah Orthodox Syria, Surabaya--satu satunya di Indonesia--Syria mengakui keesaan Tuhan. Dasarnya kalimat tauhid Laa ilaaha illa l-Lah (tiada Tuhan selain Allah) dalam Alkitab (I Korintus 8:4) terjemahan bahasa Arab. Lafaz tauhid itu berasal dari bahasa Ibrani Ein Elohim ella ha-Elohim atau dalam bahasa Araminya Lait Allaha ella d’Allaha.
Sebagaimana orang Yahudi, Syria menganut paham tauhid yang dipakai Alkitab (Ulangan 6:4) yang berbunyi: Syema Yss-ra’el, YHWH Elohenu, YHWH Ehad (Dengarlah, hai Israel, Tuhan itu Illah kita, Tuhan itu esa).
Salah satu identitas unik Syria adalah pemakaian bahasa Arami dan Ibrani. Bahasa Arami, menurut Dr. Kautsar Azhari Noor, dosen fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta, hanya dimengerti oleh segelintir orang di dunia. Ciri bahasa itu, menurut Komaruddin Hidayat, cendekiawan dari Paramadina, mengingatkan orang bahwa Kristen lahir di Timur Tengah. "Selama ini Kristen dianggap Barat," kata Komaruddin.
Bahwa Kristen yang dominan sekarang telah "terbaratkan" diakui oleh cendekiawan Kristen Th. Sumarthana. "Kristen yang dipengaruhi kultur Barat dianggap paling universal, karena yang paling baru. Padahal, kalau kita tengok sejarahnya, justru Syria ini bisa jadi agama Kristen yang asli," kata Sumarthana.
Dalam sejarah hidup Nabi Muhammad, Syria juga sudah dikenal. Sebuah cerita mengisahkan, Bahira, pendeta Kristen Orthodox Syria pada masa pra-Islam, bertemu dengan Muhammad kecil. Bahira meramalkan bahwa anak suku Quraisy itu pada masa mendatang akan menjadi nabi. Ramalan itu kemudian terbukti.
Pengenalan kembali ajaran klasik itu di Indonesia oleh Gereja Orthodox Syria setahun belakangan ini disambut cendekiawan muslim seperti Komaruddin. Syria, menurut Komaruddin, dapat memperkuat tesis agama Ibrahim (Abrahamic religions) bahwa sejatinya Yahudi, Kristen, dan Islam berasal dari rumpun yang sama, yaitu Ibrahim.
Karena itu Syria dianggap sebagai mata rantai historis yang hilang, yang diharap menjembatani dialog antara Islam dan Kristen. Pendekatan dialogis yang menurut Dr. Nurcholish Madjid, Rektor Universitas Paramadina Mulya Jakarta, dalam kata pengantar buku Tiga Agama Satu Tuhan, menjadi keharusan.
Kelik M. Nugroho, Andari Karina Anom
|