Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXIIIIIII/27 Oktober - 02 November 1998
   
Ekonomi dan Bisnis

Mengukur

"Dolar itu seperti hantu," kata seorang bankir. Ia tidak sedang bicara soal mistik. Ia lagi bercerita tentang kekuatan mata uang hijau bikinan Amerika Serikat itu. Menurut bankir kita ini, kekuatan dolar di Indonesia tak pernah teraba. Ia datang tanpa aba-aba dan pergi tanpa permisi.

Bukti nyata teori hantu mungkin bisa Anda saksikan beberapa bulan mendatang. Hari-hari ini di mana-mana di seluruh dataran Asia, dolar sedang dipukul mundur. Di Jepang nilai mata uang yen terus menanjak dalam dua setengah bulan terakhir. Harga dolar jatuh hingga sempat mencapai 114 yen, cuma 80 persen dari harga dolar tiga bulan lalu.

Di Thailand, titik awal tempat rentetan kejatuhan mata uang Asia bermula, harga dolar kini cuma 38 baht, setelah sempat melejit hingga 56 baht. Di Korea cuma 1.300 won setelah sebelumnya hampir 2.000 won. Di Malaysia pemerintahan Mahathir Mohamad mengurung dolar pada kurs tetap 3,8 ringgit. Pendek kata, kegalakan dolar mulai bisa dijinakkan.

Sinyal penyehatan ini bukan cuma dilihat dari menguatnya nilai tukar mata uang Asia terhadap dolar, tapi juga niat sejumlah negara untuk habis-habisan menyehatkan industri keuangan mereka. Pemerintah Jepang, misalnya, bertekad menyediakan dana US$ 500 miliar untuk mengurai kemelut penyakit perbankan Negeri Sakura itu. Tokyo juga menjanjikan dana US$ 30 miliar untuk mengentaskan perbankan Asia.

Agaknya, krisis ekonomi tak lagi dianggap sebagai dosa lokal. Orang mulai yakin, krisis ini lahir karena sumbangan "jahat" arus modal global yang gampang berpindah. Dengan "kesadaran" baru ini upaya pemulihan ekonomi negara-negara yang terkena krisis bisa lebih cepat. Soalnya, mereka yang selama ini sehat walafiat mulai serius memberi bantuan.

Jadi, apakah krisis ekonomi Asia sudah memasuki babak akhir?

Begitulah setidaknya pendapat para ekonom. Tapi untuk Indonesia agaknya masih jauh. Begitu pula keyakinan bankir penemu teori "hantu" tadi. Ia percaya, gelombang pembelian dolar akan kembali menyapu Indonesia dalam tiga atau enam bulan ke depan. Harus diakui, pemulihan ekonomi kita tersaruk-saruk. Program penyehatan perbankan seperti mandek, pemberantasan korupsi terkesan seperti setengah hati. Begitu pula pelunasan utang swasta tak kunjung selesai.

Sulit dibantah, selain karena bantuan faktor regional, kebangkitan rupiah kali ini terjadi berkat banyaknya utang dolar yang diterima pemerintah dari lembaga keuangan internasional. Jadi, bukan karena fundamental ekonomi yang membaik. Gampangnya, "Kebangkitan rupiah ini berkat tangan Tuhan," kata Mohammad Syahriyal, Kepala Riset Pentasena Securities di Jakarta.

Pertanyaannya, sampai seberapa lama rupiah akan bangkit. Pemerintah memang sudah bertekad tak akan menghentikan aksi penjualan dolar kendati rupiah terus menguat. "Pokoknya tak ada target kurs tertentu," kata Ginandjar, yang sebelumnya merasa lebih nyaman jika harga dolar ada pada kisaran Rp 7.000. Gubernur BI Syahril Sabirin sendiri menghitung bahwa harga dolar mestinya bisa ditekan hingga Rp 6.000.

Tapi mampukah? Kalangan pasar keuangan percaya bahwa pemerintah sebenarnya tak ingin dolar merosot lebih jauh hingga harganya di bawah Rp 7.000. Karena itu, mereka yakin, bank sentral akan mengerem "intervensi"-nya begitu kurs mendekati angka keramat itu.

Syahriyal sendiri yakin bahwa kekuatan bank sentral terus melakukan intervensi amat terbatas. Itu sangat bergantung pada jumlah amunisi dolar yang diperoleh melalui pinjaman internasional. Dengan memperhitungkan paritas daya beli dan selisih inflasi Indonesia dengan Amerika Serikat, Syahriyal menghitung, harga dolar yang wajar akan berada di titik Rp 9.300. Kapankah harga wajar ini tercapai? "Akhir tahun," katanya mantap.

Sementara itu, Sani Hamid, analis pada MMS Standard & Poor's di Singapura yakin, dalam jangka pendek rupiah mungkin saja bisa menguat sampai kurs Rp 6.500 atau bahkan Rp 6.000 per dolar. Tapi, dalam tiga sampai enam bulan ke depan, rupiah bakal kembali tenggelam. Sani menaksir, jatuh temponya sejumlah utang swasta, plus kekhawatiran timbulnya gejolak menjelang pemilu Mei mendatang, dapat membawa kembali dolar ke kisaran harga Rp 11.000.

Mana yang benar? Kita tunggu saja, apa benar "hantu dolar" akan beraksi lagi.

Dwi Setyo


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data