Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 04/XXIIIIIII/27 Oktober - 02 November 1998
   
Ekonomi dan Bisnis

Ketika Astra Harus Memangkas Anak-anaknya

Rugi hingga Rp 7,36 triliun, Astra harus memotong "anak-anaknya".

ADA masa manis, ada masa pahit. Astra Internasional (AI) tengah memasuki masa yang kedua, pahit dan bahkan getir. Perusahaan otomotif terbesar di Asia Tenggara itu segera kehilangan prestasi sebagai yang terbesar. Rontoknya rupiah secara telak memukul ulu hati Astra. Hingga, untuk pertama kalinya, perusahaan yang tergolong paling sehat di Asia itu rugi sebanyak Rp 7,36 triliun selama semester pertama tahun ini. Angka itu bagai bumi dan langit bedanya dengan semester satu tahun 1997, ketika Astra meraup laba bersih Rp 349 miliar. Astra kepentok valas rupanya. Kerugian Rp 7 triliun tadi berasal dari transaksi valuta asing yang belum terealisasi.

Makanya, Kamis minggu lalu di Singapura, jajaran eksekutif Astra Internasional bertemu para kreditur asingnya. Rini M.S. Soewandi, Presiden Direktur AI, berhasil mengegolkan kesepakatan awal: berhenti membayar bunga utang sebesar US$ 1,4 miliar. Selain itu, pihak Grup Astra juga minta untuk menunda pembayaran utang beberapa anak perusahaan sampai jangka waktu lima tahun.

Bendera putih yang dikibarkan Astra mengagetkan lebih dari 100 bank krediturnya. Karena AI mengaku sudah tidak mungkin lagi membayar utang yang jatuh tempo dalam satu sampai dua tahun ini. Lalu, Astra secara blak-blakan memaparkan nasib anak-anak perusahaannya. Di sana ada temuan yang mengagetkan, ada tiga anak perusahaan andalannya yang tak mampu membayar cicilan uang, yaitu PT AI sendiri, PT Astra Graphia, dan PT United Tractors (lihat info grafis). "Kami adalah satu-satunya perusahaan yang membuka diri soal utang," kata Rini seperti dikutip The Asia Wall Street Journal (AWSJ).

Rini agaknya tak punya pilihan lain selain bersikap transparan karena "dagangannya" sudah terpuruk sejak Juli tahun lalu. Pada semester pertama tahun ini, penjualan mobil merek Toyota, Daihatsu, Isuzu, BMW, Peugeot, dan truk Nissan merosot hingga 78,5 persen, sampai hanya 20 ribu unit saja yang laku. Penurunan kinerja terjadi hampir di semua lini usaha, kecuali sektor pertanian ? yang labanya naik 50 persen menjadi sekitar Rp 130 miliar.

Dengan kondisi "lampu merah" itu, Astra memang ringkes-ringkes. Sebelum pertemuan dengan kreditur misalnya, Astra sudah menjual seluruh saham anak perusahaannya, PT Astra Microtronics Technology (AMT) di Batam. Pabrik yang memproduksi semikonduktor itu dijual senilai US$ 90 juta ke Newbridge Capital, sebuah financial investor dari Amerika. Astra Internasional juga menjual 25 persen saham PT Astra Daihatsu Motor (ADM) senilai Rp 450 miliar kepada prinsipalnya di Jepang akhir September lalu.

Masih ada kans untuk Astra? Masih ada, begitu ramal Muhammad Syahriyal, kepala riset Pentasena Securities. Syaratnya berat, Astra hanya boleh main di lapangan terbatas: agrobisnis, jasa keuangan, dan telekomunikasi. Cabang bisnis lainnya harus diamputasi total. Toyota Astra Motor yang mengurusi Toyota, boleh dikembalikan saja ke Jepang. BMW, Peugeot, atau Isuzu juga mesti dilepaskan. Paling banter, kalau tetap mau "main" di motor, Astra masih boleh merakit sepeda motor. Bisnis alat berat lewat bendera United Tractors disarankan untuk dibuang saja.

Itu pun, kata Syahriyal, belum menjamin umur panjang Astra. Soalnya, tahun ini saja modal kerja dan beban pembayaran utang yang harus ditanggung mencapai Rp 8,9 triliun (dengan kurs Rp 8000). Alhasil, tahun ini Astra perlu suntikan Rp 4,5 triliun agar "tak goyah" jalannya.

Tapi, merek Astra rupanya masih "sakti". Syahriyal yakin bahwa para kreditur asing tak akan membangkrutkan Astra yang sedang gelagapan. Asal, itu tadi, Astra mau main di lahan bisnis yang terbatas.

Bina Bektiati


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data