Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIII/20 - 26 Oktober 1998
   
Perilaku

Katakan dengan Lukisan

Lukisan bisa menjadi bahasa bagi penderita gangguan jiwa untuk mengungkapkan khayalan mereka. Dari lukisan ketahuan apakah mereka bisa menjadi normal atau tidak.

KREATIVITAS bukan monopoli orang normal saja. Penderita skizofrenia--gangguan jiwa berat, yang oleh awam sering dirancukan dengan sebutan gila--pun punya kreativitas. Lihat saja lukisan hasil kreasi para penderita skizofrenia yang dipamerkan di Galeri Cipta Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 9-11 Oktober lalu.

Sebagaimana mereka yang sehat, penderita gangguan jiwa ini bisa membuat lukisan yang bisa dimengerti orang banyak. Ada lukisan krayon berjudul Dipasung, yang menggambarkan seorang wanita berwajah murung, duduk dengan kaki terpasung. Noer, pelukisnya, mengisahkan bahwa ia pernah dipasung dari 1984 hingga 1987. ‘’Hidup dalam pasungan membuat dunia saya bagaikan runtuh. Tenggelam dalam kegelapan. Fisik saya dari hari ke hari kian menurun, mental saya juga semakin cacat,’’ begitu penuturan langsung Noer, seperti tertulis dalam katalog pameran.

Lukisan lainnya tentang suatu bangunan terpencil di perbukitan yang dikelilingi laut. Lukisan itu juga menggambarkan pengalaman hidup pelukisnya, Djoko. Rupanya penderita skizofrenia yang kini sudah berusia 60 tahun ini pernah tinggal di Pulau Nusa Kambangan dengan orang tuanya.

Melihat 48 lukisan yang dipamerkan itu, terlihat bahwa penderita skizofrenia dapat membaik, hanya mereka tidak bisa mengomunikasikannya secara terbuka. Maka IDAJI (Ikatan Dokter Ahli Jiwa Indonesia) bekerja sama dengan Janssen Pharmaceutica berinisiatif menggelar gambar karya para penderita skizofrenia untuk memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini, yang jatuh setiap 10 Oktober.

‘’Dengan pameran ini kita bisa menunjukkan bahwa pasien ini ada harapan. Contohnya kan ada yang gambarnya sudah benar. Mereka itu bisa produktif kembali kalau betul-betul dirawat,’’ kata Theresia Wibisono, Manajer Umum Janssen Pharmaceutica.

Dari lukisan mereka, memang dapat dilihat seberapa baik atau masih seberapa parah gangguan yang diderita. Kalau pasien masih banyak berkhayal dan pikirannya melayang ke mana-mana, itu akan terlihat dari lukisannya yang kacau tak beraturan.

Penderita skizofrenia tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Mereka sering mengalami halusinasi. Menurut ahli jiwa H.A. Prayitno, yang aktif di IDAJI sebagai wakil ketua, skizofrenia berbeda dengan pengertian gila dalam kamus orang awam. Pada orang gila, gangguan jiwa atau psikosis disebabkan oleh kelainan anatomis otak. Sedangkan pada skizofrenia, gangguannya bukan karena kelainan organ.

Penderita skizofrenia, yang terkadang tampak normal, bisa membahayakan orang lain bila tak segera ditangani dokter. ‘’Kadang-kadang sampai membunuh. Seperti yang terjadi di Ujungpandang, seorang perempuan dibunuh penderita skizofrenia tipe paranoid,’’ ujar Prayitno menyebut kasus pembunuhan wanita oleh pacarnya sendiri yang selalu dibayangi ketakutan dikhianati pacarnya itu.

Penyakit tersebut ternyata belum bisa disembuhkan total. Obat hanya bisa mengendalikan gejalanya. ‘’Dunia kedokteran memang tidak seluruhnya bisa menyembuhkan penyakit. Penderita asma, hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes, misalnya, itu kan tidak bisa sembuh. Tapi gejala-gejalanya bisa dikendalikan sehingga orang itu bisa seperti tidak ada penyakit, masih bisa bergaul dan bekerja kembali,’’ kata Prayitno.

Boy, yang tiga lukisannya ikut dipamerkan, misalnya, kini telah mulai kuliah kembali di salah satu institut seni di Jakarta sembari terus berobat sejak awal tahun ini. Sesekali ia merasakan penyakitnya kumat. ‘’Kadang-kadang sering kambuh lagi. Kalau kecapaian, urat kepala sering kejang,’’ kata pemuda yang mengaku sakit gara-gara obatan-obatan dan narkotik itu. Selebihnya ia melewatkan hari-harinya dengan kondisi normal. Boy, yang bercita-cita kerja di periklanan ini, masih sering melukis kejadian yang ditemuinya di kereta api, ketika ia berangkat dan pulang kuliah. ‘’Saya senang menggambar karikatur yang lucu-lucu,’’ katanya.

Menurut Prayitno, skizofrenia memang tak bisa dijadikan penghalang untuk menyalurkan bakat. Melukis, bermain musik, atau berolahraga pun berguna untuk membuat pasien cepat bersosialisasi, mengingat penderita skizofrenia biasanya suka mengisolasi diri.

Bagi pasien sendiri kegiatan semacam itu ternyata menyenangkan. ‘’Saya bisa menyalurkan khayalan dan merasa hidup,’’ kata Boy.

Wicaksono dan Dwi Wiyana


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data