Pertandingan Baru Sebatas di Televisi >Olahraga kick boxing, yang berasal dari Thailand, kini mulai tumbuh di Indonesia. Sayang, belum ada kejuaraan rutin yang bisa memupuk bakat atletnya. |
MELIHAT jenis pertandingannya, sulit untuk mengatakan ini olahraga yang aman. Dua orang lelaki bertarung di atas ring. Bebas memukul, menendang, dan membanting. Semua bagian tubuh adalah alat menyerang dan, sebaliknya, sasaran serangan. Ulu hati, muka, kepala, dan seluruh bagian tubuh lainnya--kecuali belakang kepala dan kemaluan--bebas dipukul. Jika tidak pandai-pandai berkelit, kulit kasar tapak kaki yang terentak keras bisa mampir ke muka atau tepat di kerongkongan. Wasit tidak akan pernah meleraikan kecuali bel tanda ronde selesai berbunyi atau kedua pemain saling peluk terlalu lama. Pertandingannya sendiri tidak panjang. Lima ronde untuk partai utama dan tiga ronde untuk partai tambahan. Masing-masing tiga menit satu ronde. Itulah kick boxing, olahraga yang sejak 24 Juli lalu bisa disaksikan pemirsa televisi setiap Jumat malam di stasiun Indosiar. Sebagai olahraga pendatang baru di layar kaca, kick boxing ternyata banyak ditonton. Rating pertandingan yang disiarkan langsung ini, seperti diakui Icai, produsen acaranya, berkisar antara 4 dan 5. Artinya, setidaknya ada 1 juta pasang mata yang menontonnya tiap pekan. Meski banyak ditonton, olahraga ini belum maju. Di Indonesia, kick boxing baru ada di sembilan provinsi: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Yogyakarta, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Di Jakarta memang sudah ada 27 sasana yang rata-rata beranggotakan 10-15 pemain. Namun, tempat mereka berlatih--salah satunya di daerah Kemakmuran, Jakarta Pusat--jauh dari kesan sempurna: kecil, muram, dengan peralatan seadanya. Yang menarik, peminat olahraga ini banyak yang datang dari cabang olahraga bela diri lainnya. Tinju memang yang terbanyak, karena kedua olahraga ini memiliki banyak kesamaan. Selain tinju, ada wushu, taekwondo, karate, dan bahkan pencak silat. "Karena itu, pola pelatihannya berbeda-beda," kata Muchammad Ali, pelatih kick boxing dari Sasana Borokanda, Jakarta Utara. Untuk bekas petinju, pelatihan dipusatkan pada pemanfaatan kaki sebagai alat serang. Sedangkan bekas pemain taekwondo, yang terbiasa membiarkan muka "telanjang" tanpa perlindungan, dibiasakan menjaga wajah dengan tameng double cover. Selebihnya adalah latihan menjaga daya tahan tubuh. Selain beberapa pukulan standar seperti jab, uppercut, dan hook, tidak ada teknik khusus seperti jurus pada olahraga silat atau karate. Maklum, ini memang olahraga yang mengandalkan otot. Kalau mau ditarik ke belakang, kick boxing sesungguhnya berakar dari thai boxing, olahraga tradisional Thailand. Olahraga ini dipertandingkan secara rutin dan diajarkan sebagai mata pelajaran wajib kepada anak-anak sekolah. Perbedaan mencolok antara kick boxing dan thai boxing, dalam thai boxing dilarang membanting lawan. Menurut Muchammad Ali, Indonesia menggunakan pola kick boxing yang dikembangkan dari Jepang--yang membolehkan membanting lawan. Olahraga ini masuk Indonesia pada akhir 1970-an. Namun, sasana baru muncul sekitar tahun 1985, yang diikuti pertandingan ekshibisi antara kick boxer Indonesia dan Thailand di Balai Sidang Senayan tahun berikutnya. Olahraga ini kemudian mulai diketahui masyarakat--meski belum bisa disebut terkenal. Kini, dengan tayangan rutin di televisi, olahraga ini menjadi semakin banyak peminatnya. Tapi banyaknya peminat tayangan kick boxing di televisi tampaknya tidak berarti peningkatan kesejahteraan bagi atlet. Abdul Gani, atlet berusia 21 tahun yang Jumat malam lalu turun di kelas terbang mini, mengaku mendapat honor Rp 200 ribu untuk satu pertandingan. Abdul Gani, sebagaimana atlet lainnya, menyandarkan honor pertandingan sebagai sumber penghasilan, selain tetap nyambi sebagai petinju. Tapi itulah kick boxing. Sampai hari ini, siaran Indosiar menjadi satu-satunya ajang pertandingan yang rutin. Selebihnya, kick boxer Indonesia memang harus banyak bersabar. Arif Zulkifli, Agus Hidayat
|