Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIII/20 - 26 Oktober 1998
   
Nasional

Namaku adalah Partai

Golkar itu partai atau apa, sih? Syahdan, sewaktu Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) didirikan, 34 tahun silam, para pencetusnya menganggap bentuk partai politik adalah barang haram yang harus dijauhi. "Parpol dihakimi sebagai lembaga berlumuran dosa warisan Orde Lama," begitu kata Suhardiman, Ketua Umum Sentral Organisasi Kekaryaan Swadiri Indonesia (SOKSI), salah satu organisasi yang membentuk Golkar sejak awal.

Partai juga dianggap penyakit "Demokrasi Liberal". Maka, setelah "Demokrasi Liberal" atau Demokrasi Parlementer dibubarkan oleh Presiden Soekarno, dan sebagai gantinya Indonesia memakai "Demokrasi Terpimpin", para pemikir politik ABRI merumuskan sesuatu yang menurut mereka lebih baik: "golongan karya". Dan lebih dari 200 organisasi menggabungkan diri ke dalam satu sekretariat bersama. Kekuatan ini dibentuk untuk menjadi perpanjangan strategi ABRI, mengimbangi Partai Komunis Indonesia (PKI), yang di masa "Demokrasi Terpimpin" tahun 1960-an menjadi satu kekuatan dominan.

Gabungan organisasi "kekaryaan" itulah yang kemudian menjelma menjadi satu organisasi politik untuk memenangi Pemilu 1971--meskipun "Demokrasi Terpimpin" sudah diganti dengan versi baru, "Demokrasi Pancasila", yang menjadi merek kekuasaan Presiden Soeharto.

Sampai jatuhnya Soeharto, Golkar toh tetap menolak untuk disebut sebagai "partai politik". Undang-undang yang berlaku menyebut Golkar sebagai sesuatu yang tidak sama dengan parpol, meskipun seluruh fungsi yang dijalankannya sama saja dengan PPP dan PDI.

Kini pura-pura itu akan diakhiri. Selasa pekan ini, pada ulang tahunnya yang ke-34, Golkar memutuskan berubah bentuk menjadi partai politik. Tujuannya, kata Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung, untuk melepaskan Golkar dari "paradigma lama". Partai baru pun akan lahir, dari tubuh lama. Masih ditunggu apakah pembaruan ini akan cukup meyakinkan nanti.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data