Babak Baru Geger Santet: Konflik Politik? Tadinya, pembunuhan dukun santet tergolong kriminal murni. Kini, Pangab Wiranto menyinyalir ada konflik elite politik di balik geger santet itu. Tim Pencari Fakta NU sudah mengidentifikasi pelakunya. |
BAGAI wabah penyakit menular, gelombang pembantaian dukun santet merembet dari Jawa Timur ke Jawa Tengah dan Jawa Barat. Berawal dari Banyuwangi, virus santet merambah wilayah tapal kuda lainnya, Jember, Situbondo, Probolinggo, Bondowoso, dan Pasuruan. Setelah sempat menyeberang ke Pamekasan dan Sumenep, Madura, pekan lalu pembunuhan yang tak jelas motifnya itu tiba-tiba muncul di kawasan Demak, Jawa Tengah, dan Banten, Jawa Barat. Korban telah berjatuhan. Menurut data Kepolisian Daerah Ja-Tim, sejak Januari sampai Oktober ini, 170 orang telah terbunuh, 14 luka berat, dan 17 luka ringan. Sedangkan menurut data di pengurus cabang Nahdlatul Ulama (NU) Banyuwangi, 148 orang menjadi korban, dengan 101 di antaranya mati sia-sia. Ada juga yang terpaksa bunuh diri karena ketakutan. Dari korban yang meninggal, 96 di antaranya warga NU, seperti para pengurus ranting, pengurus masjid, dan guru mengaji. Cuma, tak terdata, berapa kiai yang terbunuh. Korban di Demak memang seorang kiai dan pengurus syuriah ranting NU. Kiai Rochmadi, ulama Desa Donorejo, yang menjadi korban itu, dibantai secara biadab saat salat isa di musala depan rumahnya sendiri. Ia diseret keliling kampung dengan tambang menjerat di leher serta digebuki kayu dan batu. Aksi itu bermula dari tahlilan kematian Zaenudin, yang diyakini sebagai korban keempat "sihir" Rochmadi. "Sudah banyak yang disantet Pak Kiai," ucap Samudi, salah seorang pelaku. Kepala desa setempat, Suhardi, yang juga meyakini tudingan itu, berkisah ciri-ciri ganjil pada korban: badan panas, perut membusung, dan kaki bengkak. Semua itu, katanya, merupakan tanda "penyakit kiriman" Kiai Rochmadi. Tuduhan itu dibantah oleh Siti Kalsum, istri Rochmadi. Sehari-hari, menurut Siti, suaminya itu bekerja sebagai petani. Dan di waktu senggang, ia mengajar mengaji dan memberikan bantuan penyembuhan bagi warga yang datang kepadanya. Ia memiliki kemampuan itu setelah puluhan tahun mondok di berbagai pesantren. Karena itulah ratusan pemuda NU dan satuan Banser, dengan bersenjatakan celurit dan pedang terhunus, siap menuntut balas atas kematian Kiai Rochmadi, yang kebetulan juga aktivis Partai Persatuan Pembangunan. "Mereka terpanggil untuk menjaga kehormatan para kiai," ujar K.H. Nurul Huda, Ketua NU Demak. Namun, aksi ini sempat diredakan setelah Kepala Polda Ja-Teng Mayjen Nurfaizi berjanji segera menangkap pelakunya. Tapi tak ayal Desa Donorejo beberapa hari ini tampak seperti "desa janda". Para lelaki tak lagi berani tidur di rumah. Mereka mengungsi setelah terbetik kabar desa mereka akan diamuk Banser. Serangkaian pembunuhan kasus Jember sampai Demak ini sulit disederhanakan sebagai kriminal murni, seperti yang sebelumnya dikukuhi aparat keamanan. Terbukti kemudian, Panglima ABRI Jenderal Wiranto, ketika hari Minggu lalu bersilaturahmi dengan para tokoh masyarakat dan ulama di Banyuwangi, menyatakan aksi teror dan pembunuhan itu merupakan akibat langsung dari pertarungan antar-elite politik. Bahkan, Ketua Umum PBNU Abdurrahman Wahid, ketika menerima Barisan Nasional pekan lalu, menyebutkan dalang kasus di Banyuwangi itu ada di Kabinet Reformasi Pembangunan. Pernyataan Gur Dur ini segera memancing polemik. Dan sejumlah menteri lantas meminta agar Gus Dur menunjuk hidung atau minimal melaporkan orang itu ke Markas Besar Kepolisian RI. Dengan demikian, tidak ada saling curiga. Barangkali betul ada dalangnya. Tapi bisa jadi ini bukan pertarungan kaum elite, hanya balas dendam orang di daerah. Balas dendam kepada siapa, untuk kasus apa, memang masih ditelusuri. Yang jelas, nyawa begitu mudah melayang. Kematian Arifin, warga Kabat, Banyuwangi, misalnya. Alkisah, suatu hari tetangganya minta obat untuk kerbaunya yang lagi sakit. Setelah obat diperoleh dan dibawa pulang, kerbau itu malah mati. Tiba-tiba saja Arifin dituduh menyantet kerbau itu. Arifin dikeroyok ramai-ramai, bahkan oleh orang luar desanya. Ia disebut-sebut sebagai dukun santet berdasarkan isu yang menyebar dari mulut ke mulut. Dengar saja pengakuan seorang pelaku saat ditemui di sel Kepolisian Resor Banyuwangi: "Tahunya dari warga, saya cuma ikut-ikutan." Memang santet sudah menjadi bagian keyakinan orang Using, bahkan tumbuh dalam budaya setempat. Tapi pola perlakuan masyarakat dulu terhadap dukun santet jelas berbeda dengan yang terjadi saat ini. K.H. Ali Muchaidlori, Ketua MUI Banyuwangi, menuturkan, walau sejak dulu selalu ada yang mati dibunuh karena isu santet, pelakunya selalu penduduk setempat. Dan tidak sebrutal sekarang. Abdul Sukur, yang sudah 23 tahun tinggal di Desa Sukojati, sampai terheran-heran, "Seumur-umur, baru kali ini ada tukang santet dibunuh ramai-ramai." Seingatnya dulu, paling-paling rumah orang yang dicap dukun santet dilempari batu. Hukuman maksimalnya cuma diusir ke luar desa. Sedangkan sekarang, para "dukun santet" mati dengan cara amat mengenaskan. Para pelakunya seperti sudah tak mengenal rasa iba. Ada yang digantung sampai mati di pohon, batok kepalanya pecah dibelah kapak, dan ada yang kelojotan dipanggang api. Yang juga mengherankan K.H. Ali Muchaidlori, sumpah pocong tidak lagi mampu menjadi peredam. Dulu, tersangka tak lagi dicurigai setelah disumpah pocong. Sekarang, tetap saja dibunuh walau sudah bersumpah. Seperti yang menimpa Jumain. Bersama enam orang lainnya, Jumain disumpah di masjid Desa Kaliklatak, Kalipuro, Minggu dua pekan lalu, tapi dua hari kemudian dikeroyok dan kepalanya remuk dibelah kapak. Demam ketakutan kini menyebar ke seluruh pelosok tapal kuda di Jawa Timur. Warga siaga setiap saat, tapi tak bisa mengetahui secara persis siapa musuh mereka. Masyarakat menjadi tegang, saling curiga. Ketegangan ini bertambah dengan maraknya aksi teror dan ninja. GP Ansor Surabaya mencatat seribu lebih kiai dan guru mengaji mendapat teror. Ada yang disatroni langsung ke rumahnya atau diancam lewat telepon. Seperti telepon untuk Ustad Ali Fatchurrahman: "Anda dukun santet." Sesudah itu, telepon langsung dimatikan. Soleh Hasbullah, komandan Laskar Sakerah Ja-Tim, punya firasat lain. Menurut dia, meski belum tentu orang komunis ada di belakang pembantaian para ulama NU itu, suasana di Bangkalan mirip benar dengan saat Gestapu dulu. Pondok Pesantren Nur Kholil dikirimi buah beracun. Untunglah, K.H. Zubair Muntashar, pemimpin pondok yang gemar makan buah, tidak langsung melahapnya. Ia berikan ke hewan peliharaannya, yang memang langsung kelojotan sesaat setelah menelan buah itu. Para santri pun jadi sensitif. Rabu pekan lalu, tersiar desas-desus bahwa K.H. Soleh bin Zeid Al Yamani, pengasuh Majelis Taklim As Salafi di Nyamplungan, Surabaya, tewas disembelih ninja. Maka ribuan orang bergerak memorak-porandakan markas Polsek Semampir, yang diduga menyimpan sang pelaku. Padahal, sampai hari ini sang kiai sehat walafiat. Cuma memang, beberapa hari belakangan, rumah sang Kiai kerap disatroni orang-orang yang mencurigakan. Dan petugas keamanan tenang-tenang saja. Mungkin karena alasan itulah, Rabu pekan lalu, lebih dari 2.000 kiai NU duduk bersila di halaman Pondok Pesantren Langitan, Tuban. Di depan Panglima Kodam V/Brawijaya Mayjen TNI Djoko Subroto dan Kepala Polda Ja-Tim Mayjen Pol. M. Dayat, para ulama terang-terangan mengungkapkan kekecewaannya atas kelambanan penanganan aparat. Aparat keamanan bukannya tak bekerja. Menurut Kolonel Pol. Budi Utomo, Kepala Polisi Wilayah Besuki, sampai saat ini pihaknya telah menangkap 156 tersangka. Tapi, yang jadi kendala, kalangan yang pro-pembunuhan juga amat banyak. Akibatnya, karena takut diamuk massa, aparat di lapangan jadi tak berkutik, meski sudah menggenggam senjata berpeluru. Kelambanan aparat ini membuat para kiai memutuskan menghadapinya dengan cara-cara NU sendiri. Meskipun, kata K.H. Hasyim Muzadi, Ketua PW NU Ja-Tim, warga NU tetap bekerja sama dengan ABRI. Kabarnya, sejak Jumat lalu, 600 personel Banser Bojonegoro telah menjalani latihan intensif di sebuah tempat yang dirahasiakan. "Kalau para ninja itu bisa terbang, akan kita latih Banser supaya bisa terbang juga," kata Muslikh Fatah, Ketua GP Ansor Bojonegoro, geram. Para kiai pun sepakat mengganti istilah "gerakan antisantet", yang diyakini cuma sebagai dalih, menjadi Aksi Teror, kepanjangan dari "Aliansi Kejahatan dengan Sasaran Islam dan Indonesia secara Terorganisir". Soalnya, para kiai NU sudah sampai pada kesimpulan: aksi teror itu sangat mungkin dilakukan kelompok terorganisasi. Sasarannya, ujar K.H. Hasyim, memecah belah umat Islam. Tentu itu bukan sembarang kesimpulan. Soalnya, menurut Ketua DPW PKB Ja-Tim, Choirul Anam, Tim Pencari Fakta NU telah melakukan investigasi ke seluruh pelosok Banyuwangi. Sejumlah data kini ada di tangan mereka. Bukan cuma nama pelaku, tapi juga penyandang dana dan dalangnya. Berawal dari menelusuri sepucuk surat kaleng, tim menyimpulkan adanya aksi terorganisasi dengan preman sebagai motornya. Bahkan, Anam berani menunjuk sebuah nama: Agus Indrawan, seorang calo kir kendaraan di DLLAJR Banyuwangi, sekaligus tokoh preman yang cukup disegani. Aguslah yang merekrut anak buah untuk dijadikan algojo. Bukan cuma dari Banyuwangi, tapi juga dari Surabaya dan daerah sekitarnya. Aksi para bergajul ini diduga kuat dibekingi oknum polisi dari satuan Intelpam Polres Banyuwangi. Anam bukan asal njeplak. Itu adalah hasil investigasi timnya setelah membuntuti komplotan tersebut. Kepada anak buahnya, Agus selalu menekankan supaya tidak usah khawatir soal keamanan karena adanya jaminan dari sang beking. Setelah dicek, tiga orang anak buah Agus memang telah membantai sejumlah korban. Dan ajaibnya, tiga "algojo" itu terlihat bebas keluar masuk markas polres, tanpa disentuh seujung rambut pun. Tim juga berhasil menemukan tujuh pelaku pembunuhan yang belum dijamah aparat. Mereka mengaku sudah membantai empat korban atas perintah dan biaya seorang lurah. Kepada tim, mereka telah menyatakan kesanggupan membongkar komplotan itu. Sayang, mereka keburu menghilang. Salah seorang di antaranya, 28 September lalu, ditemukan sudah tak bernyawa. Sang lurah yang disebut-sebut pun ikut raib. Rekrutmen komplotan itu dilakukan secara amat terencana, begitu tutur Anam. Di Banyuwangi timur, hal itu dilakukan orang dengan berkendaraan, sembari menyelipkan amplop berisi uang sebanyak Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Daftar nama dan alamat lengkap korban sudah disiapkan. Kalau menolak, mereka diancam dibunuh. Begitu pula kalau sampai tertangkap. Sedangkan di Banyuwangi barat, pola serupa dilakukan para lurah. Dananya dikumpulkan perangkat desa dari berbagai pihak, termasuk warga desa setempat. Yang menolak diancam akan dimasukkan ke dalam daftar "dukun santet". Dari pola yang terencana rapi, sistematis, membutuhkan dana besar, dan melibatkan ratusan orang tersebut, Anam berkesimpulan bahwa aktor yang bermain di balik kasus ini tentu bukan orang sembarangan. Yang jelas, katanya, mereka adalah kelompok yang ingin mempertahankan status quo, dengan menjadikan kasus Banyuwangi sebagai entry point. Tujuannya menimbulkan kekacauan, sekaligus menyebar rasa takut, untuk mengganjal roda reformasi. Iqbal Assegaf, Ketua GP Ansor, menganalisis ada desain terencana yang menjadikan basis NU sebagai target operasi. Massa NU dijadikan sasaran karena terkenal solid. Sehingga, kalau komunitas ini mengalami geger, dampaknya pasti meluas. Jakarta akhirnya dijadikan sasaran akhir. Seperti diutarakan Matori Abdul Jalil, Ketua Umum PKB, dengan kekacauan ini tersedia dalih untuk menunda pelaksanaan Sidang Istimewa MPR dan pemilu. Matori melihat ada modus yang sama dalam kasus perusakan kantor YLBHI di Jakarta beberapa waktu lalu. Juga teror pada tim relawan kasus kerusuhan Mei lalu. Gus Dur, menurut Matori, telah menunjuk hidung pelakunya sebagai "avonturir kanan" yang ingin memanfaatkan momentum reformasi untuk mundur kembali ke politik aliran. Arahnya bukan ke pemerintah, ujar Matori, tapi pada kekuatan reformasi. Ulama dihujat sebagai tukang santet, LBH dituduh sebagai agen Amerika. Menurut Iqbal, Gus Dur sudah membidik aktor intelektualnya: "Otaknya ada di Jakarta." Karaniya Dharmasaputra, Agus S. Riyanto, Zed Abidien, Bandelan Amarudin (Demak), Jalil Hakim (Surabaya)
|