Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIII/20 - 26 Oktober 1998
   
Nasional

Mereka Mengais Hidup di Jalan

Pemerintah mencoba menertibkan anak jalanan. Tapi sulit berhasil dalam krisis ekonomi seperti sekarang.

ANAK laki-laki itu menangis dan meronta. ??Saya mau ulangan besok, Pak,?? kata Ian, seorang pelajar SD di Jakarta, ketika terjaring dalam operasi penertiban anak jalanan, Selasa pekan lalu. Ian ternyata tak bohong. Orang tuanya, yang menjemputnya di Panti Sosial Bina Karya di Kedoya, menjelaskan bahwa Ian memang bekerja sebagai penjaja koran untuk membantu biaya sekolah. Maka, Ian dan 13 penjaja koran lain akhirnya dilepas, tapi 11 anak lainnya yang tak punya keluarga terpaksa "diamankan" di Kedoya sebelum disalurkan ke panti sosial atau panti asuhan.

Operasi penertiban seperti ini belakangan digalakkan kembali oleh polisi dan aparat pemda. Mereka main hantam kromo dan menciduk semua anak yang berkeliaran di jalan, walau sebagian dilepaskan lagi kalau dijemput keluarganya. Rupanya, banyaknya anak-anak di jalanan ini diyakini sebagai penyebab naiknya angka kriminalitas. Padahal, jumlah mereka tidaklah sedikit. Di Jakarta saja, menurut perkiraan Panji Putranto, Koordinator Program Nasional Organisasi Buruh Internasional PBB, jumlahnya sekitar 10 ribu anak, dua kali lipat ketimbang tahun sebelumnya.

Kesimpulan aparat bahwa anak jalanan identik dengan kejahatan rupanya didapat dari laporan para pengemudi yang kendaraannya kerap dijaili bila tak memberikan kepingan rupiah. "Soalnya, saya butuh makan dan membantu kebutuhan orang tua," begitu alasan Bakir Gudel, seorang "polisi cepek"--pemuda yang membantu pengemudi yang akan berbelok dengan imbalan Rp 100--di Semarang.

Fakta adanya kenaikan angka kriminalitas, ditambah perilaku seksual menyimpang anak-anak jalanan ini, membuat pemerintah menganggap perlu "meluruskan" jalan anak-anak korban "pembangunan" itu. Dengan merujuk pada Peraturan Daerah DKI Nomor 11 Tahun 1988 mengenai gangguan ketertiban umum, Pemda DKI bersama polisi pun menggelar razia. Anak-anak korban garukan diberi keterampilan sebelum disalurkan ke panti sosial atau panti asuhan. Hal serupa dilakukan Departemen Sosial dengan memberi pelatihan keterampilan untuk keluarga di desa-desa di beberapa daerah, sejak awal tahun ini.

Namun, cara ini terbukti tak mempan untuk "mendidik" anak-anak itu. Panti seperti ini dalam pandangan mereka dianggap seperti penjara yang harus dihindari. Maka, menurut D. Situmorang, Kepala Panti Sosial Bina Karya, ia jarang mendapatkan anak jalanan yang sampai dua kali terjaring razia. ??Soalnya, mereka sudah tahu bagaimana cara menghindar atau lari kalau ada operasi,?? ujarnya.

Rupanya, keterampilan yang diberikan tak bisa meningkatkan penghasilan yang tiap hari mereka keruk dari jalanan. Padahal, soal penghasilan ini penting karena tak semua anak jalanan mencari uang untuk ngelem. Sebagian lain, menurut Situmorang, turun ke jalan karena perlu uang untuk membantu orang tuanya atau untuk biaya sekolah.

Persoalan anak jalanan memang persoalan klasik yang hingga kini masih terus mewarnai sudut-sudut kota. Penyelesaiannya tak bisa dilakukan dengan mudah, terlebih pada masa krisis keuangan seperti sekarang. Karena itu, apa yang diucapkan Presiden B.J. Habibie tampaklah naif. ??Tidak boleh ada lagi anak kecil yang seharusnya sekolah tapi menjadi pengemis atau cari uang. Ini keputusan presiden,?? ujarnya Sabtu pekan lalu.

Kompleksnya masalah ini diakui oleh Ariest Merdeka Sirait, Ketua Yayasan Komite Pendidikan Anak-Anak Kreatif Indonesia (Kompak). Bahkan, dengan mengembalikan anak-anak jalanan ke sekolah, seperti yang dicanangkan Habibie dengan menyediakan anggaran Rp 1,5 triliun untuk beasiswa 4 juta anak, pun tak berarti langsung menyelesaikan masalah. "Anak-anak sudah mendapat pesan dari orang tuanya untuk menghidupi keluarga akibat krisis ekonomi. Segratis apa pun, anak itu tidak akan pergi ke sekolah," katanya.

Satu-satunya jalan untuk menekan populasi anak jalanan adalah mengurangi kemiskinan dengan membangkitkan kembali roda perekonomian. Sebuah hal yang saat ini sungguh sulit dilakukan oleh pemerintah.

Ma?ruf Samudra

Infografik:

Kegiatan yang dilakukan anak-anak di jalanan
n Mengemis
n Mengamen
n Meminta uang dengan kotak sumbangan
n Polisi cepek
n Memaksa mengelap kaca
n Berjualan koran dan asongan lainnya


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Kapolda Jawa Barat Copot Dua Kapolsek - 05 Sep 2008 | 21:29 WIB
Bupati Aceh Besar Mengundurkan Diri - 05 Sep 2008 | 21:19 WIB
Guru Tolak Aturan Pendanaan Pendidikan - 05 Sep 2008 | 21:16 WIB
Fernando Alonso Kuasai Free Practice 2 - 05 Sep 2008 | 21:07 WIB
Al Amin Mengaku Tak Berpengaruh di Komisi Kehutanan DPR - 05 Sep 2008 | 21:02 WIB
Kapolda Jawa Barat Mengaku Ditawari Suap Rp 10 Miliar - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Hughes Bersumpah Jadikan City Raksasa Eropa - 05 Sep 2008 | 20:53 WIB
Bupati Aceh Besar Mundur, Surat ke Menteri Ditulis Tangan - 05 Sep 2008 | 20:44 WIB
Simulasi Pemilihan 2009 Dinilai Tak Efektif - 05 Sep 2008 | 20:40 WIB
Bapepam Akan Gugat Eurocapital - 05 Sep 2008 | 20:32 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data