|
Kehadiran Abdurrahman Wahid, Jenderal Wiranto, dan jajaran ABRI lainnya seperti Edi Sudradjat, Ali Sadikin, Sarwono Kusumatmadja, dan mereka yang selama ini terkesan berlainan "tempat", dalam Apel Akbar Generasi Muda Nahdlatul Ulama di Senayan, 11 Oktober 1998, sungguh menarik. Di tengah suasana bangsa yang sarat dengan keprihatinan, ternyata bapak-bapak terhormat itu masih punya cukup waktu untuk "berhalal-bihalal" politik seperti itu.
Hal yang mengherankan ialah, mengapa dalam acara seperti itu Abdurrahman Wahid dan Wiranto menyerang soal negara federal, yang secara politik jelas ditujukan pada dan menohok Amien Rais dengan PAN-nya. Acara itu terkesan membawa aroma politik tertentu. Padahal, sejak awal Amien menawarkan wacana. Kenapa diserang secara tendensius?
Saya setuju dengan imbauan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) agar ABRI tidak memihak satu golongan. Tapi, ABRI juga jangan mulai terseret kembali untuk terlibat dalam acara seperti apel akbar dan sejenisnya, yang sesungguhnya memiliki nuansa politik tertentu dan berada dalam golongan tertentu. Apakah ABRI mau mengulangi hal yang sama ketika bergandengan dengan Golkar?
Pak Wiranto, mohon diingat, janganlah ABRI diseret kembali untuk "main mata" politik. Harap diingat, Gus Dur dengan PBNU-nya sendiri tidak netral secara politik.
Memang, apel itu mengangkat isu integrasi bangsa. Namun, mohon diingat bahwa anggota masyarakat lain juga tidak bodoh dalam menangkap nuansa politik dari acara itu. Mohon diingat pula bahwa semua komponen besar bangsa memiliki semangat yang sama, apalagi Amien Rais dengan PAN-nya. Wacana negara federal jangan digiring menjadi antiintegrasi nasional, apalagi dianggap membahayakan negara. Apakah dedikasi Amien Rais untuk bangsa ini masih kurang? Amien memang jarang bermain mata atau kucing-kucingan politik, sehingga dia lebih tampil sebagai Werkudoro. Tapi, janganlah ia disudutkan secara sepihak begitu.
Zaini Ahsan
Yogyakarta
|