Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIII/20 - 26 Oktober 1998
   
Kolom

Pembantaian

Perburuan dukun santet pernah merambah Eropa dan Amerika. Di Eropa dilakukan terakhir kali pada 1782 di Swiss. Penentuan apakah seseorang dianggap tukang santet atau tidak itu berdasarkan keyakinan massa, tanpa bukti-bukti yang jelas. Memang adakalanya vonis dijatuhkan melalui proses pengadilan khusus, tapi pengadilan ini pun diragukan obyektivitasnya. Maka, banyak yang mati digantung, atau ditenggelamkan oleh massa, atas tuduhan yang tak berdasar. Karena itu pula perburuan dukun santet tempo dulu itu sering menjadi sarana pelampiasan balas dendam, kecemburuan, atau iri hati.

Di masa pemerintahan Raja Erlangga di Daha, dikisahkan ada seorang rangda dari Desa Girah bernama Calon Arang yang dituduh sebagai tukang santet (teluh). Ia telah dituduh sebagai penyebab terjadinya wabah yang banyak membunuh rakyat Daha. Konon, karena Calon Arang marah akibat anak gadisnya dilecehkan orang Daha, ia meminta bantuan Batari Bhagawati untuk membalas dendam. Seperti dikutip dalam Purana Castra: "Tan suwe agering tika wang sadesa-desa, makweh pejahnya....Geringnya panas-tis. Magering sadina rong dina, paratra" ("Tidak lama kemudian penyakit merambah di desa-desa. Banyak yang mati. Sakitnya panas dingin. Sakit sehari dua hari terus meninggal"). Mendengar laporan tentang hal itu, Raja Erlangga memerintahkan agar Calon Arang dibunuh.

Guru sejarah saya di SMP dulu mempunyai versi lain. Menurut dia, Calon Arang adalah seorang kepala desa yang memberontak terhadap raja. Ketika kebetulan ada wabah pes menyerang Daha, Erlangga mempunyai alasan untuk mengajak rakyat berbalik memusuhi Calon Arang dengan tuduhan sebagai penyebab terjadinya wabah. Jika teori guru saya itu benar, Erlangga telah menggunakan isu dukun santet untuk tujuan politik.

Penggunaan isu dukun santet untuk tujuan politik juga pernah dilakukan di zaman modem, dengan sedikit modifikasi. Nazi Jerman, menjelang Perang Dunia II, telah berhasil mengajak rakyat Jerman mengeiar dan memasukkan orang Yahudi ke dalam kamp konsentrasi dengan isu bahwa mereka adalah "pencemar budaya Arya, tukang santet, dan belatung pemakan mayat." Pembunuhan oleh massa secara langsung mungkin tidak terjadi, tapi pada akhirnya sama saja: mereka dibunuh oleh institusi resmi pemerintah Nazi. Modus operandinya sama, yaitu meyakinkan rakyat bahwa ada orang di antara mereka yang mempunyai dosa yang sangat besar sehingga layak dibunuh tanpa peradilan. Pemburuan terhadap mereka yang dituduh terlibat G30S pada 1965 dan 1966 pun demikian.

Arthur Miller melalui karyanya, The Crucible, yang tahun lalu difilmkan oleh sutradara Nicholas Hytner, menggambarkan betapa motivasi cemburu, dendam, dan puritanisme bercampur aduk mengacaukan Kota Salem dalam peristiwa pemburuan dukun santet. Kisah ini dilatarbelakangi peristiwa nyata pada akhir abad ke-17, yaitu perburuan dukun santet di Salem. Saling curiga antarpenduduk pun memuncak dan segala sesuatu dikaitkan dengan perbuatan dukun santet. Tiap orang merasa paling suci dan membenci dukun santet, termasuk Abigail (Winona Ryder), yang sebenarnya menjadi pencetus kerusuhan karena ia sendiri takut dituduh sebagai tukang santet. Terjadi histeria massal di antara penduduk dan selanjutnya juga kemunafikan. Miller menulis kisah ini pada 1953, ketika rakyat Amerika sedang mengalami paranoia berlebihan terhadap komunis, sehingga konon Miller sebenarnya hendak mengkritik masyarakat Amerika yang dengan mudah mengecap setiap orang yang tidak berkenan di hati sebagai komunis.

Lalu apa kira-kira latar belakang pembunuhan dengan dalih dukun santet di Jawa Timur baru-baru ini? Motivasi politik seperti yang dimiliki Erlangga atau Nazi biasanya hanya dapat dilakukan oleh kelompok politik yang kuat. Menjelang tahun 1965, PKI pun melakukan teror semacam itu ketika dirinya sudah mulai kuat. Mungkinkah kini hal itu dilakukan oleh anak-anak orang PKI yang dulu dibunuh masyarakat dan kini hendak membalas dendam? Atau oleh sebab lainnya? Agaknya adegan film The Crucible sedang berlangsung di sini.

Apa pun latar belakangnya, yang menjadi pertanyaan: mengapa rakyat di zaman modern ini masih dapat dihasut untuk membunuh orang hanya dengan tuduhan dukun santet? Padahal di antara yang dibunuh itu ada guru mengaji dan kiai yang di Jawa Timur tentunya sangat dihormati. Begitu tegakah rakyat Jawa Timur, yang terkenal religius, membantai para kiai? Dalam buku Violence, Terrorism and Justice, Annette C. Baier menulis: orang yang kehidupannya sangat terpuruk akan menganggap enteng nyawa orang lain (people grow more reckless of the lives of others as their own lives become more wretched, insecure and intolerable). Dengan upah sedikit pun mereka tidak peduli lagi siapa yang mereka bunuh dan untuk tujuan apa. Untuk bertahan hidup, mereka tidak lagi bertanya, "Bolehkah aku membunuh?" tapi, "Siapa yang harus kubunuh, kapan, dan bagaimana caranya?"

Konsep keadilan pada mereka sudah mengalami distorsi karena apa yang mereka lakukan juga dianggap bagian dari rasa keadilan yang selama ini terampas. Seperti ungkap Baier selanjutnya: dapat dipahami, orang yang sudah tersingkir, terpuruk, dan terhina tapi semangatnya belum padam akan mengemukakan kemarahannya tanpa peduli apakah bentuk kemarahan itu bermanfaat bagi perjuangannya. Mungkinkah rakyat Jawa Timur yang mau dihasut untuk membunuh para kiai itu tergolong pada kelompok yang tersingkir dan terhinakan tersebut? Jika memang demikian, penyelesaiannya bukan hanya dengan khotbah tentang betapa buruknya moral pembunuh, atau dengan hanya menangkap dan memenjarakan mereka. Perlu ada upaya untuk mengangkat mereka dari perasaan tersingkir dan terasingkan, dari keterpurukan, dan dari kehinaan. Termasuk bagi keluarga eks PKI. Mungkin masih ada yang tetap ingin membalas dendam, tapi massa tidak akan mudah lagi terhasut.

*Mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data