Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIII/20 - 26 Oktober 1998
   
Film

Di Bawah Bayang-Bayang (Hitam) Hitchcock

Sutradara Andrew Davis mencoba membuat ulang karya klasik Alfred Hitchcock, Dial M for Murder. Meski menggunakan pemain-pemain terkenal, dia gagal membuat interpretasi ulang.

A PERFECT MURDER
Sutradara: Andrew Davis
Pemain: Michael Douglas, Gwyneth Paltrow
Skenario: Patrick Smith Kelly, berdasarkan naskah drama Frederick Knott Dial M for Murder
Produksi: Warner Bros

Syahdan, New York yang riuh-rendah dan gemerlapan itu terdiri dari manusia-manusia yang sunyi. Salah satu warganya, Emily Taylor (Gwyneth Taylor), seorang istri pengusaha kaya-raya dan cantik itu adalah sosok yang sepi. Dengan suami Steven Taylor (Michael Douglas), pengusaha terkemuka di New York yang sangat berkuasa dan posesif, Emily terpaksa menyelinap di antara jam-jam makan siang untuk bergumul di peraduan kekasihnya, David Shaw (Viggo Mortensen).

Alur cerita kemudian seperti mudah ditebak. Steven menemui David dan menyuruh pelukis amatiran itu membunuh Emily. Jika David tak bersedia, Steven akan menguak seluruh latar belakang kriminalitas David, pelukis kacangan yang gemar nyantel pada perempuan kaya raya. Tentu saja tawaran diterima David. Maka skenario pembunuhan pun direncanakan.

Tapi ini bukan sebuah film tentang siapa sang pembunuh, melainkan sebuah rangkaian misteri: bagaimana seorang pembunuh terkecoh oleh pembunuh (lain).

Diadaptasi dari film klasik terkemuka Dial M for Murder karya Alfred Hitchcock tahun 1954--yang sebetulnya juga merupakan adaptasi dari naskah drama Frederick Knott--film ini merombak seluruh seting, lokasi, dan nama-nama tokoh film.

Pada masanya, film Dial M for Murder, yang dibintangi oleh Grace Kelly dan Ray Milland itu, dikategorikan sebagai sebuah film noir (black movie atau film gelap) klasik yang menjadi perdebatan sepanjang zaman. Dalam studi sinematika bagi para mahasiswa sinematografi, film Vertigo dan Dial M for Murder karya Hitchcock adalah film wajib bagi mahasiswa untuk mempelajari sejarah film noir di Amerika dan Eropa.

Film noir, meski sebuah terminologi Prancis, adalah sebuah aliran film Amerika yang lahir pada 1920-an. Ini sebutan para kritikus film Prancis bagi film-film Amerika yang memiliki imaji yang gelap, menyerupai novel-novel Prancis Serie Noire. Film Double Indemnity, Murder My Sweet, dan The Postman Always Rings Twice menerjemahkan kehidupan dari sisi gelap, bagian-bagian kotor, dan terendah dari jiwa manusia. Film Dial M for Murder--meski lebih banyak direkam di studio dan pencahayaannya sangat datar serta cenderung membosankan--ia tetap melejit karena kecerdasan skenario menampilkan kebengisan para (calon) pembunuh yang merancang skenario pembunuhan.

Pembunuh dalam kamus Hitchcock tak pernah tampil sebagai sosok stereotip--misalnya, seorang anak berwajah sayu bisa saja mendadak menjadi seorang pembunuh haus darah--sehingga daya kejut itu akan selalu tampil sebagai menu utama film. Kegelapan atau ciri film noir itu tidak tampil secara fisik, melainkan diterjemahkan melalui jiwa para tokoh.

Adapun sutradara Andrew Davis, yang sebelumnya sukses dalam film The Fugitive dengan pemain Harrison Ford, mengadaptasikan film itu ke sebuah lokasi yang lebih megah dan lebih gelap secara fisik. New York yang gigantik dan riuh-rendah ditampilkan sebagai sebuah raksasa yang mampu membuat seorang wanita jelita kesepian dan menderita. Film noir dalam adaptasi ini akhirnya menjadi sebuah terjemahan dalam arti fisik: apartemen suami-istri yang gelap, kantor polisi yang dingin, kamar kos sang pelukis yang serba kumuh, dan baju para pemain yang serba gelap. Tapi selebihnya adalah Hollywood dan thriller.

Artinya, daya kejut dan ketegangan demi ketegangan yang digunakan untuk daya jual (demikian bunyi filsafat Hollywood), pemasangan pemain yang dipaksakan hanya karena nama itu sedang in (mohon maaf, meski ganteng, Douglas harus tahu diri bahwa Gwyneth Paltrow lebih cocok menjadi anaknya, bukan istri), dan akhir cerita yang terlalu banyak penjelasan, merupakan sebuah pengkhianatan terhadap kedahsyatan suspens yang kita kenal dari Hitchcock.

Sejak sukses The Silence of the Lamb karya Jonathan Demme, film thriller yang lahir dari studio besar Hollywood bagai keranjingan merayakan kebejatan alam bawah sadar manusia: peristiwa pembunuhan berantai, istri membunuh suami, serta kakek memerkosa cucu menjadi tema yang laris manis. Film Seven karya David Fincher, Copycat karya Jon Amiel, adalah contoh film thriller yang cukup berhasil menampilkan sisi gelap manusia.

Dibandingkan dengan Dial M for Murder, film A Perfect Murder adalah sebuah film thriller konvensional yang menghibur penonton dengan ketegangan semu. Tapi, apa lagi yang diharapkan dari sebuah film remake (pembuatan ulang)? Sebuah tiruan tak akan bisa menyamai sebuah karya asli. Yang sepatutnya dilakukan Andre Davis adalah interpretasi ulang. Dan dia gagal melakukannya.

Leila S. Chudori


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data