Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIII/20 - 26 Oktober 1998
   
Ekonomi dan Bisnis

Kuburan Karat di Cikampek

Mimpi besar Tommy Soeharto terkubur di Cikampek. Tepatnya, di Kawasan Industri Mandala Pratama Permai. Di areal seluas 700 hektar ini, tersimpan 14 ribu stok Timor, yang telah diborong pengusaha Iwan Cakradikarta, bos Sumber Auto Graha (bukan Iwan Winata seperti diberitakan Tempo, 19 Oktober). Di dalam gedung pabrik, ribuan suku cadang dan mesin perakit komponen terbengkalai.

Liputan Tempo ke Cikampek menunjukkan proses produksi Timor Putra Nasional (TPN) sudah mandek. Suasana lengang sangat terasa. Puluhan karyawan hanya bertugas menjaga kondisi aset agar tidak berkarat. Tapi karat bukan robot yang taat instruksi. Di sana-sini, lapisan tahi besi itu "menjarah" suku cadang Timor.

Situasi suram ini tak diperhitungkan saat Tommy merilis mobnas. Berbekal surat keputusan presiden, anak Soeharto ini bermimpi membangun industri mobil nasional yang tak lagi bergantung pada komponen impor. Tommy seperti tak peduli, mimpinya membuat pemerintah menelan ludah sendiri. Ada sejumlah peraturan atau pakta perjanjian yang sudah diteken pemerintah harus dilanggar.

Pertama, Timor menyalahi prinsip perdagangan bebas versi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Kedua, mobnas ini juga bertentangan dengan sejumlah undang-undang, yang kedudukannya lebih tinggi ketimbang keputusan presiden. UU Perpajakan, misalnya, tak membolehkan diskriminasi pajak untuk kelompok industri tertentu. Tapi Soeharto pantang surut. Beberapa menteri yang berkaitan dengan proyek ini dikerahkan berjibaku untuk Timor. Tunky Ariwibowo, Sanyoto Sastrowardoyo, dan Mar?ie Muhammad adalah contoh pejabat yang rela atau terpaksa memuluskan jalan Timor.

Status yang dahsyat ini membuat Timor memimpin pasar sedan 1.500 cc. Enam bulan pertama tahun lalu, TPN berhasil melego 10 ribu unit Timor. Bandingkan dengan pemain lama Toyota Starlet, untuk periode yang sama, hanya sanggup menjual 1.300 unit.

Tapi angin berubah. Krisis datang. Demi penyehatan perekonomian, IMF membabat perlakuan istimewa untuk Timor. Pada masa jayanya, Timor mempekerjakan 800 karyawan, tapi kini tinggal 200 orang. Itu pun tak banyak yang bisa dikerjakan. Kecuali kalau Timor membanting mimpinya. Kalau ndak bisa bikin mobil, membuat panci pun tak apalah.?


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data