Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/XXIIIIIII/06 - 12 Oktober 1998
   
Wawancara

Kolonel A. Latief: ?Kami Harus Bertanggung Jawab?

MUNGKIN, pada akhirnya, sejarah milik para pemenang. Hal yang sama berlaku bagi Peristiwa G30S pada 1965. Sebelum Soeharto tumbang, versi yang berlaku resmi hanyalah buku putih buatan pemerintah Orde Baru. Versi lain hanya beredar dalam bentuk analisis Barat, misalnya, atau dengan suara pelan di kalangan terbatas. Di tengah hiruk-pikuk berbagai suara ini, ada rangkaian kejadian seputar G30S yang bisa dicatat, di antaranya:

Bulan Agustus 1965

Kesehatan Bung Karno makin merosot. Kondisi ini memicu beberapa pihak yang memiliki kepentingan. Aidit, lewat Biro Khusus PKI yang dipimpin Syam, semakin intensif dalam menggarap sejumlah perwira Angkatan Darat seperti Letkol Untung, Brigjen Soepardjo, dan Kolonel Latief. AD melakukan konsolidasi dengan adanya isu "Dewan Jenderal".

19 September 1965

Rapat kelima Dewan Revolusi--demikian sebutan Untung untuk kelompoknya--akhirnya memutuskan Letkol Untung sebagai pemimpin gerakan. Yang dibicarakan adalah perintah penjemputan perwira tinggi yang dikategorikan sebagai "Dewan Jenderal". Latief sempat memprotes penunjukan Untung. Namun, Syam meyakinkan bahwa Untung orang yang tepat.

21 September 1965

Pasukan Brawijaya menerima radiogram dari Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Mayjen Soeharto untuk berangkat ke Jakarta untuk berdefile pada Hari ABRI, 5 Oktober. Anehnya, ada perintah untuk melengkapi pasukan dengan peralatan tempur.

28 September 1965

Latief berkunjung ke rumah Soeharto untuk menanyakan sikap Soeharto terhadap isu Dewan Jenderal. Saat itu, menurut Latief, Soeharto menyatakan akan menyelidiki.

30 September 1965

Pagi hari

Tiga batalyon yang dipanggil Pangkostrad, yaitu Yon 530 Brawijaya, Yon 454 Diponegoro, dan Yon 328 Siliwangi, melakukan latihan upacara. Soeharto datang menginspeksi.

Malam hari, sekitar pukul 22.00

Latief mendatangi Soeharto di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Menurut Latief, selain menengok Tomy yang ketumpahan sup, ia memberitahukan bahwa besok akan ada penjemputan para jenderal. Menurut versi Latief, reaksi Soeharto hanya manggut-manggut. Menurut versi Soeharto, ia melihat Latief di sal RSPAD.

Tengah malam

Pasukan Dewan Revolusi bergerak menuju kediaman para jenderal. Pemimpin pasukannya Letnan Doel Arief. Perintah Syam untuk menangkap hidup atau mati menyebabkan enam jenderal dan satu perwira pertama terbunuh. A.H. Nasution lolos.

1 Oktober 1965

- Pasukan Untung menguasai RRI dan mengumumkan berdirinya Dewan Revolusi yang menyingkirkan Dewan Jenderal yang berniat mengudeta Bung Karno.

- Soepardjo berusaha menemui Bung Karno di istana, tapi Bung Karno telah berada di Halim Perdanakusuma.

- Soepardjo dkk. berhasil menemui Bung Karno di Halim. Setelah diyakinkan bahwa tindakan yang diambil itu demi keselamatan dirinya, Bung Karno berjanji memberikan penyelesaian politis di antara pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam pertikaian.

- Pasukan Kostrad dan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) mulai bergerak ke Halim dan Lubangbuaya.

2 Oktober 1965

- Dengan pesawat, Aidit kabur ke Yogya, sementara Oemar Dhani ke Madiun.

- Pukul 06.00, pasukan gabungan RPKAD dan Kostrad mengepung Lubangbuaya. Kekuatan Untung dipatahkan.

4 Oktober 1965

Soeharto berbicara di RRI dan TVRI bahwa para perwira korban penculikan disiksa secara kejam sebelum dibunuh oleh PKI.

5 Oktober 1965

Para pahlawan revolusi dimakamkan. Harian Angkatan Bersenjata memuat foto korban dalam kondisi membusuk. Emosi rakyat mulai bangkit.

6 Oktober 1965

Pada saat Sidang Kabinet Dwikora di Bogor, Bung Karno menyatakan tidak merestui Dewan Revolusi. Akibatnya, PKI semakin tersudut. Maka, ketika tentara dan kekuatan sipil mulai bergerak, pemberantasan sisa PKI pun tak terhindarkan.

 

YAP (dari berbagai sumber)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data