Senjata untuk melawan demonstran Pemerintah amerika serikat menciptakan senjata yang tidak mematikan tapi efektif. dengan senjata ini, tidak perlu sampai jatuh korban begitu banyak di
timor timur, misalnya. |
MASSA yang marah kadang berlaku nekat. Apa pun bisa diterjangnya, tak peduli
mereka berhadapan dengan petugas bersenjata. Dihujani peluru? Untuk sesaat
kerusuhan memang dapat terhenti. Tapi urusan bisa jadi penjang. Banyak orang
yang merasa kesal karena polisi Amerika salah tangan ketika berurusan dengan
kelompok sempalan David Korest di Waco, Texas, April tahun lalu. Insiden itu
menyebabkan 86 orang tewas.
Peluru memang tak selalu menyelesaikan masalah, terutama setelah perang
dingin usai. Lihat saja betapa panjang gaung kecaman dunia atas insiden Dili,
Timor Timur, November 1991. Jangankan peluru tajam. Gas air mata, peluru
karet, dan pentungan berlistrik saja dianggap tak lagi memadai untuk
menghadapi massa yang beringas. Maka, pemerintah Amerika, juga PBB, merasa
perlu membuat senjata yang manusiawi: hanya melumpuhkan, tanpa mencederai.
Senjata ini berguna untuk operasi militer (melawan pemberontak misalnya) atau
menghadapi aksi demo yang beringas. "Dunia telah berubah. Taktik militer pun
harus berubah," ujar Dan Goure dari Center for Strategic and International
Studies, Washington.
Adalah insiden Waco itu yang mendorong pemerintah Amerika berupaya lebih
keras untuk memiliki senjata yang tak menebar maut, alias nonlethal weapons
(NLWs) itu. Tapi jauh hari sebelumnya Pentagon, departemen pertahanan Amerika,
diam-diam telah meneken kontrak pembuatan senjata NLWs itu dengan pelbagai
lembaga riset. Dari kontrak itu tampak Pentagon menginginkan "peluru" lain,
berupa laser, gelombang radio frekuensi tinggi, bahan kimia, pulsa
elektromagnetik, dan sebagainya.
Sejauh ini Pentagon belum mengumumkan prototipe senjata tak mematikan itu.
Namun, majalah kondang Newsweek sempat mengintip, lalu menuliskannya pada
edisi awal Februari lalu. Di antaranya ada yang sederhana, seperti pesawat
penghasil suara yang memekakkan kuping, atau kilatan lampu yang membuat mata
berkunang. Ada pula larutan kimia kental seperti pasta. Namanya slick-ems.
Bila aksi demo meledak, polisi boleh menyemprotkan slick-ems itu di jalanan
untuk menghadang arus massa. Jalan akan menjadi sangat licin. Para pejalan
kaki bisa terpelanting. Ban mobil dan truk akan jalan di tempat, alias selip.
Ada pula slick-ems yang mirip lem tikus yang banyak dijual di pasar swalayan,
di sini. Ia membuat jalanan menjadi lengket. Sepatu, ban mobil, bahkan tank,
akan lengket tak bergerak.
Ada lagi lem khusus buatan Sandia National Laboratories, lembaga riset
strategis milik pemerintah AS, di Albuquerque, New Mexico. Bahan kimia itu
bentuknya mirip adonan tepung, dikemas dalam tabung yang disebut goop gun.
Begitu disemprotkan, dan terkena udara, ia berubah menjadi tali-tali elastis
yang lengket. Demonstran yang terjerat tali ini tak bisa bergerak karena
saling menempel. Dengan satu tembakan ekstra, "onggokan tubuh manusia hidup"
itu bisa terikat di tiang listrik atau pohon.
Goop gun buatan Sandia Laboratories itu bahkan nantinya bisa menyulap orang
menjadi patung. Pelurunya berupa busa. Ketika ada massa yang beringas, busa
itu ditembakkan. Setelah satu-dua detik kontak dengan udara, busa itu
mengeras, dan kerumunan manusia itu akan terjebak di da-lamnya. Mereka tak
bisa bergerak, mendengar, atau melihat. Sekali terjebak dalam larutan kimia
slick-ems, tali, atau busa goop gun, orang sulit melepaskan diri. Tapi dengan
larutan khusus, ikatan bahan kimia itu bisa lepas. Di antara proyek NLWs
Pentagon itu, ada yang sudah siap diuji di lapangan, yakni jaring laba-laba
yang ditembakkan dari sebuah laras mirip pelontar mortir. Dari mulut laras itu
akan terlempar segumpal jaring dari kawat, yang dapat mengembang selebar 8,5
meter. Jaring ini akan lengket di tubuh truk atau kendaraan lapis baja milik
kaum pemberontak, misalnya dan membuatnya tak bisa bergerak. Untuk
melumpuhkan demonstran, ada pula jaring dari benang nilon, yang lebarnya 5,5
meter.
Pentagon menyiapkan pula senjata laser melalui Los Alamos Laboratory, salah
satu mitra kontraktornya. Pada mulanya, Amerika menyiapkan senapan laser ini
sebagai alat pembunuh. Tapi mendadak ada order ekstra ke Los Alamos. Pentagon
minta agar kekuatan tembakan laser dari senapan itu bisa diatur sehingga hanya
membuat kelenger orang, tak perlu mati.
Ketika menangani aksi kelompok David Koresh di Waco, Biro Penyidik Federal
Amerika (FBI) berniat memakai senjata yang tak membahayakan jiwa. Rencana itu
batal, tak jelas alasannya.
Padahal, ketika itu kabarnya sudah didatangkan perkakas khusus dari Moskow,
yang dapat mengeluarkan gelombang ultratinggi. Suara itu tak terdengar oleh
kuping normal. Tapi efeknya langsung ke otak. Dengan perkakas itu, Koresh dan
pengikutnya dapat terlena karena merasa mendengar suara-suara aneh, yang
diperkirakan akan dipercayai sebagai suara dari alam gaib. Dengan trik yang
membuat Koresh terbius itu, diharapkan 200 agen FBI yang siap di lapangan
dapat menerobos bangunan tempat Koresh bertahan, tanpa mengalami kesulitan.
Sayang, aksi itu batal. Petugas FBI malah memilih membongkar paksa pintu
bangunan besar dan kukuh, yang dijadikan sarang kelompok David Koresh, dengan
tank M-1 Abram. Terjangan tank itu membuat gedung besar itu terbakar, dan
Koresh terpanggang di dalamnya bersama puluhan pengikutnya, termasuk 14
anak-anak.
Putut Trihusodo
|