Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 49/XXIII/05 - 11 Februari 1994
   
DUS

Jin menolak jalan tol di malaysia

Proyek jalan tol kota tinggi - johor baru, malaysia terancam dihentikan. pembebasan tanahnya terganggu oleh pohon yang dipercaya sebagai pohon keramat. banyak orang berdatangan memberikan sesaji sehingga merepotkan polisi

PROTES orang yang tergusur boleh jadi gampang dilipat, tapi kena urusannya
dengan makhluk non-orang alias dedemit, amit- amit, proyek jalan tol pun bisa
jadi sulit. Ini terjadi di Malaysia, yang kini membangun jalan bebas hambatan
antara Kota Tinggi dan Johor Baru. Proyek 66 juta ringgit atau sekitar Rp 50
miliar itu kini dihentikan sementara, seperti dilaporkan koran New Straits
Times, tengah Januari lalu.

Penyebabnya adalah sepokok pohon yang ditaksir berusia 100 tahun di bekas
lokasi kuil Hindu yang siap menjadi lintasan jalan tersebut. Kejadiannya,
ketika traktor yang mampu menggusur objek 30 ton terjungkal saat menyodok
pohon yang diperkirakan tak lebih dari dua ton itu. Sejak insiden tersebut,
banyak orang berdatangan. Mereka yang percaya bilang bahwa makhluk gaib
penghuni pohon itu melarang "rumah"-nya digusur.

Akan halnya sopir traktor tadi dikabarkan sering mimpi didatangi tiga ular
kobra, setelah kejadian itu. "Ia menolak melanjutkan kerja di lokasi
tersebut," tutur seorang kawannya yang mengaku 20 tahun menjadi jemaah kuil
yang pernah ada di situ. Ia bilang, pohon itu keramat. Tak heran, kemudian
banyak orang berdatangan. Polisi jadi sibuk, karena jalan raya jadi macet.

"Pihak berwenang hendaknya membatalkan penggusuran pohon ini dan mengalihkan
ruas jalan rayanya," kata R. Chinnasamy dari kuil tadi, yang memimpin upacara
doa di kaki pohon. Sementara ada sebagian yang berdoa, ada lagi yang berduyun
cuma menonton. Atau membawa telur sebagai sajian buat tiga kobra yang
dipercaya bersarang di akar sang pohon. Tak ketinggalan ada pula yang minta
kode nomor buntut lotre.

Belum diketahui apa tanggapan pihak pelaksana proyek. Meski di Malaysia
banyak juga orang pintar, belum terdengar ada upaya mendatangkannya untuk
tawar-menawar dengan sang jin pohon. Siapa tahu, ia minta ganti rugi
penggusurannya sederhana saja. Misalnya, sekadar kulo nuwun dulu alias
bersitinah, yakni ada sikap menghormati sesama makhluk alam ini.

Ed Zoelverdi


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data