Yang terlempar ke jermal dan pabrik Buruh anak terdapat di hampir setiap sektor bisnis. enak bagi pengusaha, selain upah murah, mereka juga tak banyak menuntut sekalipun dipecat tanpa pesangon. inilah kisah mereka: |
Sodomi untuk Sepotong Singkong TENGAH malam, kentongan ditabuh bertalu-talu.
Kampret, begitu orang-orang di jermal (bagan) memanggilnya, sontak terjaga
dari tidurnya. Lalu, bocah bertubuh ceking berusia 12 tahun itu bergegas
bangkit dari pembaringannya sebuah tikar pandan usang. Jika ia lalai sedikit,
segala macam umpatan keluar dari mulut mandor tempat penangkapan ikan itu.
''Terkadang disertai tempeleng,'' kata seorang rekan Kampret.
Dalam keadaan mengantuk itulah Kampret bersama belasan anak- anak sebayanya,
yang hanya mengenakan cawat, dan kumal pula, memulai tugas rutin di kedinginan
malam: mengerek gulungan kabel pengikat jala. ''Kadang saya menangis kepingin
pulang, tapi tak bisa,'' ujar rekan Kampret yang lain. Ada rasa takut mencekam
bocah-bocah itu lebih-lebih bila melihat mandor yang mengawasi jermal di
lepas pantai Tanjung Tiram, Sumatera Utara, tersebut berkeliling dengan golok
terselip di pinggang sambil menuntun anjing galak.
Semula Kampret, yang hanya sampai di kelas tiga SD, adalah buruh harian kebun
karet di Aek Kanopan, sekitar 300 km dari Medan. Ia tinggal bersama kedua
orangtuanya, buruh penderas getah di kebun yang sama, sampai suatu hari datang
seorang calo pencari kerja menawarkan upah Rp 3.000 sehari, dan makan
sepuasnya, kepada Kampret.
Tergoda oleh rayuan calo itu, tanpa pikir panjang Kampret mengangguk setuju
untuk pindah kerja ke tempat yang baru. Lalu ia diberi porsekot Rp 10.000 (20
kali upahnya sebagai penderas getah) oleh calo tadi sebagai tanda ikatan. Tiba
di jermal, impian Kampret untuk hidup lebih baik langsung disapu ombak.
Telapak tangannya melepuh ketika pertama kali disuruh mandor memutar tuas kayu
penggulung kabel jala.
Selang beberapa hari, badan Kampret ditumbuhi kudis. Maklum, berhari-hari tak
mandi. Ia tak bisa berenang di laut seperti teman-temannya yang lain. Tak
heran bila Kampret hanya mandi jika hujan turun mengguyur jermal. Sudah hampir
setahun Kampret hidup di jermal dengan waktu kerja 20 jam sehari. ''Kami sudah
tak mengenal tidur pulas lagi,'' kata Kampret kepada Munawar Chalil dari
TEMPO.
Soal makan dan upah juga tidak seperti dijanjikan calo dulu. Menu utama
harian mereka hanya nasi putih dengan lauk teri bakar. Sayuran tersedia hanya
dua bulan sekali, dan itu pun kalau pasokan dari darat lancar. Terkadang
memang ada yang mau memberi bocah-bocah itu suguhan ekstra seperti singkong
rebus, tapi itu harus dibayar mahal. Kampret mengaku pernah beberapa kali
dipaksa bersodomi oleh buruh dewasa yang memberinya makanan ekstra.
Tak hanya itu penderitaan Kampret dan bocah-bocah yang bekerja di jermal.
Tentang upahnya, misalnya, Kampret mengaku cuma di bayar Rp 1.000 sehari, dan
itu pun dibayarkan setelah tiga bulan bekerja. Saat Lebaran lalu, Kampret tak
bisa pula berkumpul dengan orang tuanya. ''Kami dilarang tauke naik ke
darat,'' katanya.
Soal hiburan, jauh sekali. Satu-satunya alat hiburan yang ada di jermal
tempatnya bekerja hanyalah sebuah radio transistor dua band dan itu pun ia
tak berani menyetelnya. Waktu luang di sela-sela menaikkan jala, kalau ada,
digunakan bocah-bocah di jermal itu buat memancing. Hasil pancingan biasanya
mereka tukar dengan rokok ke nelayan-nelayan yang merapat ke jermal.
Bagaimana dengan masalah kesehatan dan keselamatan kerja? Jangan mimpi di
jermal ada kotak obat-obatan. Jika ada buruh yang tercebur ke laut, cara
menolong mereka pun sekenanya: hanya dilemparkan pelampung berupa jeriken,
lalu ditarik dengan tali ke jermal. Tak heran, banyak buruh jermal menceburkan
diri ke laut bila melihat perahu nelayan melintas dekat jermal mereka. Sudah
jamak terdengar, nelayan yang melaut di perairan Langkat, Deli, Asahan, dan
Labuhan Batu, sering menemukan bocah yang bekerja jermal terapung-apung di
laut.
Penderitaan anak-anak ini kemudian mengundang protes keras kalangan lembaga
swadaya masyarakat (LSM). ''Anak-anak itu dieksploitasi dengan upah di bawah
standar minimum, dan tanpa jaminan apa pun,'' kata Direktur Eksekutif Lembaga
Advokasi Anak Indonesia, Maiyasyak Johan, yang menangani pelbagai soal buruh
jermal di Medan. Namun, protes itu seperti tenggelam ditelan deru ombak di
bawah jermal, dan anak-anak tersebut tetap saja menderita.
vPundak Kapalan Demi Periuk
SUATU pagi, pertengahan Agustus lalu, di Tandes, Surabaya, dua truk diesel
merapat di pelataran pabrik garam beryodium PT Kusuma Tirta. Begitu pintu
belakang truk dibuka, puluhan buruh berebut turun, lalu masuk ke pabrik, lalu
penderitaan pun mulai. Salah seorang di antara buruh itu adalah Hariyanto.
Bayangkan, di pundak Hariyanto, 13 tahun, yang bertubuh ceking itu, teronggok
sekarung garam mentah seberat sekitar 40 kg untuk dibawa ke tempat pencucian
yang berjarak hampir 100 m dari gudang penyimpanan. ''Setiap hari saya
mengandalkan pundak inilah,'' ujarnya kepada Widjajanto dari TEMPO. Ia lantas
memamerkan pundak kanannya yang kapalan akibat memikul beban.
Tak hanya itu penderitaan Hariyanto. Kulitnya, yang legam akibat terbakar
terik matahari, pecah-pecah di sekitar pundak dan kedua lengannya. Tapi tak
ada yang peduli. ''Saya sebetulnya juga ingin sekolah seperti teman-teman
lain. Tapi, sejak ayah meninggal, jangankan punya uang buat biaya sekolah,
untuk biaya makan saja kurang,'' katanya. Hariyanto, yang baru tahun lalu
tamat SD dan menjadi yatim, memutuskan untuk bekerja karena penghasilan ibunya
sebagai pedagang sayur tak cukup buat hidup.
Lalu bocah asli Gresik itu pun mencari kerja ke Kusuma Tirta, dan diterima.
Di pabrik ini, untuk delapan jam kerja, tenaga Hariyanto hanya dihargai Rp
14.000 seminggu. Dalam jumlah itu sudah termasuk uang makan dan transpor.
Tunjangan lain, seperti ongkos kesehatan, tak ada sama sekali. Setiap Sabtu,
sebagian besar hasil jerih payahnya itu, sebanyak Rp 10.000, diserahkan
Hariyanto ke ibunya untuk biaya dapur dan biaya sekolah adiknya. Sisanya
dipakainya untuk jajan di pabrik.
Bersama Hariyanto, ada Su'in, 13 tahun, yang senasib. Sejak kedua orang
tuanya berpisah, Su'in, yang hanya sekolah sampai kelas empat SD, sebagaimana
Hariyanto, juga pontang-panting mencari duit untuk membantu ibunya. ''Kalau
saya tak membantu ibu, lalu kami mau makan apa?'' katanya. Su'in menambahkan,
dengan tenaga dan kepandaian terbatas, hanya Kusuma Tirta yang mau menerimanya
bekerja sebagai kuli angkut. ''Pokoknya, asal mereka kuat memikul garam, kami
terima bekerja di sini,'' ujar seorang staf Kusuma Tirta. ''Habis, bagaimana
lagi, mereka butuh duit, dan kami butuh tenaga mereka.''
Mengapa anak-anak yang diterima? Selain upah murah, mereka juga tak banyak
protes, apalagi mengancam mogok. ''Repotnya lagi,'' kata Munir, aktivis
gerakan buruh dari Lembaga Bantuan Hukum Surabaya, ''kebanyakan justru
anak-anak itu sendiri yang datang minta pekerjaan.'' Maka, jangan ditanya
apakah sesungguhnya Hariyanto dan puluhan bocah lainnya di Kusuma Tirta kuat
menanggung beban. Bukankah perut tak bisa menunggu?
Dipecat Gara-Gara Minum
NAMANYA: Sutinah bukan nama asli. Usianya menginjak 14 tahun, tak tamat SD,
tapi sudah berstatus karyawati. Ia bekerja di sebuah pabrik cokelat di
Tangerang, Jawa Barat. Tapi, baru sebulan bekerja, musibah datang menimpa.
Sutinah dipecat sang majikan karena perkara sepele: minum terlalu lama.
Agar kasus pemecatan ini tak menimbulkan heboh, Sutinah dipaksa sang majikan
membuat pernyataan di selembar kertas, yang isinya menyebutkan pengunduran
dirinya karena telah melakukan kesalahan tadi. Juli lalu, ketika kasus ini
sampai di meja Komite Pendidikan Anak-Anak Kreatif (Kompak), lembaga swadaya
masyarakat yang kerap menangani kasus buruh anak, pemecatan Sutinah lalu
diangkat ke pengadilan setempat, dan menang. Sutinah diputuskan hakim mendapat
pesangon Rp 50.000 tak jelas dari mana angka itu diambil hakim sebagai standar
ganti kerugian buat karyawati tersebut.
Keluar dari pabrik cokelat, Sutinah beralih kerja sebagai penjahit boneka di
sebuah pabrik mainan anak-anak di Tangerang. Di tempat baru tersebut, Sutinah
mengaku menerima upah Rp 2.400 sehari untuk delapan jam kerja. Kalau mau ikut
lembur, ia akan memperoleh tambahan upah Rp 250 per jam. Jika terus menjahit
sampai lewat magrib, Sutinah akan menerima uang makan Rp 700.
Agar upah sebesar Rp 25.000 seminggu itu bisa dipakainya untuk membantu
sekolah ketiga adiknya di Lampung, Sutinah hidup hemat sekali. Ia menyewa
pondokan, sebuah kamar dengan penerangan 5 Watt, bersama lima temannya dengan
harga Rp 15.000 sebulan. Dan untuk sampai ke pabrik, ia berjalan kaki
sekalipun jarak tempuh dari tempat pemondokannya hampir delapan kilometer.
''Kalau naik angkutan umum, duit saya bisa habis. Belum lagi kalau kesasar,''
ujarnya.
vYang Suka Dijaili Mandor
PADA selembar kain putih yang terbentang di hadapannya, Dirah (bukan nama
sebenarnya), 14 tahun, mencoretkan penderitaannya dengan cat merah menyala:
Lembur malam. ''Saya paling tak suka lembur malam, karena sering diusili
mandor,'' kata karyawati sebuah pabrik pakaian jadi di Tangerang itu.
Coretan protes Dirah itu, yang dituliskannya saat berlangsung jambore buruh
anak di Cibubur, Jakarta, akhir Agustus lalu, terpajang bersama bentuk protes
bernada pahit lainnya. ''Sebenarnya saya belum mau bekerja, tapi dipaksa
Ibu,'' ujar Dirah. Anak buruh tani asal Indramayu ini adalah salah seorang di
antara 250 buruh anak yang diundang lembaga swadaya masyarakat Kompak
mengikuti libur panjang di bumi perkemahan pramuka itu.
Dirah dipaksa ibunya menjadi buruh karena kehidupan keluarga mereka di bawah
garis kemiskinan. Karena itu, setamat SD, putri kedua dari lima bersaudara ini
(dua orang di antaranya masih balita) disuruh menyusul kakak perempuannya yang
sudah lebih dahulu mengadu nasib sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta.
Ternyata, nasib membawa Dirah ke Tangerang, kawasan industri dengan sejuta
buruh. Ia diterima bekerja di sebuah pabrik pakaian jadi anak-anak dengan masa
''kontrak'' enam bulan.
Di pabrik itu, Dirah dibayar Rp 2.300 sehari Rp 800 lebih rendah dari upah
minimum yang disyaratkan Pemerintah untuk daerah Tangerang. Dalam jumlah yang
di bawah standar itu sudah termasuk pula uang transpor dan uang makan. Jika
harus lembur malam (biasanya hingga pukul 22.00), dan sering dilakukan tanpa
pemberitahuan sebelumnya, kata Dirah, tak ada penghitungan yang jelas. Hanya
saja, jika Dirah ikut kerja lembur, total upah yang diterimanya sebulan jadi
Rp 57.000. Jika kerjanya cuma pas bandrol, setelah dipotong di sana-sini,
seperti buat makan, uang yang dibawanya pulang di akhir bulan hanya Rp 36.000.
Uang sebesar itu masih dipotong lagi dengan sewa kamar Rp 22.000 sebulan
(dibagi empat dengan temannya) dan kiriman buat orang tuanya di Indramayu.
''Praktis, tak ada yang tersisa,'' katanya. Dirah hanya bisa berharap agar
upahnya jadi dinaikkan, seperti dijanjikan majikannya, pada masa kontrak
berikutnya, sekalipun tambahan itu hanya Rp 300 per hari.
Tak jelas berapa jumlah anak-anak sebaya Dirah yang mengadu peruntungan di
kawasan industri Tangerang. Soalnya, kedatangan para pencari kerja ini sengaja
disembunyikan mandor pabrik, yang juga bertindak sebagai calo, bahkan mereka
sampai kucing- kucingan dengan aparat yang mengontrol para buruh itu. ''Sudah
setahun ini kami tak kedatangan mereka lagi,'' kata seorang mandor, yang
mengaku kerap menyembunyikan buruh anak di gudang pabrik atau di kendaraan
pengangkut barang.
Mengapa anak-anak yang sebagian besar berusia di bawah persyaratan standar
Departemen Tenaga Kerja, yang menyebut umur minimal untuk bisa dipekerjakan
adalah 14 tahun, lolos bekerja di pabrik-pabrik itu? ''Kami menerima mereka
dengan berpedoman pada surat pengantar dari kampung mereka,'' kata seorang
mandor di sebuah pabrik biskuit. Dalam surat pengantar yang dikeluarkan ketua
RT, dan diketahui oleh ketua RW, menurut mandor itu, mereka disebutkan berusia
15 tahun. ''Kalau ada yang melamar di bawah usia itu, kami tolak,'' tambah
mandor tadi.
Mandor itu menambahkan, pihak pabrik sering merasa serba salah dengan
menerima buruh anak tersebut, yang rata-rata datang dengan keluhan butuh duit
untuk membantu keluarga, di samping ada pula yang mengaku tak punya biaya
untuk melanjutkan sekolah. ''Apakah yang begini kita diamkan, padahal kita
bisa memberinya penghasilan,'' ujar sang mandor.
vBocah Dalam Kurungan Bambu
APA yang Anda bayangkan tentang sejumlah bocah bekerja di ruangan yang gelap,
lembap, dan dingin? Mengenaskan? Di situlah Rumi (bukan nama sebenarnya), 13
tahun, bersama sejumlah teman sebayanya, harus mendekam sepanjang hari. Mereka
adalah buruh anak di sebuah pabrik pengeringan tembakau yang terletak di
pinggiran Kota Jember, Jawa Timur.
Lantaran terkurung sepanjang hari di ruangan yang gelap, kulit Rumi, dan juga
buruh lain di situ, berwarna kuning pucat karena hampir tak pernah terkena
sinar matahari. Soalnya, sejak pagi mereka sudah bersimpuh di lantai tanah
merangkai daun tembakau dengan tali plastik dalam bangunan yang terbuat dari
bambu itu. Kalau pinggang mereka terasa kaku karena kecapekan, paling-paling
mereka berhenti sejenak untuk melemaskan otot, lalu setelah itu bekerja, dan
bekerja lagi. ''Waktu untuk istirahat hanya diberikan satu jam,'' kata Yuni
(juga bukan nama asli), rekan Rumi.
Rumi terdampar di pabrik pengeringan tembakau itu setahun lalu. Ia terlempar
ke sana karena orang tuanya, buruh tani di Malang, tak sanggup membiayainya
meneruskan sekolah ke SMP. ''Mau bagaimana lagi, sekolah sudah tak mungkin, ya
lebih baik cari duit,'' katanya. Untuk sembilan jam kerja sehari, Rumi juga
buruh anak yang lain dibayar Rp 1.650 atau seperempat upah mandor. Upah yang
diterima Rumi itu Rp 600 di bawah upah minimum yang ditetapkan untuk daerah
Jawa Timur.
Di luar ruang-ruang perangkaian daun tembakau itu, ada sejumlah buruh anak
lagi yang dipekerjakan pabrik itu untuk melakukan pemetikan. Mereka ini
memetik daun tembakau di areal seluas 400 hektare mulai pukul 03.00 dini hari
hingga terbit fajar. Pemetikan sengaja dilakukan saat menjelang pagi untuk
menjaga mutu daun. ''Rasanya kesal. Habis, pagi-pagi buta sudah harus di
lahan, dan kerja sampai siang,'' keluh seorang bocah kepada Widjajanto dari
TEMPO.
Selain mempekerjakan buruh anak di bagian pemetikan dan perangkaian daun
tembakau, pabrik tersebut juga mempunyai sejumlah pekerja sebaya musiman.
Mereka ditempatkan di lahan- lahan dengan tugas mengambil hama pengganggu
tanaman tembakau. ''Entah itu walang daun atau ulat tembakau,'' kata Cicik.
Upah bocah-bocah pemungut hama ini tergantung berapa banyak ulat yang dapat
mereka kumpulkan. Untuk sepuluh ekor ulat, mereka dibayar Rp 700.
Kenapa upah Rumi dan pekerja-pekerja sebayanya murah sekali? ''Pekerjaan
mereka tak membutuhkan keahlian khusus,'' kata seorang mandor di situ.
Penderitaan buruh anak di pabrik pengeringan tembakau ini tak luput dari
sorotan lembaga swadaya masyarakat setempat. Pihak LSM, menurut Cicik, salah
seorang aktivis yang memperjuangkan nasib buruh anak, beberapa waktu lalu
telah mengajukan tuntutan berupa kenaikan upah dan pengawasan kesejahteraan
kepada kantor Departemen Tenaga Kerja Jember. Tapi sampai pekan lalu belum
terlihat titik terang, apakah tuntutan itu akan segera ter wujud. Entah sampai
kapan Rumi dan teman-temannya bersimpuh merangkai daun tembakau dengan bayaran
di bawah upah minimum itu.
vKalau Mogok Rugi Sendiri
KETIKA melamar sebagai buruh lepas di sebuah pabrik cokelat di Tangerang,
Tarsi (bukan nama sebenarnya) mengaku berumur 16 tahun. Tapi, sosoknya tak
bisa menyembunyikan usianya yang sebenarnya. Gadis dengan tinggi badan 145 cm
dan berat 35 kg lebih ini belum mengenakan kutang. Ia juga mengaku belum
mendapat haid. ''Umur saya yang sebenarnya 13 tahun,'' ujarnya. Tarsi
menaikkan umurnya karena takut tak diterima bekerja di pabrik itu.
Sejak putus sekolah ketika duduk di kelas lima SD Mauk, Tangerang, dua tahun
lalu, sehari-hari Tarsi cuma membantu ibunya di rumah. Lalu, ketika enam bulan
lalu sebuah pabrik cokelat, yang berlokasi sekitar 17 km dari desanya, mencari
buruh harian lepas, Tarsi pun melamar dengan cara menaikkan usianya karena
peraturan Pemerintah menyebutkan buruh anak yang boleh dipekerjakan minimal
berumur 14 tahun. Ia diterima, dan sejak itu harkatnya di mata keluarga ikut
naik. ''Saya kini bisa membantu Emak,'' tuturnya.
Sebagai buruh harian lepas, upah yang diterima Tarsi tergantung volume
pekerjaan yang tersedia. Kalau lagi mujur, ada kesempatan lembur, ia bisa
mengantongi Rp 12.000 sampai Rp 15.000. Kalau lagi sial, seperti saat gajian
Sabtu siang pekan lalu, ia cuma mengantongi Rp 4.000. ''Saya cuma ambil seribu
atau dua ribu perak buat jajan. Selebihnya buat Emak,'' ujar anak kedua dari
lima bersaudara itu.
Tentang masa depannya, Tarsi mengatakan baru mau pacaran kalau berusia 18
tahun, dan menikah saat umur 20 tahun. ''Saya tak akan cari cowok
sembarangan,'' katanya malu-malu. ''Saya maunya yang punya motor.'' Ia juga
berharap kelak suaminya bisa membelikannya pesawat televisi.
Pesawat televisi memang masih menjadi barang mewah di rumah orang tua Tarsi.
Maka, tak jarang Tarsi bertandang ke rumah tetangga bila TVRI menayangkan
lagu-lagu dangdut pada acara Aneka Ria Safari. Penyanyi kesayangannya adalah
Mega Mustika.
Sejak bekerja di pabrik cokelat, Tarsi harus bangun pukul 5 pagi. Setengah
jam kemudian ia harus siap di pinggir jalan menunggu bus jemputan. Sekitar
pukul 6, bus datang, dan Tarsi bersama puluhan teman senasibnya naik bus itu
ke pabrik. Pabrik buka pukul 7.30. Ia bekerja sampai pukul 15.00 diselingi
istirahat makan setengah jam. Makan siang disediakan pabrik dengan harga Rp
400.
Pada hari kerja, Tarsi jarang makan pagi di rumah. Kalaupun ingin sarapan, ia
membeli nasi bungkus di warung di desanya, yang memang menyediakan makanan
untuk buruh pabrik dengan harga murah. Dengan uang Rp 200, Tarsi bisa
mendapatkan sekepal nasi, sayur tahu, dan sesayat telur dadar.
Kalau kini Tarsi tampak kurus, karena makanan yang disantapnya memang kurang
bergizi, sementara pekerjaannya menuntut stamina yang kuat. Ia, misalnya,
harus kuat berdiri sepanjang hari mencetak cokelat. Tarsi mengaku bisa saja
bekerja sambil duduk, tapi hasil pekerjaannya tak banyak, sehingga upahnya
juga sedikit. Maka, mandor pabrik itu suka menegur kalau melihat buruh bekerja
sambil duduk.
Adalah untuk menambah pendapatan bila kesempatan lembur, pukul 15.30 sampai
19.00, jarang dilewatkan Tarsi. Dari hasil tambahan pekerjaan ekstra itu, ia
bisa membeli bedak atau lipstik seharga Rp 500-an. Soal merek tak penting
baginya. ''Yang penting murah,'' katanya.
Bila melihat teman-teman sebayanya berangkat sekolah, terkadang timbul juga
kekangenan Tarsi untuk belajar lagi. ''Paling enak itu anak sekolah. Bisa
bandel tanpa harus diancam-ancam,'' kata Tarsi, yang dulu bercita-cita menjadi
bidan. Kini, sebagai buruh, ia merasa takut berlaku macam- macam, apalagi
sampai mogok segala. ''Kalau mogok, malah nggak dapat uang,'' ujarnya. ''Ya,
rugi sendiri.''
Wahyu Muryadi, Nunik Iswardhani, dan Putut Trihusodo
|