Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXIII/18 - 24 September 1993
   
Kriminalitas

Polisi obral pelor

Mobil kapolsek jetis tersenggol, lalu ia menembak si warga desa. ''senjata api itu bukan untuk menakut-nakuti rakyat,'' kata kapolda jawa timur.

PELOR diobral, padahal yang dihadapi adalah rakyat sendiri dan urusannya pun
sepele. Ini ihwal polisi lagi. Kepala Kepolisian Sektor Jetis di Mojokerto,
Letnan Satu Suwandi, sedang mengemudikan mobil Suzuki Carry, Jumat malam dua
pekan lampau.
Di jalan 2,5 meter Desa Bandung itu dari arah berlawanan ada orang bersepeda,
Suroto, 17 tahun, bersama dua kawannya. Pas berpapasan, sepeda Suroto oleng.
Duk! Ia berpegang ke pintu Suzuki. Tak apa-apa.
Mereka berlalu. Tapi setelah terlongsong sekitar 100 meter, Suwandi balik
menyusul mereka dengan sepeda motornya. ''Berhenti. Siapa tadi yang menggedor
mobil saya?'' kata Suwandi.
Anak yatim bertubuh kurus itu gemetar. Belum sempat ia menjawab, kerah
bajunya dicengkeram. Plak! Ia ditempeleng. Kemudian, dor! Pistol Suwandi
meletus. Jari tangan kiri Suroto kena. Warga desa datang berhamburan. Dua
teman Suroto kabur dan melapor ke Kusno, paman Suroto.
Sementara itu, Suwandi mengoles luka Suroto dengan obat merah. Lalu perajin
perak warga Desa Pagerwojo itu diinapkannya di Polsek Jetis. Suroto disuruh
meneken pernyataan bahwa luka itu lantaran pukulan gagang pistol. Jika
menolak, ia akan dipenjara.
Sabtu pagi, Kusno datang ke Polsek Jetis. Belum boleh ketemu Suroto, tapi
dipaksa menandatangani surat yang telah diteken keponakannya itu. ''Saya tolak
permintaan Kapolsek itu,'' kata Kusno. Ia melapor ke Kepala Desa Pagerwojo.
Selain itu, ia juga memberi tahu saudaranya, seorang tentara di Surabaya, dan
juga Den Pom Mojokerto yang segera bertindak. Menurut Suwandi, malam itu
mobilnya digedor. Tak ada yang lecet. Tapi emosinya meledak, kata Suwandi,
''Dia mengeluarkan kata-kata tak enak.'' Ia mengaku pistolnya meletus tak
sengaja. Suwandi juga membantah telah menyuruh bikin pernyataan tersebut.
''Kariermu tergantung pada jawabanmu,'' ujar atasannya. Baru Suwandi mengakui
penembakan itu sebagai kekhilafan. Dan ia tetap diproses. ''Biar jadi
pelajaran untuk polisi lainnya,'' kata Kolonel Endi Sukarno, Kapolwil Taman,
Sidoarjo, kepada Widjajanto dari TEMPO.
Kini, Suwandi dicopot dari jabatannya. ''Keterlaluan, masa main tembak sama
warga,'' kata Kapolda Jawa Timur, Mayor Jenderal Emon Rivai Arganata, kepada
Taufik T. Alwie dari TEMPO. Menurut Emon, jangankan kapolsek, anggota polisi
biasa pun tidak sepantasnya berbuat begitu.
Apakah Suwandi akan diajukan ke mahkamah militer, belum tentu. Yang
bersangkutan kini sedang dievaluasi, adakah kesalahannya itu tergolong pidana
ringan atau berat. ''Kalau ringan, ya, cukup dengan hukuman disiplin. Kalau
berat, baru dibawa ke mahkamah militer,'' kata Emon. Ia berniat melakukan
psikotes ulang terhadap anggota polisi di Jawa Timur.
Emon juga meminta agar Kapolres memberikan penjelasan ulang tentang prosedur
penggunaan senjata api. Perintah ini berkaitan dengan aparatnya yang ringan
tangan sekali main tembak.
Misalnya, awal bulan ini, anggota Polres Lamongan menembak dua buah sepeda
motor yang ditumpangi Waras, Darno, Latif, dan Suroso. Di jalan yang sepi
mereka ngebut tanpa helm. Malam itu, polisi menyemprit tapi mereka kabur.
Di pos polisi berikutnya, mereka juga disetop. Lagi-lagi tak mau berhenti.
Polisi mengira mereka penjahat. Tembakan dilepas. Pelor menerjang ketiak dan
tembus ke dada kanan Darno, serta menghajar Waras. Atas dua kejadian ini,
polisi yang main tembak itu perlu dijewer. Emon mengingatkan, ''Senjata api
itu bukan untuk menakut-nakuti rakyat.''
WY


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data