Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXIII/18 - 24 September 1993
   
Indonesiana

Malangnya jumat tanggal 13

Kecelakaan lalu lintas merenggut 4 nyawa di deli serdang, sumut. sertu (pol) mochtar meringkuk di sel. ia dianggap bertanggung jawab atas kejadian itu. menindak pengendara motor dengan lemparan helm.

ADA sebuah cerita duka yang terjadi bagaikan diilhami tema serial mini horor
di TVRI, Friday the Thirteen. Peristiwanya hari Jumat, 13 Agustus lampau.
Sersan Satu Mochtar, 28 tahun, dan Sersan Kepala H. Tampubolon meluncur dari
Deli Serdang, Sumatera Utara, dengan mobil patroli lalu lintas ke arah
Pematangsiantar. Di Kelurahan Lubuk Baru, mereka berhenti dekat tanah lapang.
Penduduk sedang pesta 17-an. Acaranya tarik tambang.
Tatkala polisi itu mengatur lalu lintas, dari arah Tebingtinggi meluncur
sebuah sepeda motor sport dengan kecepatan tinggi. Dikemudikan Antoni, 20
tahun, yang memboncengkan Elly Nurhayati, 19 tahun. Mereka tak pakai helm.
Mochtar berusaha menyetop. Tapi mereka tancap gas. Menurut saksi mata, Mochtar
lalu melempar dengan helm yang ada di tangannya. Kena. Sepeda motor itu oleng,
dan menyerempet Nurjannah, 22 tahun, yang berdiri di tepi jalan.
Sepeda motor menyerumbu tembok trotoar. Kedua remaja itu terjungkal mencium
aspal. Sepeda motornya salto tiga kali, lalu terjun ke arah Deni Arifin, 13
tahun. Kaki kiri Deni lecet, tapi sepeda mininya hancur tertimpa. Kedua
pengendara motor tadi tewas saat itu juga. Antoni anak H. Suhaemi,
administrator kebun, dan Elly putri bungsu Letnan Kolonel A. Hadori, Ketua
Golkar Kota Madya Tebingtinggi. Antoni sedang mudik, libur kuliah di
Universitas Trisakti, Jakarta. Elly temannya semasa SMA.
Mochtar membawa kedua jenazah dan korban luka ke rumah sakit. Di kursi depan
duduk Deni dan kakak iparnya, Nursiah, 33 tahun. Di bak belakang Kijang itu,
selain kedua mayat, ada Nurjannah, yang luka parah, dan Rajiman Sinaga
penarik becak yang membantu menggotong jenazah. Mochtar memegang setir. Tiba
di pertigaan Jalan Dr. Hamka, ia gugup karena mengelakkan mobil dari sebuah
sepeda motor. Mobil ini terguling di sebelah Stadion Tebingtinggi, 400 meter
dari rumah Antoni.
Kedua mayat tadi terlempar ke luar. Nurjannah terimpit bak mobil. Juga
Rajiman. Deni tambah luka lagi. Kakak iparnya tewas. Sementara itu, Mochtar
luka ringan. Satu jam di rumah sakit, Rajiman pun menyusul Nursiah. Empat
nyawa beruntun melayang di hari sial itu. ''Biar polisi saja yang mengurus
persoalan ini,'' kata Suhaimi. Ia tak berniat menuntut Mochtar. Musibah ini
juga diterima dengan tabah oleh keluarga A. Hadori, serta keluarga Rajiman,
dan keluarga Nursiah.
''Mochtar harus ditindak,'' ujar Letnan Kolonel Sri Soegiarto kepada Munawar
Chalil dari TEMPO. Soegiarto baru sebulan menjadi Kapolres Deli Serdang.
Mochtar yang bujangan itu kini ditahan dalam sel.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data