Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXIII/18 - 24 September 1993
   
DUS

Anggota parlemen cina mau jalan tol

Anggota parlemen cina terjerat surat berantai. selain dijanjikan keberuntungan, mereka juga diancam bala jika tak melanjutkan. sialnya, surat itu beredar di kalangan wakil rakyat.

SEJUMLAH wakil rakyat di Negeri Cina dikabarkan kena dijerat permainan surat
berantai. Surat jenis itu lazimnya berisi pilihan keberuntungan atau kesialan.
Kepada si penerima dijanjikan bakal mendapat angin surga jika memperbanyak
surat itu, minimal lima sampai sepuluh kali, dan mengirimkannya kepada sepuluh
alamat lainnya. ''Jangan lewatkan peluang emas ini,'' tulis surat itu, ''sebab
inilah kesempatan untuk menjadi jutawan.''
Iming-iming kaya mendadak alias jalan tol menjadi miliuner itu kemudian
dibumbui angin neraka atawa ancaman gawat. Siapa saja yang mencoba memutus
mata rantai dan tidak meneruskan surat itu kepada orang lain diperingatkan
bakal menyesal seumur hidup. Disebutkan, misalnya, seorang deputi di Sechuan
yang urung mengirimkan surat berantai ini mengalami kecelakaan ketika
bersepeda.
Masih di surat yang sama dicontohkan ada anggota parlemen Mongolia yang
melecehkan surat semacam ini. Nasib buruk menimpa putrinya, ditimpa balok dari
loteng rumahnya. Ngeri, kan? Namun, jika rantai surat itu terjalin hanya di
kalangan anak- anak, mungkin tak menimbulkan penyesalan. Yang kejadian justru
penyambung mata rantai surat takhayul itu adalah para anggota parlemen.
Menurut koran resmi China Youth Daily, yang dikutip Reuters, awal September
lampau, mereka justru menerima edaran surat berantai itu dari seorang anggota
parlemen Hubei. Meski tahu salah langkah, si wakil rakyat, dalam surat
tersebut, memberi catatan betapa risinya dia meneruskan surat semacam itu.
''Sulit dipercaya sampai tuan-tuan terhormat di parlemen mau- maunya mengambil
bagian dalam permainan ko-nyol ini. Kalau sudah begini, bagaimana mungkin kita
tidak cemas?'' tulis koran tadi. Ini barangkali bukan hanya lantaran di masa
kecil kurang happy dan di masa dewasa masih sengsara juga mereka gampang
terperangkap dalam surat yang sarat dengan angin surga dan neraka tadi.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data