Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 28/XXIII/11 - 17 September 1993
   
Lingkungan

Sesudah palapa, sebentar lagi nuklir

Pembangkit listrik tenaga nuklir yang pertama akan dibangun di semenanjung muria. tendernya tahun 1995. kalau dioperasikan dengan baik, dampaknya pada lingkungan relatif kecil.

KEHADIRAN Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Semenanjung Muria, Jawa
Tengah, tampaknya semakin pasti. Penegasan itu diumumkan Dirjen Badan Tenaga
Atom Nasional (Batan), Djali Ahimsa, Selasa pekan lalu. Bahkan, tender PLTN
pertama ini akan dibuka tahun 1995. Berarti, paling lambat, Indonesia akan
memiliki PLTN pada tahun 2003.
''Ini sudah keputusan final,'' kata Djali Ahimsa. Pembangkit listrik canggih
ini, yang diperkirakan menelan investasi US$ 10 miliar (sekitar Rp 20
triliun), akan menghasilkan listrik sebesar 2 x 600 megawatt.
Harus diakui, pernyataan Djali Ahimsa itu bukan hanya mengejutkan, tapi juga
memancing rasa ingin tahu, terutama di kalangan yang mau peduli.
Dipertanyakan, misalnya, mengapa di tengah melimpahnya energi batu bara dan
gas alam, Pemerintah masih ngotot mau membangun PLTN. Soalnya, selain
mendatangkan manfaat, PLTN dikhawatirkan menimbulkan musibah.
Tentu, PLTN dirancang dengan berlapis-lapis sistem pengamanan. Namun,
berbagai kasus, seperti kebocoran pada reaktor nuklir di Three Mile Island,
Amerika, atau kebocoran di Chernobyl-IV, Ukraina, memperkuat kekhawatiran itu.
''Masih banyak alternatif lain, kok, malah ngotot membangun PLTN,'' kata
sebuah sumber di PLN.
Memang, PLTN menggunakan bahan beratom, seperti uranium 235, yang kalau
dioperasikan akan menghasilkan energi panas. Energi ini dimanfaatkan untuk
memanaskan air, dan uapnya digunakan untuk memutar turbin listrik. Sisa bahan
bakar reaktor (zat radioaktif hasil fisi) sekitar 99% tersimpan dalam
kungkungan kelongsong bahan bakar, sedangkan selebihnya terdapat dalam air
pendingin.
Karena memancarkan radioaktif, sisa itu tak dibuang sembarangan, tapi disedot
oleh sistem ventilasi dan terkumpul dalam filter. Sementara itu, zat
radioaktif dalam air pendingin dikurangi jumlahnya oleh pemurnian air yang
terdiri dari resi ion. Nah, filter dan resi penukar ion yang terkontaminasi
radioaktif ini merupakan limbah radioaktif.
Limbah lainnya berasal dari pakaian dan alat-alat keselamatan kerja, yang
diolah dan disimpan dalam drum baja antikarat di lokasi PLTN selama 3040
tahun. Namun, ini belum menjamin bahwa kebocoran radioaktif tak mungkin
terjadi. Radioaktif yang berbentuk gas mudah menguap dan menyebar ke
lingkungan sekitarnya.
Tak mengherankan bila masih ada yang meragukan keamanan PLTN Muria. Tapi ada
pula yang mulai mencair, seperti Markus Wauran, anggota Komisi X DPR. DPR,
menurut Markus, sudah memberikan lampu hijau sejak 1988. ''Dengan pertumbuhan
kebutuhan listrik 15% setahun, sudah saatnya kita punya PLTN,'' kata Markus.
Khusus yang menyangkut PLTN Muria, DPR minta agar soal lingkungan dan
keselamatan diperhatikan.
Sementara itu, beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM), seperti Wahana
Lingkungan Hidup (Walhi), hanya mengingatkan agar pembangunan PLTN Muria
dilaksanakan dengan memberikan keterangan sejelas-jelasnya kepada masyarakat.
April lalu, Walhi telah mengirim 25 ribu pucuk surat kepada masyarakat untuk
menghimpun pendapat mereka. ''Mereka menginginkan informasi lebih banyak,''
kata Mohammad Amung, yang mengelola masalah energi di Walhi.
Sikap ragu justru datang dari orang yang paham betul seluk- beluk
perlistrikan. ''Ngurus WC saja masih belum becus, bagaimana nanti mau
mengoperasikan PLTN?'' kata seorang ahli perlistrikan. Ucapan ini mungkin ada
benarnya. Di India, kendati menggunakan teknologi dari Perancis, penanganan
yang kurang hati-hati mengakibatkan kebocoran. Padahal, di Perancis
mengoperasikan 55 PLTN sampai kini segalanya lancar.
Kemungkinan bocor tak dimungkiri oleh Djali Ahimsa. Namun, dengan teknologi
yang semakin maju, kemungkinan bocor diyakininya kecil sekali. Bahkan, menurut
Djali, PLTN paling bersih dan sedikit menimbulkan dampak lingkungan. ''Soal
limbah nuklir tak perlu dikhawatirkan, karena ada teknologi pengolah limbah
yang bisa diandalkan,'' katanya. ''Dan dengan reaktor yang lebih canggih,
kemungkinan bocor juga kecil.''
Dibandingkan dengan PLTU yang menggunakan energi fosil misalnya PLT diesel,
yang menggunakan bahan bakar minyak memang PLTN relatif bersih. PLT batu bara,
umpamanya, diketahui paling banyak menyumbang gas CO2, SO2, dan NOx.
Pencemaran oleh SO2 dan NOx telah menimbulkan dampak hujan asam, sedangkan gas
CO2 menimbulkan dampak rumah kaca, yang meningkatkan suhu atmosfer dan
mengubah iklim bumi.
Di samping itu, hasil studi kelayakan Batan juga menunjukkan bahwa di
Semenanjung Muria tak pernah terdeteksi adanya gempa. ''Cuaca di kawasan Muria
juga sangat mendukung untuk pendirian PLTN,'' kata sebuah sumber di New Japan
Engineering Consultant konsultan yang ditunjuk Batan dalam rencana pembangunan
PLTN.
Sepintas lalu tampaknya semua akan mulus. Tapi, bukan berarti sudah mendapat
dukungan PLN. Dirjen Listrik dan Pengembangan Energi, Artono Munandar, malah
menyayangkan sikap Djali yang pagi-pagi sudah berani memastikan PLTN Muria
akan ditenderkan tahun 1995.
''Kan hasil studinya baru selesai November depan. Jadi, belum bisa dilihat
layak-tidaknya saat ini,'' kata Artono, yang duduk sebagai Ketua Tim Studi
Kelayakan PLTN ini.
Bambang Aji, Bandelan Amarudin, dan Bina Bektiati


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data