Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 28/XXIII/11 - 17 September 1993
   
Kriminalitas

Tidak boleh sendiri lagi

Sejumlah kejadian penyiksaan sampai pembunuhan menimpa anggota polisi. kapolda metro jaya mayjen hindarto prihatin. petugas tak boleh pergi sendiri.

SEHARUSNYA, pada 29 Agustus lalu, Sersan Kepala Bambang Sumarno berulang
tahun yang ke-36. Tapi ia tewas tiga hari sebelum ulang tahunnya. Almarhum
meninggalkan seorang istri dan dua anak yang masih kecil. Pangkatnya dinaikkan
menjadi sersan mayor anumerta.
Bambang lulusan Sekolah Bintara di Lido, Sukabumi, tahun 1982. Ia dikenal
ramah, tinggal di asrama polisi Munjul, Jakarta. Perabot rumahnya sangat
sederhana, bahkan televisi pun ia tak punya. Istrinya jualan gulai dan kue.
Dalam tahun ini, selain Bambang, ada enam polisi gugur dalam tugas. Misalnya
Mayor Sanusi, Wakapolres Tegal. Ia tewas dikeroyok beberapa pemuda yang
ditegurnya karena mabuk-mabukan saat Idul Adha, Juni lalu.
Di bulan Juni pula, Sersan Satu Herman tewas ditusuk saat melerai perkelahian
pemuda di depan apotek di Manado. Kopral Datuk juga tewas dikeroyok berandal
di Stasiun Poncol, Semarang. Kopral Satu Harmaini malah tewas di Pos Jaga
Peranap, Riau.
Di Majalengka, Jawa Barat, Sersan Kepala Sri Ayem juga gugur dalam tugas,
saat menggerebek pengikut Abdul Manan. Kasus yang dikenal dengan sebutan Haur
Koneng ini juga menewaskan pengikut aliran itu.
Yang lebih mengenaskan nasib Kopral Satu Suyatno. Ia ditembak seorang sopir
bus. Akhir Agustus lalu, sopir bus Jaya Raya menabrak hingga mati dua wanita
di Maospati, Magetan. Yatno, atas perintah atasannya, membawa sopir itu ke
Polres Magetan, untuk menghindari amukan massa. Sopir yang dibonceng motor itu
tanpa diborgol mengambil pistol di pinggang Yatno, lalu menembak dada korban.
Banyaknya polisi tewas terutama setelah terbunuhnya Bambang Sumarno membuat
Kapolda Metro Jaya, Mayor Jenderal Moch. Hindarto, prihatin. ''Petugas yang
pergi ke lapangan nanti harus dua orang, tidak boleh sendiri-sendiri lagi,''
katanya.
Bambang Sujatmoko


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data