Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 28/XXIII/11 - 17 September 1993
   
Catatan Pinggir

Korban

Palestina adalah nestapa, korban dalam sejarah negeri yahudi. seperti yahudi, pernah menjadi korban nazi jerman. namun, eropa dan amerika hanya termanggu melihat penderitaan bangsa palestina yang dilakukan israel.

PALESTINA adalah sebuah jalan panjang ke zaman yang mungkin lebih damai,
tapi mungkin juga menyedihkan. Mahmoud Darwish, penyair yang tumbuh mula-mula
sebagai seorang komunis militan di Universitas Hebrew di Yerusalem itu, pernah
menuliskan baris ini dengan rasa frustrasi seorang Palestina sejati:
Ke mana kita harus pergi setelah perbatasan terakhir Ke mana burung harus
terbang setelah langit penghabisan?
Palestina adalah kasus yang unik. Dalam sejarah, banyak bangsa yang menjadi
korban dari bangsa lain yang dengan semboyan besar ingin memperluas wilayah
dan sumber-sumber ekonomi, mengabarkan ''kebenaran'', atau memperkenalkan
''peradaban''. Itulah dalih, atau penjelasan, kenapa orang- orang Spanyol
menduduki Amerika Selatan, menggusur bahkan membungkam mati kebudayaan asli di
tempat itu, dan mengubahnya menjadi ''Amerika Latin''. Itu pula yang mendasari
orang Portugis menjangkau sampai ke Timor Timur, Belanda ke Irian, Inggris ke
seluruh muka bumi.
Dalam hal seperti itu, asal-usul penindasan ialah adanya dikotomi antara
''kita'' dan ''mereka'' yang pertama merasa diri sebagai ''baginda'' dan yang
kedua dianggap sebagai ''sahaya''.
Dalam hal seperti itu jelas secara historis mana yang ''korban'' dan mana
yang bukan. Dengan tidak terlampau sukar orang di ujung abad ke-20 ini akan
tahu ke mana tuntutan akan keadilan harus dialamatkan. Tetapi dalam hal bangsa
Palestina, yang terjadi ialah bahwa ia menjadi ''korban'' dari ''korban''.
Edward Said menyebutnya sebagai ''nothing less than the victims of the
victims''.
Tidak mudah sebenarnya menerjemahkan kata victim ke dalam bahasa Indonesia.
Kata ''korban'' mengesankan adanya sesuatu yang di luar kekuasaan manusia
ketika kekejaman atau kenestapaan terjadi. Kata ''korban'' sangat dekat dengan
kata ''pengorbanan'' seakan-akan ada yang harus menderita untuk sesuatu yang
lebih luhur, seakan-akan tidak ada yang bersalah. Kata ''korban'' barangkali
belum melintasi suatu sejarah perkembangan makna yang cukup panjang.
Kata victim, sementara itu, sudah lepas dari kaitannya dengan segala yang
supernatural. Kata itu, berasal dari bahasa Latin victima, memang pada mulanya
berkaitan dengan pelbagai makna religius. Bahkan dalam pelbagai kamus masih
tetap dijelaskan sebagai ''makhluk hidup yang dikorbankan untuk seorang dwata
atau dalam proses ritus keagamaan'' dan dalam hal ini kata itu sangat dekat
dengan pengertian ''korban''. Tetapi dalam perkembangannya kini, pengertian
seperti itu semakin redup, dan victim menunjuk kepada pengertian tentang orang
yang dibunuh, disiksa, atau dianiaya oleh orang lain.
Orang Palestina adalah ''nothing less than the victims of the victims''.
Mereka dengan demikian adalah sebuah kasus penganiayaan ''ganda''. Orang-orang
Yahudi, yang terusir, terhina, dan terbinasakan dari pelbagai tahap sejarah
yang terakhir oleh Hitler di Jerman datang (atau pulang tergantung bagaimana
kita melihatnya) ke tanah Palestina sebagai ''korban'', dan dengan kejiwaan
para ''korban'' pula. Para ''korban'' merasa punya hak sejarah untuk
menghakimi dan tidak untuk dihakimi. Para ''korban'' pada gilirannya
berkembang hampir mirip dengan ''pahlawan'' beserta tuntutan-tuntutannya. Para
''korban'' seakan-akan mendapatkan lisensi untuk berbuat apa saja sebagai
penebusan. Di hadapan orang-orang Yahudi yang tampil sebagai ''korban'' itu,
orang Eropa dan Amerika, yang dekat sekali dengan kepahitan sejarah mereka,
hanya termangu. Seakan tak ada jarak antara Anne Frank, gadis baik hati yang
mati di kamar gas Jerman itu, dan Prajurit Isaac Frank, yang menembak seorang
anak Palestina di Tepi Barat. Padahal jejak sejarah bukan saja kian samar,
tapi telah mengalami transformasi.
Dari sini kita pun tahu, bagaimana sang korban bisa berkembang dari tokoh
sejarah menjadi tokoh mitologi. Pada yang disebut terakhir ini, sang korban
bisa saja mengorbankan orang lain, dan merasa bebas dari hukuman. ''Ke mana
kita harus pergi setelah perbatasan terakhir?'' tanya Penyair Darwish. Kita
belum tahu. Yang kita doakan ialah bahwa orang Palestina, sang korban dalam
sejarah, akan berdiri menjadi sebuah kaum yang tidak mengulangi apa yang
pernah terjadi pada orang Yahudi di Israel, juga yang terjadi pada diri mereka
sendiri: berada dalam riwayat terus-menerus antara yang mengorbankan dan yang
dikorbankan. Sebab begitu banyak cerita tentang sebuah bangsa yang bangkit
dari penindasan, kemudian mengukuhkan diri, tetapi sementara mengukuhkan diri,
ia melahirkan penindasan baru.

Goenawan Mohamad


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data