Panji sepuh Agenda pertunjukan di tim, ikj, pekan film hong kong, pusat kebudayaan
perancis pameran seni rupa, dll. |
Setelah sukses berpentas dua malam di Teater Oncor, Sulistyo Tirtokusumo dan
kawan-kawannya berpentas di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Panji Sepuh,
demikian repertoar tari itu, konon jenis tari yang ditarikan oleh setiap calon
Raja Surakarta di ruang tertutup dalem ageng, tempat pusaka keraton disimpan
dengan takzim. Tari ini lebih merupakan ''dialog'' dengan masa silam dan masa
mendatang, ketika seseorang membentuk dirinya sendiri.
Berdasarkan mitos ini, Sulistyo menggarap Panji Sepuh dengan sentakan yang
berbeda (lihat rubrik Tari). Tari ini dipentaskan di Teater Arena, Taman
Ismail Marzuki, 13 dan 14 September 1993, pukul 20.00 WIB. Banyak seniman
kondang terlibat dalam pentas ini. Penari-penari utamanya adalah Elly D.
Luthan, Restu Imansari Kusumaningrum, Maria D. Hoetomo, Sukardji Sriman, dan
Wiwiek Sipala. Musik yang ditata Toni Prabowo akan mengiringi narasi dan
tembang yang liriknya ditulis Penyair Goenawan Mohamad. Artistiknya digarap
oleh Teguh Ostenrik. Topeng-topeng penarinya buatan Gallis A.S. Chuck Davis di
IKJ Menyambut Festival Tari Indonesia II, 1993, yang digelar 21 sampai 24
September mendatang, Institut Kesenian Jakarta menyelenggarakan workshop tari.
Workshop tersebut diselenggarakan 8 sampai 16 September 1993 di kampus
Institut Kesenian Jakarta, kompleks Taman Ismail Marzuki. Pembicaranya adalah
Chuck Davis, tokoh tari berkebangsaan Amerika dari American Dance Festival.
Acara ini terbuka untuk umum, asalkan membayar Rp 100 ribu. Pekan Film Hong
Kong Kine Klub Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) akan memutar enam film Hong Kong.
''Pekan Film Hong Kong Terlaris dalam Peredaran Indonesia Tahun 19921993'' ini
berlangsung dari tanggal 10 September sampai 16 September 1993 di Teater
Tertutup TIM, Jakarta. Empat hari sebelum pemutaran film itu, yakni 6
September, diselenggarakan diskusi yang membahas film-film tersebut.
Pembicaranya adalah Ketua DKJ Salim Said dan Gondomono, antropolog UI yang
juga ahli masyarakat dan kebudayaan Cina. Diskusi itu dilangsungkan pukul
14.00 WIB di VIP Room DKJ. Empat Film Perancis Pusat Kebudayaan Perancis
memang secara rutin memutar film karya sutradara negerinya. Pekan ini, dari
tanggal 7 sampai 14 September, ada empat film yang diputar: Bapteme, Tendre
Poulet, Rue Case Negres, dan Les Grandes Gueules. Keempat film itu diputar
secara bergantian di Pusat Kebudayaan Perancis di Jalan Senopati dan di Jalan
Salemba Raya, Jakarta, pukul 15.30 WIB dan 20.30 WIB.
Tendre Poulet karya Philippe de Broca mengisahkan repotnya Lise Tanquerelle
menjadi komisaris polisi wanita. Bapteme bercerita tentang cinta dan kehidupan
sepasang manusia di tengah kegembiraan dan kemalangan. Film ini disutradarai
Rene Feret. Rue Case Negres diangkat dari novel karya Joseph Zobel. Lewat
seorang tokoh muda, diceritakan kehidupan masyarakat tradisional Kepulauan
Martinique, yaitu ritual-ritualnya, kepercayaan, dan perjuangan masyarakat itu
untuk bertahan hidup. Les Grandes Gueules adalah film tentang para pelanggar
hukum di hutan Vosges. Film action ini hendak menyampaikan moral persahabatan
dan solidaritas. Sambodja di Balai Budaya ''Kemajuan seorang pelukis bukan
terlihat dari cepatnya hengkang ke aliran lain,'' demikian kata Sambodja, 59
tahun, pelukis senior yang setia pada aliran naturalis. Mulai tanggal 7
September sampai 13 September 1993, Sambodja memamerkan sejumlah lukisannya di
Balai Budaya, Jalan Gereja Theresia, Jakarta Pusat. Dua Figur Yogya ''Pameran
Dua Figur'', demikian tema pameran lukisan dua pelukis asal Yogya, Pupuk Daru
Purnomo dan Entang Wiharso. Pameran ini digelar di Gedung Bentara Budaya,
Jalan Suroto, Yogyakarta, berlangsung selama seminggu, mulai tanggal 11
September 1993. Ong di Meja Makan Di meja makan, yang beredar bukan hanya
makanan, tapi bisa pula lalu lintas pikiran. Rabu, 8 September 1993, pakar
sejarah Onghokham akan memberikan ceramah berjudul ''Pertemuan Timur Barat di
Meja Makan'', bertempat di Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda, Jalan H.R.
Rasuna Said, Kuningan, Jakarta.
Ceramah ini adalah bagian dari serial diskusi bertema ''Empat Abad Pertemuan
Indonesia-Belanda'' yang dirancang Erasmus bersama para pakar ilmu Indonesia.
Tema ini dipilih karena sejak akhir abad ke-16 hingga kini telah terjadi
pertemuan antara orang Indonesia dan Belanda dalam berbagai aspek.
Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB ini akan diawali dengan pengantar dari
guru besar sejarah UI dan peneliti utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,
A.B. Lapian. Luka-Luka dari Kal-Sel Sanggar Budaya Kalimantan Selatan akan
mementaskan drama Luka-Luka, 10 dan 11 September, di Teater Arena Taman Ismail
Marzuki, Jakarta. Drama ini menampilkan sejumlah tokoh yang terombang-ambing
dalam ambisi kelompok yang cenderung melihat dunia ini hitam-putih.
Tokoh hitam menggambarkan kejahatan dan para tokoh putih menggambarkan
kesucian hati nurani manusia. Para tokoh simbolik ini memang sekadar
pelengkap.
Pementasan ini disutradarai Adjim Arijadi, yang sekaligus menuliskan
skenarionya.
|