Ganesha yang sempurna dan ngepop Sebuah pameran yang menarik: 30-an karya patung keramik dengan ide dasar dewa ganesha. ganesha yang dipopkan: yang santai, yang berhias, yang tersenyum, dan lain-lain. |
GANESHA, manusia bermuka gajah. Ia dewa ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan
pengusir kebatilan dalam konsep Hindu. Maka, Ganesha selalu digambarkan
bersikap dan berwajah angker. Tapi Ganesha menari, merias diri, atau Ganesha
duduk dengan santai?
Itu hanya ada di pameran karya keramik F. Widayanto, perupa lulusan Seni Rupa
ITB, di Bentara Budaya, Jakarta, sampai 29 Agustus ini. Di situ, 30-an patung
keramik Ganesha, dalam berbagai pose, dipajang. Sebuah pameran yang
dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, kurang-lebih tiga tahun, di antara
kesibukan Yanto demikian ia dipanggil sehari-hari: membuat dan menjual
tembikar fungsional, berupa barang pakai dan benda hias.
Ia melakukan riset tak kepalang tanggung. Selain mengkaji ihwal Ganesha dalam
konsep Hindu dari buku-buku, ia pun melakukan diskusi dengan beberapa ahli.
Dan, yang langsung berkaitan dengan patung keramik ini, ia melakukan studi
bentuk gajah sehingga perupa ini memahami beda gajah Asia dan Afrika,
misalnya. Juga perlu diceritakan, akan halnya bentuk gendut gajah, Yanto
mengambil referensi pemain sumo, gulat khas Jepang.
Ganesha Yanto adalah karya keramik yang mencoba melepaskan diri dari fungsi
sebagaimana biasanya. Jika pun Ganesha tetap berfungsi, itu sekadar sebagai
elemen estetik dalam interior. Dalam hal ini pun, tak sebagaimana umumnya
elemen estetik interior, sedikit-banyak Ganesha mencerminkan kadar ekspresi si
pembuatnya.
Hampir semua karya Ganesha yang dipamerkan Yanto dibiarkan berwarna natural
sesuai dengan warna bahannya, yaitu putih keabu-abuan, atau
kecokelat-cokelatan, dengan teknik pembakaran rendah tanpa glasir. Hanya ada
beberapa karyanya yang diberi sentuhan glasir. Dan itu pun sebatas pada
beberapa elemen kecilnya yang menempel pada karyanya.
Dalam beberapa hal, elemen kecil atau detail bagi Yanto merupakan hal yang
penting. Untuk itu, ia tak segan-segan memberikan perhatian yang cukup besar
dalam pengolahan detail- detailnya, bahkan secara tak sengaja kadang menyeret
kita untuk lebih memperhatikan detail: goresan, cukilan, atau tempelan dengan
motif daun dan bunga yang mengisi bidang-bidang luas pada karyanya. Kadang
objek utamanya, yaitu patung Ganesha itu, menjadi nomor dua.
Lihat saja, misalnya, karya Ganeshi Mirong Jlenggut. Kekayaan ornamen yang
membalut hampir seluruh tubuh Ganeshi itu menyedot perhatian yang sangat kuat,
sedangkan gerak dari badan objek itu sendiri tidak lagi menjadi lebih penting.
Perhatian Yanto dalam memberikan keseimbangan deformasi bentuk dan ekspresi
gerak pada objek, dengan kekayaan ornamen yang menyelimutinya, mengingatkan
pada karya seni rupa tradisional kita yang memang umumnya dihiasi dengan
ornamen. Pada pelataran seni rupa tradisional, kita banyak mengenal aneka
ragam ornamen dari berbagai daerah: Aceh, Jawa, Tapanuli, Dayak, Minang, dan
Toraja, baik pada bagian-bagian rumah, persenjataan, pakaian, maupun produk
budaya lainnya.
Keputusan memilih ornamen sebagai elemen dekorasi pada patung-patung Ganesha
ini sangatlah membantu menampilkan karakter Ganesha secara alami, dan
mengesankan karya yang cukup membumi. Lihat juga Ganeshi Ragahina, yang
mencitrakan Ganesha dengan badan yang tambun seperti hendak melahirkan, sedang
bersimpuh, dan menggunakan kain yang bermotif bunga serta daun- daun. Seperti
pada layaknya kain-kain Jawa.
Dengan penggarapan bentuk yang menyiratkan massa yang bervolume yang plastis,
sesuai dengan karakter objek dan medianya, sepintas ini memberikan kesan
sebagai karya-karya yang berhasil dalam mengadaptasi gaya dan elemen dekorasi
yang ada pada masyarakat kita yang telah kita kenal. Tampaknya, di sinilah
kekuatan Yanto dalam mewujudkan ide Ganeshanya.
Pada titik tertentu, karya Ganesha memang telah menyelesaikan persoalan,
terutama dalam hubungannya dengan masalah tema dan kemampuan teknik membentuk
yang mengikutinya. Harus diakui, patung-patung Ganesha Yanto hadir dengan
teknik yang hampir sempurna, dalam hal anatomi dan pembentukan plastisitas.
Dari sudut elemen estetis interior, tak ada masalah.
Dari segi teknis, sulit mencari kelemahan Yanto. Ia sempurna membuat simetri.
Lihat Ganeshanya yang berjudul Ladrang Mesem, umpamanya. Seolah, bila patung
itu dibelah persis di tengah, belahan kanan dan kiri bisa dikatakan sama.
Dalam Ganesha yang lainnya, kekuatan bentuk kaki, perut, sampai telinga
sama-sama sempurnanya.
Ini mengingatkan pada sebuah gambar seorang gadis, yang tiap anggota tubuhnya
digambarkan sesuai dengan pepatah yang melukiskan kesempurnaan bentuknya:
pipinya bak pauh dilayang, dagunya bak lebah bergantung, dan seterusnya.
Akhirnya, terbentuklah sebuah gambar seorang gadis sempurna tapi tak
''hidup''.
Dengan kata lain, kesempurnaan karya Yanto seolah bagian- bagian itu dibuat
secara terpisah, dengan sempurna, lalu disambung-sambung.
Tentu saja ini mungkin masalah selera. Boleh saja orang memperhatikan bagian,
dan yang lain bentuk keseluruhan. Hanya, biasanya, imaji sebuah karya seni tak
tampil dari bagian per bagian, tapi dari keseluruhannya.
S. Malela Mahargasarie
|