Perempuan di sarang penyamun Pria di korea selatan bakal ditimpa nasib buntung, sulit dapat jodoh. pengguguran kandungan terhadap janin perempuan merajalela. belum ada upaya mengimpor perempuan. |
PRIA di Korea Selatan bakal ditimpa nasib buntung. Mereka terancam sulit
ketemu jodoh karena jumlah perempuan di sana kian merosot. Dan untuk
mengatasinya, belum terdengar ada inisiatif mengimpor perempuan dari negara
lain, misalnya dari Filipina seperti dilakukan sementara petani di Jepang.
Seoul Broadcasting System awal Agustus lalu melakukan survei di sebuah
sekolah dasar di Distrik Gang-Nam, Seoul. Hasilnya, ditemukan 1.001 anak
lelaki dan hanya 836 anak perempuan. Ini boleh jadi contoh sahih mengingat di
negara itu tidak ada prioritas anak lelaki yang bersekolah. Kini pekerjaan
besar bagi pemerintah adalah menyeimbangkan jenis kelamin penduduk agar tidak
surplus lelaki.
Aba-aba menyedihkan itu mulai kentara sejak tahun 1991. Waktu itu,
perbandingan pria dan wanita adalah 112,9:100 (di Indonesia 100:100, dan
Amerika Serikat 95:100). Proporsi yang timpang ini diramalkan makin parah di
tahun mendatang. Tengok saja proporsi pada kelompok umur 04 tahun. Juli tahun
lalu tercatat 1,74 juta lelaki dan 1,54 juta cewek. Pada kelompok umur 1014
tahun ada 2,1 juta lelaki dan 1,9 juta perempuan.
Pemerintah menghitung rasio kaum lelaki dan perempuan di tahun 2000 adalah
119,4:100. Dan biro statistik di negara itu, setelah melakukan penelitian,
berkesimpulan: pada tahun 2010, perbandingan antara pria dan wanita menjadi
130:100. Ini artinya, satu di antara 4 pria usia layak kawin (antara 25 dan 29
tahun) akan gigit jari, tidak bakal kebagian cewek.
Bekas Wakil Kepala Biro Pusat Statistik (BPS) Indonesia, Soetjipto
Wirosardjono, terkejut dengan angka itu. ''Kalau rasio itu benar,
penyimpangannya sudah luar biasa,'' katanya. Di Indonesia ketimpangan jumlah
pria dan perempuan, secara keseluruhan, paling satu persen saja. Namun, ia
paham bahwa di beberapa negara terjadi penyimpangan itu karena faktor
kultural.
Itulah yang kini terjadi di Korea Selatan. Rakyat penganut Konfusius itu
percaya bahwa hanya anak lelaki yang menjadi penerus keluarga. Si buyung dan
si putri memang boleh pakai nama ayahnya, tapi yang berhak dimasukkan dalam
Cokpo (silsilah keluarga) hanya si buyung. Anak perempuan tidak masuk dalam
''pohon keluarga'' ini. Di masa lalu, lelaki dibutuhkan sebagai motor untuk
pertanian. ''Di zaman industrialisasi kini, mereka diperlukan untuk
melanjutkan nama keluarga,'' kata seorang pengamat masalah sosial di Seoul.
Akibatnya, seorang istri kini mati-matian berusaha agar ia dapat melahirkan
anak lelaki. Dan itu dimungkinkan oleh teknologi modern. Untuk menjamin hanya
bibit anak lelaki saja yang berkembang, pengaturannya itu juga sudah dikenal
di Indonesia adalah dengan memisahkan kromosom Y dari pasangannya X dalam
sperma lelaki, yang kemudian dimasukkan ke rahim perempuan lewat proses
inseminasi.
Namun, inseminasi itu tidak memberi jaminan 100% mendapatkan janin lelaki. Di
luar itu, banyak yang kecewa karena jabang bayi dalam kandungan istrinya
hasil hubungan alamiah itu hanya berkelamin perempuan. Karena pendeteksian
jenis kelamin itu kini bisa dilakukan sejak dini, merajalela pula pengguguran
kandungan.
Dalam suatu penelitian, diketahui bahwa sepertiga dari 11,5 juta kasus
pengguguran setahun dilakukan karena janinnya perempuan. Satu media cetak di
Seoul menulis ada seorang ibu rumah tangga berusia 36 tahun yang, masya Allah,
pernah menggugurkan kandungannya sampai tujuh kali.
Di Paju, Provinsi Gyonggi, malah ada yang tragis. Kim Misuk (bukan nama
sebenarnya), 35 tahun, tega membunuh bayinya. Dua kali ia melahirkan anak
perempuan, dua kali pula anak itu dibenamkan dalam air. ''Mertua memarahi saya
karena melahirkan anak perempuan,'' kata Kim. Tragedi serupa juga terjadi di
Distrik Kangse, Seoul. Lee Sook He, begitu saja kita sebut, menghabisi bayi
perempuannya setelah anak itu berumur tiga bulan.
Pilihan lain bagi pendamba bayi lelaki itu adalah memohon ke tempat keramat.
Pembantu TEMPO di Seoul, Chin Hea Ryeon, mewawancarai beberapa peziarah
Batu-Gat di Provinsi Kyong-buk, Batu Sun di Gunung In-wang, dan Batu Mirek di
Ga-pyong. Para peziarah yang kebanyakan perempuan itu memohon agar mendapat
anak lelaki.
''Keluarga suamiku bukan hanya berharap, tapi memerintahkan, saya punya anak
laki-laki,'' kata Kim Eun-young, 29 tahun, seorang dari peziarah tadi. Selain
itu, ia juga harus rajin minum jamu yang dibeli mertuanya. Harganya mahal,
tiga juta won (sekitar Rp 7,6 juta), untuk ramuan yang mesti diminumnya selama
sebulan.
Perbuatan takhayul juga berlangsung di tengah Kota Seoul. Yakni, gigi taring
dua patung harimau di jembatan Han Nam sering hilang. Menurut kepercayaan,
gigi harimau itu mujarab untuk memberi anak lelaki buat si pencurinya. Meski
kini gigi itu sudah dibuat utuh kembali, hampir pasti tak lama lagi patung itu
bakal ompong lagi.
Menurut survei tadi, rekayasa untuk mendapat anak lelaki mulai menjadi-jadi
pada kehamilan kedua kendati ini melanggar program keluarga berencana di
Korea Selatan, yang hanya boleh punya dua anak saja. Dari sebuah penelitian
terlihat anak ketiga 63% laki-laki, dan 66% anak keempat adalah lelaki.
Padahal, secara alamiah mestinya angkanya sekitar 50%, baik untuk anak
pertama, kedua, maupun seterusnya.
Mungkin kelak baru disadari bahwa ketimpangan itu membawa bencana. ''Lelaki
lebih agresif terhadap wanita,'' kata dosen antropologi Universitas Seoul,
Chun Kyong Soo. Dan seperti di sarang penyamun, bayangkan apa jadinya
perempuan itu nanti.
Bunga Surawijaya dan Seiichi Okawa
|