Berpikir ala landa Landamatics menjanjikan program latihan kerja singkat dan efektif. untuk pelatihan dengan metode konvensional memakan waktu 4-6 bulan, dengan landamatics hanya butuh 2-3 minggu. |
Di zaman sumber daya manusia jadi prioritas, berbagai model pelatihan
karyawan bakal laku dijual. Apalagi bila latihan berlangsung singkat, tapi
hasilnya maksimum. Salah satu di antara model pelatihan itu adalah
Landamatics, yang menjanjikan program latihan kerja singkat dan efektif. Untuk
sebuah pelatihan dengan metode konvensional memakan waktu 4-6 bulan, dengan
Landamatics hanya butuh tempo 2-3 minggu. Senin pekan lalu, program pelatihan
itu diperkenalkan Dr. Lev N. Landa, penemu Landamatics, kepada Menteri P dan K
Wardiman Djojonegoro.
Landamatics sebenarnya bukanlah temuan baru. Landa, 64 tahun, menemukannya
sejak 1955, dan temuan itu disebutnya Algorithmic- Heuristic Theory and
Method. Tapi, metode yang menerapkan algoritma (deret bilangan) sebagai urutan
berpikir ini berkembang luas setelah Landa beremigrasi ke Amerika Serikat pada
1976. Hingga kini, menurut doktor psikologi yang menyelesaikan S1-nya di
Universitas Leningrad itu, Landamatics sudah diterapkan di banyak negara
Amerika dan Eropa. Pelanggannya antara lain perusahaan Samsung, Citibank South
Dakota, Starnet Corp., Du Pont Co., Allstate Insurance Co., dan Bain & Co. Di
Asia, Landamatics masih asing. ''Indonesia adalah negara Asia kedua, setelah
Jepang, yang saya perkenalkan dengan temuan saya,'' kata Landa, yang buku dan
temuannya sudah diterjemahkan ke dalam 15 bahasa.
Metode latihan Landamatics, menurut Landa, berupa seperangkat instruksi, yang
bila dijalankan secara bertahap akan sampai pada satu pemecahan masalah
seperti diinginkan. Bentuk tahapan itu jika dibagankan seperti decision tree
sebagaimana pohon faktor dalam algoritma yang pada dasarnya merupakan
penggambaran proses pengambilan keputusan oleh seorang ahli. Misalnya, dalam
menentukan kelayakan seseorang untuk mendapatkan pinjaman bank, algoritmanya
memberikan instruksi bertahap yang harus diikuti agar bank bersangkutan tidak
mendapatkan calon nasabah yang salah.
Penemuan itu berawal ketika Landa masih duduk di SMP. Ia, waktu itu, merasa
ada kelemahan dalam metode pengajaran yang diterapkan gurunya. ''Yang mereka
ajarkan itu ternyata adalah hasil berpikir, bukan proses berpikir,'' ujar
Landa. Indikasinya, guru menerangkan sesuatu sering sekali menggunakan
kata-kata seperti, ''Jelas kan bahwa ...'' atau ''Kita tahu kan bahwa ...''
Kata Landa: ''Itu jelas untuk siapa? Jelas bagi guru kan belum tentu jelas
bagi murid.''
Dari kegalauan itu Landa terus mencari tahu bagaimana sebetulnya proses
berpikir tersebut berlangsung, bagaimana tahapannya, lalu apa saja yang
terjadi pada setiap tahapan. Kesempatan untuk bereksperimen itu terjadi ketika
Landa menyelesaikan program doktornya di Institut Psikologi Umum dan
Pendidikan Moskow. Caranya, ia menggali proses berpikir seorang ahli melalui
diskusi intensif dengan orang itu. Setelah selama kurang lebih 1,5 tahun
melakukan percobaan (1953-1955), Landa pun menemukan proses kerja dan
berpikir, yang kemudian dijabarkannya dalam algoritma.
Apakah metode itu benar-benar mujarab? Landa mengambil bukti hasil proyek
pelatihan kerja untuk petugas pelayanan nasabah di Citibank, South Dakota,
yang ditanganinya sekitar lima tahun silam. Untuk sebuah soal yang harus
dikerjakan dalam jangka 5 menit, ujar Landa, dengan cara kerja konvensional
sebanyak 40% karyawan tidak bisa menyelesaikan soal yang disodorkan. Dan dari
peserta yang bisa menyelesaikan soal itu, tingkat kesalahannya mencapai 60%.
''Dengan Landamatics, tak seorang pun peserta yang tidak mampu menyelesaikan
soal itu, juga tak seorang pun yang melakukan kesalahan. Bahkan, soal yang
sama tersebut selesai dipecahkan dalam waktu 2,9 menit,'' lanjutnya.
Setelah mendengar penjelasan Landa, Menteri Wardiman langsung minta agar 200
karyawan Departemen P dan K ikut program Landamatics. Rencananya, awal
November mendatang Landa akan kembali ke Indonesia untuk ''buka praktek''.
Achmad Kalla, Wakil Presiden PT Bukaka Teknik Utama, yang mendatangkan penemu
Landamatics itu, mengaku sudah merasakan manfaat langsung dari metode
Landamatics. Selama ini ia merasa sulit menyampaikan apa yang dimaui kepada
stafnya. Setelah dua hari berdiskusi dengan Landa, Kalla mencoba mempraktekkan
metode Landamatics pada tiga stafnya selama tiga minggu. ''Saya menguraikan
jalan pikiran saya kepada mereka. Dua papan tulis habis untuk membuat
diagramnya. Saya sendiri kaget, ternyata jalan pikiran saya begitu kompleks,''
katanya. Dari flowchart yang disusun, mereka mencoba membuat keputusan seperti
yang dilakukan Kalla. Hasilnya? ''Mereka mengambil keputusan yang persis sama
seperti saya,'' ujar Kalla.
Landa juga sempat memperkenalkan metodenya kepada para sekretaris unit-unit
utama di Departemen P dan K. Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah,
Z.A. Achmady, yang hadir dalam acara itu, mengaku terkesan dengan Landamatics.
Dengan metode ini, katanya, seorang guru akan menempatkan diri sebagai orang
yang sedang belajar. Dengan begitu, si guru akan lebih memahami kesulitan yang
dihadapi muridnya. Tapi Achmady cepat menyambung, ''Yang menentukan
keberhasilan pengajaran itu tidak semata-mata metodenya. Kesungguhan guru
sering kali juga turut menentukan.''
Ardian T. Gesuri dan Sri Wahyuni
|